6. Maaf, Ma!

1684 Kata
'Tambah cantik.' Berulang kali aku membaca komentar dari Dokter Rehan. Di foto yang baru saja aku upload di media sosial. Setelah melepas blokiran, kami mulai saling like status maupun foto dengannya. Sesekali kami berbalas komentar, seperti saat ini. Namun, rasanya tak seperti biasa. Dulu, aku senang sekali kala dipuji olehnya. Sekarang, entah ... hambar. “Aku nggak pacaran sama Alisa.” Begitu katanya, saat dalam perjalanan mengantarku pulang. Ada yang salah dengan hati. Tak peduli sekian lama hati ini sudah dihuni. Namun, cinta itu terganti dengan yang selalu ada menemani. Karena saat separuh hati pergi, lalu tak ada kesempatan untuk kembali. Maka pilihan terbaik adalah membiarkannya terganti. Cinta itu bukan tentang logika. Kita tak akan pernah tahu, akan menjatuhkan hati pada siapa. Setengah mati aku menolak memikirkan sepupuku, tapi perasaan ini tak mampu kukontrol. Yang menyakitkan lagi adalah, saat hati memilih, tapi orang itu hanya menganggap adik. Nyesek. Aku duduk di sofa, melirik seseorang yang baru saja duduk di hadapanku, Tante Yasmin. "Eh, Ma." “Bosan, nggak di rumah terus?” Aku meletakkan ponsel dan menegapkan tubuh. Lalu dengan tulus tersenyum. "Udah biasa kok, Ma." "Kamu nggak punya niat lanjut kuliah atau berkarier, gitu?" "S1 aja untung-untung lulus." Pada dasarnya belajar dan bekerja di bawah tekanan bukan passion-ku. Aku bukan perempuan yang cerdas, tapi kuliah hanya bermodal kemauan. Memikirkan Oma yang susah payah membiayai. Jadilah lulus dengan nilai pas-pasan. Lalu tentang karier, aku tipe orang yang tidak suka dengan aturan. Stress kalau ditekan. Aku pernah bekerja di kafe, milik saudaranya Mama. Kadang membantu memasak dan belajar membuat kopi, itu sangat menyenangkan. Seperti menemukan jati diri. Namun sayangnya, Om Heru tidak memperbolehkan anak perempuan kerja di kafe. Alasannya karena pergaulannya tidak bagus, sebab sering kerja sampai malam. "Kemaren habis lulus sempat kerja di kantor, ‘kan?" "Iya, cuma nggak bertahan lama. Nggak betah." Aku terkekeh. Mama mengangguk, "mau jadi ibu rumah tangga aja, nih?" "Hu'um," jawabku. "Biasanya wanita muda itu, mikirnya karier. Sama kayak Mama dulu." "Mau kuliah otak nggak sanggup, kerja juga udah punya suami. Ibu rumah tangga pun juga keren, ‘kan?" Mama mengangguk, "bener juga!" Pikiran tentang Amira seketika berkelebat di benak. Mungkin tak mengapa, kalau bertanya pada Tante Yasmin. Lagi pula kondisinya juga sudah dingin. "Ma, cerita Mbak Amira itu gimana sih?" tanyaku hati-hati. Mama tertegun sejenak. Aku tahu mengingat ini sama saja mengulik luka, tapi aku sangat ... amat penasaran. "Mama nggak tahu gimana pastinya. Awalnya pas melamar, ya baik-baik aja. Si Ibu menerima dengan baik. Tapi jadi aneh saat menjelang pernikahan. Seolah hanya Ibu yang mau, si anak setengah hati.” Aku hanya diam, mendengarkan. "Ibunya, minta Ivan cepat-cepat menikah dengan Amira. Nah ... saat dilamar, dia bilang nggak mau nikah di rumahnya. Lucu kan?" Aku mengangguk. "Jadilah nikahnya di gedung, yang kemarin itu. Jaraknya tuh, lumayan dekatlah dari rumahnya. Tapi ...." Mama mengedikkan bahunya. Tak meneruskan kalimatnya. "Kira-kira motifnya apa, Ma?" "Entahlah. Mungkin sengaja mau bikin malu, pokoknya dia itu sudah bikin hidup Ivan kacau!" "Kasian Mas Ivan." Aku membuang nafas kasar. "Pilihan Ivan mau menikah sama kamu itu sangat tepat." Aku tersenyum miring. Memang tidak ada jalan lain saat itu. Hingga sekarang menjalaninya sangat sulit. "Gimana hubungan kamu sama Ivan?" "Hah? Baik kok, Ma." "Masih belum, ya?" Aku terhenyak dengan pertanyaan Mama, mengerti arah pembicaraannya. "Nggak boleh gitu, Amanda, kamu paham ‘kan kalau ini salah?” kata Mama saat melihatku tersenyum kecil. Seakan mengerti apa yang tengah terjadi meski aku tak menjawab. "Tapi rasanya aneh, Ma." Aku menggigit bibir. "Aneh gimana? Sudah dua minggu sekamar, kalian normal?" "Iya, rasanya geli. Mas Ivan itu kakaknya Amanda." Mama menggelengkan kepala. "Kalau memang nggak bisa, jangan teruskan lagi pernikahan ini. Hentikan sekarang juga! Pisah! Kalian pikir pernikahan itu buat main-main, hah?" Mama menatap dengan kilat mata yang tajam. Entah marah atau kecewa, mungkin juga keduanya. Aku terdiam. Ada denyut nyeri dalam d**a mendengar kata pisah. "Hei, kalian sudah dewasa, sedangkan anak kecil zaman sekarang pun mungkin sudah paham apa artinya menikah. Lalu kalian? Ya Allah!" Mama tampak sangat syok. “Ah, terserahlah!” Lalu Mama berlalu pergi menuju kamarnya. “Maaf, Ma,” gumamku lirih. Aku sadar kalau semuanya memang salah. ** Malam hari. Aku mengamati Mas Ivan yang berbaring di sampingku, tapi masih dengan jarak yang jauh. Belum ada kemajuan sama sekali. Padahal sudah tiga minggu tidur di ranjang yang sama. Aku mendesah, rasanya sangat berat. Mengingat Mama hingga sekarang masih mendiamkanku. Padahal aku sudah berusaha untuk mencari simpati mertuaku itu. Dari membersihkan rumah sampai ke halaman hingga masak sekaligus cuci piring. Setelah pengakuanku hingga seminggu ini Mama masih betah mendiamkanku. Saat aku memasak untuk keluarga. Makanannya dimakan, tapi aku seperti tak dilihat. “Enak, nggak, Ma?” tanyaku. Namun, Mama tak menjawab. Saat Mama mencuci piring. “Sini, Ma. Biar Amanda aja.” Piringnya Mama tinggal, akunya tetap dicuekin. Kemudian aku mencuci piring sambil mewek. Ah, jadi menantu itu serba salah. “Mas,” panggilku pada Mas Ivan. “Hm.” Mas Ivan menoleh. "Aku kangen Oma. Besok boleh pulang, nggak?" "Nginep?" Aku mengangguk. "Boleh, kata Dilan kangen itu, berat." "Kalau gitu, Mas nggak boleh kangen." Dia menatapku sebentar, samar ia tersenyum. Lalu kembali melihat ponselnya. "Mas punya janji sama aku. Mana?" Aku menadahkan tangan padanya. Mas Ivan mengerutkan kening melihatku, "apa?" "Cincinku." "Besok ya." "Perasaan setiap ditanya besok-besok terus. Sebenarnya pernikahan bagaimana, yang kita jalani sekarang, Mas?” Mas Ivan diam. Menatapku dengan entah, sulit diartikan. “Mas nggak serius sama pernikahan kita, ‘kan?" Kali ini hanya helaan nafas panjangnya yang terdengar. Aku menatap langit kamar, merenung. Sebenarnya impianku itu ingin memiliki rumah tangga seperti orang tuaku. Saat Papa meninggal dunia, Mama tetap setia hingga nyawa terpisah dari raga. "Papa nggak akan terganti dengan siapa pun juga, sayang." Mama selalu bilang begitu, padaku. Kisah yang manis. Mungkin bukan hanya impianku, semua orang pasti menginginkannya. Masalahnya, nasib pernikahan ini, aku sendiri tak tahu. Mas Ivan seolah tak serius. Aku mengerti, semuanya sangat sulit. Ia yang sedang kecewa dan patah hati, bagaimana mungkin membuka hati semudah itu, apalagi dengan adik sendiri. Pasti sulit! "Mas, sepertinya harus kita pikirkan baik-baik, bagaimana kelanjutan pernikahan ini. Aku ngerti, kalau Mas nggak bisa menerimaku." Aku terkejut, saat ia menyambar tanganku. "Kamu menyerah semudah itu?" Manik hitamnya menatapku lekat. "Mas sendiri, yang membuatku ragu." "Cuma karena cincin atau ...." "Apa?" tanyaku, mengernyit. "Karena kita belum melakukan sesuatu?" Seketika ingatan beberapa hari yang lalu saat di dalam mobil, berkelebat. Aku pernah memberikan kode masalah ini padanya. Aku sontak menarik tangan, tapi ia makin mempererat genggamannya. "Kasih Mas waktu, please!" Mas Ivan memohon. Kami saling menatap sangat dalam. Dari tatapannya dan raut wajahnya, aku melihat keseriusan di sana. Tak bergurau seperti biasanya. "Tangan kamu dingin." Ia menahan senyum, sembari melihat telapak tangan yang berkeringat. Aku menarik tangan seketika. "Aku kedinginan," kataku berusaha menepis kecanggungan. "Kedinginan, tapi keringatan." "Aku lagi nggak mau main-main!" kataku serius. "Yang ngajak main siapa?" godanya, sudut bibirnya berkedut. "Mas!" seruku. Mas Ivan tertawa pelan. Begitulah hampir di setiap malam kami. Waktu berminggu-minggu habis dengan kekonyolan. Lucu, memang. Biasanya pengantin baru akan bermesraan, sedang kami berpegangan tangan pun canggung. ** Aku hendak ke dapur, menyiapkan sarapan. Namun, saat melewati ruang makan tampak Mama duduk sendirian. Lalu aku berjalan mendekat. "Ma," panggilku pada Mama yang sedang menikmati segelas teh panas. Mama diam, masih enggan melihatku. "Ma jangan gini, Amanda jadi nggak enak. Marah aja, kalau Mama mau marah,” ucapku pelan, sembari duduk di sebelahnya, berharap ia akan melunak. "Terus harus gimana, apa Mama harus seneng liat kelakuan kalian? Apa kamu nggak lihat Amanda, banyak pasangan yang sudah hamil sebelum menikah. Dan kalian malah ... Ya Allah." Mama menggelengkan kepala, "dunia sudah terbalik." Aku menggigit bibir, mata sudah memanas saat ini. Diomeli itu rasanya sangat tidak enak. Namun ini lebih baik, dari pada didiamkan. "Nggak seharusnya kamu bilang geli, sama suami sendiri. Semua itu tipu daya setan. Kamu ngerti, nggak?" "Maaf, Ma," kataku menunduk. Mama mengembuskan nafas kasar. “Kamu tau kalau ini salah, ‘kan? Lalu sekarang masih belum mandi juga?” Aku menggigit bibir, orangtua memang tak bisa dibohongi. Sangat peka permasalahan anak-anaknya. "Amanda memang salah, maaf, Ma." “Masih beralasan kalau semuanya nggak mudah, seperti kemarin? Makanya saat ini masih belum juga berhubungan dengan suami sendiri? Dia suami kamu, bukan lagi Masmu seperti dulu.” Diam-diam aku menghapus air mata. “Nggak seharusnya bilang geli sama suami kamu. Itu aib ranjang, Amanda." "iya, Ma." "Ini salah! Kalian, kalau masih belum bisa juga, pisah! Mumpung pernikahannya belum didaftarkan." Deg! Lagi-lagi hati ini nyeri, seperti disayati belati. Pedih. Hingga air mata ini semakin lama bertambah deras. Aku mengusap wajah dengan tangan. Aku mengangguk. “Jadi belum didaftarkan, ya?” Suaraku bergetar. “Berusahalah, gimana caranya biar Ivan melihat kamu sebagai wanita.” Suara Mama memelan. "Iya, Ma." "Kalau memang nggak bisa, jangan dilanjut lagi!" tegasnya. Aku mengangguk, mengiyakan. “Boleh Amanda pulang?” “Terserah kamu!” katanya terdengar tidak peduli. “Amanda butuh waktu untuk memikirkan semua ini.” Aku menatap Mama. “Ya sudah.” Mama terdengar pasrah. *** Tante Yasmin, memang bicaranya ketus. Terlalu apa adanya, suka bilang suka, tak suka ya ... akan ia katakan juga. Terkadang tidak memikirkan perasaan lawan bicaranya. Namun hatinya baik, ia sangat tulus. Walaupun begitu, lidah itu lebih tajam dari sebilah pedang, bukan? Kalau sudah melukai hati, mungkin bisa sembuh, tapi akan tetap membekas. Hingga sangat lama. Berusaha bagaimana cara agar Mas Ivan melihatku sebagai wanita. Begitu kata Mama. Lalu apa artinya pernikahan ini bagi mereka? Kalau tidak ada yang menguatkan, karena tidak sah di mata hukum. Tidak ada bukti dokumen hitam di atas putih. Artinya kami hanya dinikahkan sirih, yang kapan saja harus siap untuk berpisah. Sekitar pukul lima sore tadi aku berada di rumah Oma. Selama menjadi istri Mas Ivan, ini pertama kali aku melewati malam sendirian. Saat ini aku tak bisa tidur. Bayangan bersama Mas Ivan tiga minggu ini selalu hadir di benak. Hei, aku sudah sering jauh darinya, bukan? Dulu memang seperti ini, aku tidur di kamar ini dan Mas Ivan tidur di rumahnya. Sekarang pun sama saja, bahkan mungkin nanti kami akan berpisah. Aku harus terbiasa dengan rasa ini. Rasa di mana ... aku merindukannya. Priaku, suamiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN