Aku duduk di sofa ruang tamu, membuka lembaran album foto pernikahanku. Mengamati wajah Mas Ivan, saat itu ia tersenyum. Bukan, lebih tepatnya terpaksa senyum. Mas Ivan sangat pandai menyembunyikan luka, nampak sangat tegar. Aku yakin hingga saat ini, dia masih patah hati. Sampai sekarang pun, ia belum mengganti cincin yang kekecilan. Padahal itu adalah maharnya, saat menikahiku. Artinya, ia memang belum menerimaku sepenuhnya. Pasti ada alasan kenapa ia mempertahankanku. Tapi apa? "Papa bener nggak tau Ivan kemana?" tanya Mama pada Papa, yang duduk di hadapan. "Nggak tau, Ivan nggak ngasih tau." "Amanda," panggil Mama. "Hm?" Aku menoleh pada Mama yang duduk di sampingku. "Ivan nggak nelpon atau chat? Ngasih kabar, kenapa sampe sekarang belum pulang?" tanya Mama. Aku menggeleng. Ha

