Ini memang bukan kali pertama Ina berada di dalam mobil Revan. Tapi entah kenapa, sore itu jantungnya berdebar begitu kencang. Bukan hanya karena kedekatan fisik, tapi karena udara di dalam mobil itu terlalu hening—membungkam setiap keberanian yang tersisa dalam dirinya. Revan mengemudi dengan tenang. Matanya fokus pada jalanan Jakarta yang mulai dipenuhi lampu-lampu kendaraan menjelang malam. Di sisi lain, Ina duduk kaku. Tangannya mengepal di atas pangkuan, berusaha keras menyembunyikan kegugupan yang sejak tadi menggerogoti pikirannya. Tidak ada suara musik, tidak ada percakapan. Hanya suara lembut dari AC dan gesekan ban mobil di aspal yang menyelingi keheningan mereka. Beberapa menit berlalu, hingga akhirnya Revan membuka suara. "Apa kamu tidak apa-apa jika kita berbicara di Vanil

