“Akhrinya lu keluar juga.” Arion memasukkan gawainya ke saku celana tanpa menjawab pertanyaan Letta.
“Lu bolos?” Letta kembali bertanya dengan sedikit membentak.
“Sekali-kali biar bisa ketemu lu.”
“Kan bisa nanti sore atau besok-besok pas lu masuk pagi!”
“Hmm, ngomong-ngomong jangan ngomong ‘lu – gue’ lagi deh, ‘aku – kamu’ aja biar makin mesra,” kata Arion sembari melepas helm di jok belakangnya.
Gadis itu tersipu malu, padahal tadi dia ingin sekali memarahinya karena membolos. Namun belum sempat menjawab, Ruri menghampiri dan berbisik pada Letta untuk dikenalkan. Gadis itu lupa kalau Ruri masih penasaran dengan Arion.
“Emm ... Yon, ini Ruri temen kelas gue. Ri, ini Arion,” ucap Letta dengan santainya.
Arion hanya menatap sinis dari balik topinya dan mengangguk. Tapi, tangan Ruri sudah telanjur terangkat untuk bersalaman. Pria itu malah meraih tangan Letta dan membuatnya bersalaman dengan Ruri. Gadis ideal nan cantik itu jadi kebingungan menatap Arion dan Letta bergantian. Jangankan Ruri, Letta pun heran dibuatnya dan hanya bisa tersenyum garing.
“Ah, sorry ya, Ri. Dia emang gitu, becanda. Hehe ....”
“Oh, iya gak apa-apa. Kalo gitu gue pulang ya, Let?” kata Ruri dengan wajah kecewa dan malu bercampur jadi satu.
Letta bingung harus bagaimana, kemudian Dhira menghampiri.
“Kalian mau pulang bareng? Kalo gitu gue pulang duluan ya, Let?” tanya Dhira.
“Iya, hati-hati lu!” seru Arion mewakili Letta dan hanya ditanggapi lambaian oleh Dhira yang berjalan menjauh.
“Arion Agara! Lu jutek banget sih sama Ruri?! Sama Dhira aja nyapa. Aneh!” bentak Letta.
Arion memakaikan helm ke kepala Letta sembari menjawab pertanyaannya dengan datar.
“Gue gak suka sama orang yang ngenalin lu ke cowok lain selain gue,” katanya.
“Lu inget dia?”
Arion mengangguk dan menunjuk Aliyah juga Ruri yang sudah berjalan jauh. “Sama cewek yang aga ... hmm ... itu juga tuh.”
Letta malah tersenyum karena Arion masih sopan untuk tidak mengejek seorang perempuan meski dia tidak menyukainya.
“Eh, kenapa ngomong ‘Lu-gue’ lagi sih? Aku-kamu dong!” ucap Arion.
“Ih, enggak ah! Aneh!” tolak Letta meencengkeram bahu kiri Arion untuk tumpuannya naik ke atas motor. Sedangkan pria itu hanya mendengus kesal.
Mereka pun beranjak dari sana entah ke mana, Letta tidak bertanya karena dia berpikir Arion hanya akan mengantarnya pulang ke rumah. Tapi, di tengah kota motornya berbelok ke arah yang berlawanan dengan arah rumahnya.
“Mau ke mana?” tanya Letta mulai panik.
“Tenang aja, kita ke suatu tempat dulu.”
Letta memilih diam dan percaya pada Arion, namun tetap memasang mata lebar-lebar untuk mengingat jalannya kalau-kalau dia harus kabur karena dibawa ke tempat yang tidak-tidak.
Tidak terlalu jauh dari jalanan kota rupanya mereka sudah memasuki sebuah komplek perumahan yang lumayan elit seperti milik perusahaan terkenal di kotanya. Komplek ini lebih kecil saja, nampak seperti perumahan biasa dengan pintu gerbang dan satpam yang berjaga lalu jalannya juga dikonblok semua. Sejak pertama masuk, rumah besar suda nampak dari depan. Jalanya cukup lebar bisa muat tiga mobil berjejer di masing-masing sisi jalan yang terpisah oleh taman kecil dengan pohon-pohon rindang. Rata-rata rumahnya juga memiliki taman di depan dan belakang. Arion terus melaju sampai melewati sebuah taman di tengah-tengah area tersebut dan berbelok.
Tak jauh dari sana, dia berhenti di depan sebuah rumah besar dengan cat abu muda dengan aksen hitam. Nampak elegan dan mencerminkan orang kaya, mirip dengan rumah Dhira. Arion membunyikan klakson motornya, dan seorang wanita berumur keluar terburu-buru untuk membuka pagar.
Setelah itu Arion masuk ke garasi besar yang ada sebuah mini cooper merah bercorak hitam di sebelahnya. Tapi, di bagian dalam ada sebuah mobil yang ditutup kain, lalu masih ada banyak area kosong di sebelahnya. Seperti biasa diisi dengan banyak kendaraan.
Letta pun turun perlahan sembari melirik ke segala arah dengan wajah bingung. Wanita tadi mendekat dan tersenyum pada Letta yang reflek dibalasnya dengan senyuman ramah. Lalu wanita itu kembali masuk melalui pintu belakang di depan motor Arion.
“Lepas dulu helmnya, sayang,” kata Arion membantu gadis itu melepaskan helmnya.
“Ini di mana? Ini rumah siapa?” tanya Letta dengan polosnya tanpa mendengar ucapan Arion.
“Rumah gue.” Jawaban singkat itu berhasil membuat Letta tercengang dan pasrah dibawa Arion berjalan masuk melalui pintu depan setelah helmnya sudah terlepas.
Jantungnya langsung berdebar tak keruan. Banyak prasangka buruk yang membuatnya semakin ciut. Mulai dari kenyataan bahwa Arion adalah orang kaya, lalu dia ada di rumahnya yang sudah pasti akan bertemu orang tuanya, kemudian latar belakang dirinya yang hanyalah manusia biasa dari keluarga sederhana, tidak pernah tahu bagaimana bersikap di kalangan orang-orang tinggi ini. Di rumah Dhira saja dia masih canggung kalau bertemu keluarganya. Masalah aturan dalam keluarga orang kaya pun menghinggapi otaknya. Dia takut ada banyak peraturan yang tidak bisa dia jalankan bahkan mungkin orang tua Arion bisa saja tidak akan menerima dirinya yang seperti ini.
Saat Arion membuka pintu, Letta memberanikan diri untuk menahan Arion.
“Tunggu dulu! Kita ngapain ke rumah lu?” bisik Letta sedikit memekik.
“Biar lu tau aja kehidupan gue, lu ‘kan udah jadi cewek gue, jadi harus terbiasa dengan sikap dan seluruh keluarga gue.”
“Ta ... tapi apa ini gak kecepetan? Maksud gue, kita baru berapa hari deket dan gue gak ada persiapan apa-apa!”
Arion tertawa dan merangkul tubuh Letta dengan erat. “Ngapain? Lu gini aja juga gue suka, gak ada yang salah sama lu.”
“Itu ‘kan elu! Kalo orang tua lu gak suka gimana? Gue cuma orang biasa, Yon! Masuk rumah Dhira yang sebelas duabelas sama lu ini aja gue masih canggung.”
“Santai aja ‘ah!”
Lalu Arion merangkul pinggul Letta untuk dibawanya seperti membawa kardus mie instan. Gadis itu tidak bisa apa-apa, dia cuma bisa menganga diperlakukan seperti itu.
Pertama masuk ada sebuah ruangan yang cukup besar untuk sebuah ruang tamu dengan sofa besar dan nampak empuk. Mereka melewati sebuah lemari kaca yang berisi berbagai macam botol bir dari berbagai negara dan beberapa barang yang terbuat dari berlian serta pajangan foto keluarga di dindingnya.
Masuk lebih dalam Letta mulai mengangkat kepalanya dan kembali tercengang karena ada sebuah ruangan kosong seperti aula yang di kanan dan kirinya ada tangga yang melengkung hingga membuat ruangan itu seperti membulat. Bagi Letta ruangan itu nampak seperti di film Cinderella. Di bagian atasnya nampak kosong tidak terlihat apa pun, hanya ada dua buah pot tanaman besar di sudut kanan dan kiri tangga.
Kemudian Arion memanggil wanita tadi yang muncul dari hadapannya dengan sebutan, “Mbak!”
Wanita itu langsung mendekat dan bertanya, “Kenapa, Den?”
Saat itulah Letta memberontak minta dilepaskan. Mau tidak mau Arion pun menurunkan tubuh gadis mungil itu.
“Mama mana?” tanya Arion tanpa memedulikan Letta.
“Ada di kamarnya lagi siap-siap mau belanja.” Wanita itu sesekali melirik pada Letta dengan tersenyum-senyum.
“Yaudah, bilangin saya bawa temen, terus tolong bawain minuman ke kamar ya!”
“Baik, Den,” balas wanita itu dengan ramah tersenyum pada Letta.
Lalu Arion membawa Letta naik ke atas. Rupanya di sana ada sebuah ruangan. Nampak tiga pintu berjejer. Di ujung lorongnya ada sebuah jendela besar dengan tirai transparan supaya cahaya matahari tetap masuk. Di sisi lainnya pun ada. Desainnya dibuat simetris dan seimbang. Arion membawa Letta ke pintu yang ada di paling pojok dekat tangga sebelah kanan dari mereka masuk.
Bagunan ruangan itu semua putih, semua pintu di lantai dua ini terbuat dari kayu yang tidak dicat, hanya dipoles sampai mengilap dengan gagang terbuat dari besi yang juga sudah dipoles.
Arion membiarkan Letta masuk terlebih dahulu. Perlahan kaki mungil itu melangkah ke dalam dan aroma maskulin yang manis pun terhirup hidungnya. Harum Arion.
Di sebelah kiri dia melihat ada lemari tinggi besar dengan dua pintu kaca geser. Di sebelahnya ada sebuah meja polos dengan kursi belajar. Ada beberapa buku di atasnya dan alat tulis. Lalu ada sebuah aksesesoris topeng Iron Man dan telapak tangannya menempel di dinding dengan stiker seolah dindingnya retak. Nuansa kamar ini sangat beda dengan di luar. Semua serba hitam dan abu-abu. Benar-benar warna aman untuk seorang pria. Namun lantainya sendiri menggunakan kayu halus seperti di hotel. Di bagian kanannya ada kamar mandi. Lebih dalam lagi Letta masuk sekitar lima langkah dari sana ada sebuah kasur besar yang di depannya ada sebuah televisi gantung serta lemari pendek di bawahnya.
Gadis itu langsung berlari menghampiri lemari itu karena di atasnya berdiri banyak action figure dari tokoh anime maupun tokoh DC dan MARVEL. Mulai dari yang kecil sampai yang cukup besar. Sangat penuh hingga tidak ada tempat kosong lagi. Lalu matanya membesar ketika menemukan tokoh Detective Conan kecintaannya sejak kelas satu SD. Ada Shinici dan Ran juga dua anggota BO seperti Gin dan Vermouth, tak luput juga KID dibawa serta tokoh lainnya.
“Lengkap banget! Ini lu semua yang beli?” tanya Letta dengan antusias pada Arion yang menghampirinya.
“Iya, sejak kecil gue udah ngoleksi. Sisanya ada di ruang kerja bokap gue di bawah.”
“Hee? Masih banyak yang lain?” Letta berdecak kagum dan kembali memerhatikan kamar Arion.
Matanya tertuju pada sebuah jendela besar di sebelah kasurnya. Dengan cepat dia membuka tirainya dan mendapati sebuah balkon dengan sofa dan bangu yang terbuat dai rotan serta meja bulat kecil. Semua ditaruh di sudut ruang. Nampak sangat nyaman karena ada pemandangan juga, namun saat Letta keluar, di bawah sana ada sebuah taman penuh bunga.
Selagi dia terpesona dengan tempat itu, Arion membuka pintu setelah mendengar ketukan. Wanita tadi yang sering dipanggil mbak itu adalah asisten rumah tangganya yang bernama Neni. Dia membawa dua gelas jus jeruk dingin, Arion menyuruh mbak Neni masuk dan menaruhnya di meja belajar.
Tak lama, Letta menyadari kehadiran mbak Neni dan kembai masuk ke kamar dengan menutup pintu geser pelan-pelan. Lalu setengah berlari dia mendekati wanita itu.
“Ini, Non, diminum,” tawarnya dengan ramah.
“Makasih, Mbak!” seru Letta dengan cerianya. “Kakaknya Arion kah?”
Mbak Neni langsung terkekeh. “Bukan, Non. Saya cuma asisten di rumah ini.”
“Eeeh! Masih muda! Udah punya anak?”
“Sudah, Non. Satu, masih kecil.”
“Udah gak usah banyak ngobrol! Makasih, Mbak!” potong Arion.
Mbak Neni pun pamit keluar. Belum juga Arion menutup pintu, seorang wanita lain masuk dan langsung mengoceh.
“Ari! Kamu bawa temen? Siapa? Vendi? Kata Mbak Neni cewek?!” tanyanya bertubi-tubi sampai masuk begitu saja.