Mas Ivan kembali menarik wajahnya. “Benar-benar mau pisah?” tanyanya sambil mengangkat alisnya. Cepat aku menggeleng. ** Pagi. Aku mengeringkan rambut yang basah dengan handuk. Sambil tak berhentinya tersenyum. Hati serasa berbunga-bunga, karena bahagia yang menyelimuti. Ingatan kejadian manis dan konyol semalam membuatku mengekeh geli sendirian. Mas Ivan yang mencari doa di google sebelum beribadah. Kemudian menghapalnya. Lalu setelahnya, ia terlihat sangat canggung. Bayangkan saja, bagaimana dia diharuskan menggagahi adik sendiri. Dia pasti merasa aneh. Saat kami tak sengaja sama-sama ingin mengambil selimut. “Yaudah kamu aja, Mas mau ke kamar mandi dulu.” Lalu ia pergi dan entah jam berapa lagi masuk ke kamar. Karena aku yang kelelahan, sudah tidur lebih dulu. Saat pagi ini aku

