Bab 30. Permintaan di Luar Nalar

1308 Kata

Tidak ada yang lebih hangat dari pelukan Brandon bagi Isti. Pelukan yang terasa nyata, penuh penerimaan, dan tidak menuntut apapun. Bukan seperti genggaman Irlan yang dingin, kaku, dan terasa seperti tanggung jawab yang dipikul dengan berat hati. Dalam pelukan Brandon, Isti merasa utuh. Ia tidak sekadar menjadi seorang istri, atau ibu, atau wanita paruh baya yang menjalani hidup karena harus—ia menjadi perempuan yang dicintai, dan itu lebih dari cukup. “Kenapa Mas Irlan nggak bisa kayak gini?” bisik Isti, pelan sekali, seolah hanya ingin didengar oleh dinding dan jiwanya sendiri. Tubuhnya makin melekat ke tubuh Brandon, seakan mencoba menyalurkan segala kesedihan dan ketakutannya melalui detak jantung pria itu. Brandon mengurai pelukannya, menatap wajah Isti yang kusut oleh tangis. “Kare

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN