Presentasi hari itu terasa sangat panjang bagi Ina. Meskipun hanya duduk di samping Ririn, rasanya seperti berdiri sendirian di atas panggung dengan ribuan mata menatap tajam ke arahnya. Suara-suara di ruangan seperti mendadak jauh, bergema entah dari mana. Konsentrasinya hancur. Kepalanya masih penuh dengan percakapan semalam di kafe dan kalimat terakhir yang diucapkan Revan pagi ini. Saya mau. Sebuah kalimat pendek yang masih berputar-putar di telinganya tanpa bisa ia pecahkan artinya secara utuh. Apakah itu hanya reaksi spontan? Apakah itu serius? Apakah itu hanya... permainan? Ina tidak tahu. Dan kebingungan itu kini menghantam keras, membuatnya kehilangan fokus pada presentasi yang sudah mereka siapkan selama seminggu terakhir. Ajeng yang berdiri tegak di depan layar proyektor, men

