Malam sudah semakin larut ketika Revan memutar setir mobilnya. Setelah mengantar Ina, pikirannya kembali pada kejadian siang tadi—ketika ibunya datang ke ruangannya, membawakan satu lagi nama perempuan yang hendak dijodohkan dengannya. Bukan yang pertama. Tapi yang satu ini cukup membuat Revan mengernyit. Seorang DJ wanita. Cantik, populer, dan sedang naik daun. “Percaya sama Mama,” ucap Regina siang tadi, dengan penuh semangat. “Kamu kalau nikah sama dia, pasti nggak bakal bosan. Dia perempuan bebas, nggak bergantung sama kamu. Selain itu, dia juga bakal kenalin kamu sama dunia baru. Kamu pasti jarang ke klub, kan?” Revan hanya menatap dokumen di hadapannya. Tangannya sibuk membubuhkan tanda tangan, mata tidak lepas dari teks yang perlu ditelaah. Ia bahkan tidak langsung menjawab. Hany

