Hari yang cerah di akhir pekan. Aku mengayun langkah, keluar dari rumah. Mengenakan gamis dan jilbab panjang, yang kubeli waktu itu. Kesan pertama yang kurasakan ialah kenyamanan. Walau memang sedikit gerah, wajar. Mungkin karena belum terbiasa. Mas Ivan sudah pergi bersama Mas Alfin juga Nisa. Untuk pengepasan baju pengantin. "Bukan mahram, nggak boleh pergi berduaan." Begitu kata gadis itu, saat kuminta Mas Ivan tak pergi bersama mereka. Agar sepupuku itu bisa menemani ke makam Mama dan Papa. Ah ... Nisa, kenapa rasanya aku cemburu padanya? Cemburu karena ia lebih baik, sebagai seorang perempuan. Menjaga aurat, tak mau berduaan bersama seorang yang bukan mahramnya. Padahal jelas sudah, Mas Alfin itu calon suaminya. Apa aku bisa istiqomah memakai pakaian ini? Tak hanya mengenakannya ka

