Revan membulatkan matanya. “Menikah sama kamu?” tanyanya, suaranya terdengar pelan, tapi jelas, nyaris seperti nada pelan yang tak bisa dipercaya. Ina menunduk. Wajahnya memerah karena tangisan. Perasaan malu, bingung, dan kecewa bercampur dalam benaknya. Dia bahkan tidak tahu dari mana pertanyaan itu tadi keluar. Semuanya terasa buram. Kepalanya sudah terlalu penat. “Pak… maaf,” ucapnya. Nada suaranya kecil, hampir tidak terdengar, seperti gumaman di antara isakan yang mulai mereda. Ia sadar, ucapannya barusan sangat gegabah. Tidak pantas. Terlalu impulsif. Revan menatapnya tajam. Bukan karena marah, melainkan karena bingung. “Apa yang kamu pikirkan sebenarnya?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius. Jelas bahwa pria itu sedang menahan kecewa. Revan bukan tipe pria yang

