Sudah berhari-hari Ina diliputi rasa was-was setiap kali waktunya pulang kantor tiba. Rasanya seperti dibayangi sesuatu yang tak kasat mata, tapi nyata terasa. Bukan sekali dua kali dia menemukan Aldo berdiri di parkiran. Kadang di dekat gerbang. Bahkan pernah terlihat mengobrol santai dengan beberapa rekan kerja lamanya di lobi. Seakan sedang menciptakan alasan untuk tetap hadir di kehidupan Ina. “Mbak, lo langsung pulang sekarang?” tanya Ajeng sambil mengangkat tasnya. Ina mengangguk pelan, ekspresinya tenang, tapi sorot matanya tampak lelah. “Udah kelar semua. Besok kita presentasi final Souri ke Pak Revan, jam sembilan pagi. Jangan ada yang telat, ya,” tambahnya, berusaha terdengar profesional. Untungnya, Ina dikelilingi tim yang tanggap dan cekatan. Setelah semua badai yang pernah

