Dari balik dinding, aku bisa melihat Lastri yang berdiri di trotoar. Berulang kali aku mengecek jam tangan. Sekitar limabelas menit aku menunggu jemu, mengamatinya dari jauh. Selama itu pula aku tak mencurahkan perhatian pada ponsel. Kalau Pasa dan Praska tahu aku melakukan ini sendirian lagi, mereka pasti marah. Tak berselang lama, motor Dimas berhenti di depan Lastri. Tanpa melepas helm, Dimas memberikan gestur seperti meminta Lastri segera mengikutinya. Kuamati mereka, belum menentukan langkah yang akan kuambil. Mereka terlibat percekcokan sebentar. Dari tempatku, terdengar samar-samar keributan yang terjadi. Aku pasang telinga lebih intens. "Aku nggak mau lagi. Kalau Dekan tahu, aku yang di-DO." "Berengsek. Lo diancam apaan sama bocah itu?" Lastri menunduk. "Aku ngerasa bersalah ba

