"Dia bisa nggak sadar sampai seharian kalau anxiety-nya kambuh." Perempuan berambut panjang seperti ombak itu duduk di sebelah Angkara sembari memeriksa jam tangan. Ia, Marseille, memandangku datar. Mendengar tawa kecil Marseille, aku mendongak. Baru kali ini aku dibuat bungkam hanya karena keberadaan seorang kakak perempuan cewek yang kusuka. Meski terlihat kalem, tatapannya sangat intimidatif. "Padahal dia nggak pernah ngeluh soal anxiety-nya itu. Aku rasa karena ada kamu, ya? Satu-satunya cara dia untuk tenang waktu anxiety-nya kambuh, dia bakal bersugesti positif dan tetap tenang. Jadi, sesaknya cepat hilang." Marseille bertepuk tangan sekali. Ia beranjak, lalu menghampiriku. Kepalaku diketuk keras, membuatku mengaduh kesakitan dan mengusap-usap. "Lain kali jangan sembarangan. Paham?"

