Aldo mengangkat kedua bahunya santai, seolah pertanyaannya barusan bukanlah bom yang baru saja dilempar ke d**a Isti. "Bisa dibilang begitu. Tapi beda kasus sama Ibu," katanya, ringan namun jelas. Isti mengernyit. Dahi wanita paruh baya itu mengkerut dalam-dalam. Ada rasa bingung yang langsung memenuhi benaknya. “Maksud kamu apa? Apa yang sebenarnya kamu inginkan dari Ibu?” tanyanya. Suaranya rendah, tapi getirnya terasa tajam. Ia masih sangat was-was dengan gerak-gerik pria muda di hadapannya ini. Sikapnya yang kini seperti memegang kendali, membuat Isti semakin takut akan langkah selanjutnya. Aldo tidak menjawab langsung. Ia justru menepuk sisi sofa yang kosong di sampingnya, menyuruh Isti untuk duduk kembali. “Aku mau ngajak Ibu kerja sama,” katanya santai. “Ini akan jadi win-win solu

