Walau takdir tidak seperti yang kita impikan, tapi ritme kehidupan akan terus berjalan. Saat semua cerita sudah selesai, semua akan kembali seperti semula. Aku dengan kehidupanku dan Mas Ivan kembali lagi menjadi saudaraku. Ah, bukankah saat ini pun begitu, aku hanya adik di mata suamiku? Poor, me!
Begitu pula dengan perasaan ini. Walau tak mudah seperti yang sudah-sudah, cinta itu akan berganti lagi, mungkin. Kalau tidak? Mau tak mau ya, harus menahan sakit lagi.
Pagi ini aku malas gerak, karena mood yang buruk disebabkan oleh rasa kantuk. Sekarang aku duduk di bibir kasur, dengan tangan menggenggam erat ponsel, menunggu Mas Ivan memberi kabar. Nihil. Tak ada panggilan, sekali pun hanya satu pesan. Apa dia tidak merindukanku? Seperti aku yang semalam suntuk kesulitan tidur, karena rindu yang menyiksa.
Aku menoleh ke arah pintu yang terbuka, memastikan siapa yang masuk. Benar dugaanku, seorang wanita tua berjalan mendekat. Oma.
"Ivan belum jemput?"
"Mas Ivan sibuk, Oma. Hari ini pasti kerja."
"Kemarin, siapa yang anter?"
"Abang ojek, Oma sehat?" Aku meletakkan ponsel di sisi. Saat sore kemarin pulang, baru pagi ini sempat mengobrol dengan Oma.
"Alhamdulillah, eh ...." Oma duduk di sebelahku, "kamu ke sini bukan karena lagi ada masalah di sana, kan?"
"Nggak lah, Oma."
"Baik-baik Cu, jangan bikin ulah!"
Aku tersenyum, lalu melingkarkan tangan di pinggang Oma. Mencurahkan rindu, juga penat di d**a. Ternyata hidup di luar sana juga sulit, sangat tidak mudah dan rasanya ingin menyerah. Tak ada bedanya dengan rumah ini. Malah di sana jauh lebih sakit, rasanya.
"Amanda kangen.”
Oma menepuk lembut punggung, seakan mencurahkan cinta dan rindu. Hal yang tidak pernah kudapat, dari orang lain, bahkan orang tua sendiri. Nyaman dan hangat. Andai semua orang bisa menerimaku seperti beliau.
"Oma sudah sarapan?" tanyaku melepas dekapan, terlihat bulu mata lentik Oma basah.
"Loh, kok nangis?" Aku mengulurkan tangan mengusap pipi yang keriput, sebab dimakan usia.
"Oma kepikiran kamu terus. Takut kalau kamu di sana enggak bahagia."
Aku tersenyum semringah. Seakan menyatakan bahwa semua baik-baik saja. Amat pilu hati ini, melihat wanitaku menangis.
"Amanda baik-baik aja, di sana Amanda disayang. Mama ‘kan, nggak punya anak perempuan, jadi perhatian banget apalagi sama Amanda."
Oma mengangguk, "Oma sudah tua, Nda. Sekarang sudah tenang. Artinya kamu sudah ada di tempat yang tepat. Enggak salah keputusan Oma menikahkan kamu dengan Ivan, di sana pasti kamu diterima dengan baik."
“Ah, Oma." Aku memeluknya.
Begitulah cinta Oma padaku, hingga terkadang membuat cucu beliau yang lain iri. Saat mereka menuntut keadilan dari Oma, beliau akan bilang ....
"Ini sudah sangat adil. Kalau bukan Oma yang menyayangi Amanda, siapa lagi?”
***
Di ruang makan, semua keluarga berkumpul menikmati makan malam. Cuma Om Heru yang belum muncul, mungkin sedang ada lembur. Beliau memang pekerja keras. Karena sebelum menikah aku juga jadi tanggung jawab beliau, setelah Opa tiada tiga tahun lalu.
Suasana makan malam pun dingin. Sesaat hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring. Hingga Tante Diana berdehem, memecah kebisuan.
“Ivan belum jemput, Nda?” tanya Tante Diana.
“Belum, kayaknya,” jawabku.
“Ada masalah?” tanyanya kemudian.
“Ah, enggak, kok. Amanda cuma kangen sama Oma.”
"Gimana rasanya nikah sama Mas Ivan?" tanya Mbak Vita.
"Untung banyak, dong. Amanda kek menang lotre," celetuk Alisa antusias, tampak sangat bahagia.
Aku menanggapinya dengan senyuman. Sabar, Amanda, kamu kuat!
"Rasanya, aku ikut bahagia ... banget, aku dukung seribu persen," kata Alisa lagi.
"Apa Mas Ivan beneran mau sama Amanda? Takutnya sih ...."
Oma berdehem, memotong ucapan Mbak Vita. Membuat suasana kembali kaku.
"Mas Ivan baik, kok. Baik banget malah," selaku. Menjaga perasaan wanitaku itu.
"Kamu nggak lanjutin pendidikan atau mau berkarir, gitu. Biar pantes aja, mendampingi Masku. Mas Ivan itu cerdas, mapan lagi." Mbak Vita lagi-lagi menyindirku.
Aku sudah terbiasa begini, makan hati. Disindir, diskriminasi sudah seperti ulam makan. Kalau bukan karena kangen dengan wanitaku, malas sekali rasanya pulang ke rumah ini lagi.
Baper? Enggaklah. Sudah biasa, ‘kan?
Aku meletakkan sendok, seraya menghela nafas. Sementara mata ini mulai panas, semakin lama pandangan ikut mengabur. Karena bulir yang mengaca di pelupuk mata.
"Amanda selesai."
Aku meninggalkan meja makan, pergi ke kamar. Lalu menelungkup di kasur, mencoba kuat. Tegar, seperti biasanya. Tak ada yang membela itu sudah biasa, ‘kan? Namun tetap saja rasanya sakit, hingga air mata meluncur begitu saja. Semakin lama bertambah deras. Diikuti dengan isak tangis.
Makan hati, sedih, sesak berkecamuk dalam d**a.
"Mama ... Papa, Amanda kangen. Andai Mama masih ada, sekarang pasti ada yang membela," gumamku sambil terisak.
Dadaku berguncang karena tangis. Meluapkan semua sesak di d**a.
Aku tersentak, saat terasa sentuhan lembut di pundak, cepat aku menghapus air mata. Lalu duduk melihat Oma, tapi bukan. Bukan! Dia orang yang semalam menyiksaku karena rindu.
“Mas Ivan?” Aku menatap tak percaya.
Dia duduk di bibir kasur, membuka lebar kedua tangannya. “Nangis di sini. Zona bebas stres.”
Tanpa ragu aku menghambur padanya, menghirup dalam aroma maskulin khasnya.
“Ada masalah?” tanyanya sambil mengelus rambutku. Seketika aku membeku, ada sensasi luar biasa yang aku rasakan saat ia membelaiku. Mendebarkan sekaligus menenangkan. Berasa ada kupu-kupu yang menggelitik perut disertai hati yang berbunga-bunga Ternyata pelukan orang yang kita cintai, mujarab menghilangkan semua rasa sakit.
Mas Ivan masih membelai rambutku lembut. Sepertinya dia tidak tahu, kalau hatiku jungkir balik dibuatnya. Tadinya sakit, sekarang mendadak bahagia. Aku tersenyum, senyuman khas orang sedang kasmaran. Apa-apaan ini?
"Kamu udah bilang semua tentang kita sama Mama."
Aku terhenyak, "Mama bilang apa?"
"Mama mau kita menyelesaikan semuanya." Kemudian terdengar ia menghela nafas panjang.
Aku mendorong dadanya, melepaskan dekapan. Aku terperangkap di sepasang mata itu, ada rasa tidak rela dan takut kehilangannya saat ini.
"Lalu?" tanyaku ragu.
"Kamu mau nuruti Mama?"
"Pisah, maksud Mas?"
Mas Ivan mengerjap.
Hening sangat lama, hanya mata kami yang beradu tatap. Kukatakan lewat mata ini bahwa 'aku mencintaimu, Mas. Aku merindukanmu.'
Entah ia akan mengerti atau tidak perasaan yang tak sanggup diucapkan oleh bibir. Sebab tercekat di kerongkongan. Teringat kata-kata Mbak Vita tadi, kalau aku tidak pantas untuknya.
“Mungkin Mama benar, Mas. Berpisah jalan yang terbaik.” Aku melempar pandangan ke samping. Kata-kata itu terlontar begitu saja, beriringan dengan air mata yang meluncur.
Mas Ivan mengulurkan tangan dan menghadapkan wajahku padanya. Lalu dia menghapus jejak basah di pipi. Kemudian mengangkat daguku lembut dan mendekatkan wajahnya.
Refleks aku memejamkan mata, saat jarak kami semakin dekat. Hingga terasa bibir kami bersentuhan. Geli? Tidak sama sekali. Malah ada debar yang menyenangkan di dalam d**a.
Ya Tuhan apa ini? Mas Ivan menciumku?