Isti hanya bisa menghela napas panjang saat melihat sepiring telur dadar yang masih utuh di atas meja makan. Uapnya sudah hilang sejak tadi. Telur itu sudah dingin, dan tak seorang pun menyentuhnya. Matanya beralih ke arah tempat cuci piring. Di sana, sudah ada satu piring kotor dengan sisa bumbu kacang dan potongan lontong yang tak habis dimakan. Dari baunya yang masih kentara, Isti tahu—itu ketoprak. “Mas,” panggil Isti dengan suara yang ia tahan agar tetap tenang. Suaminya, Irlan, sedang menonton televisi di ruang tengah. “Kalau Mas sudah bosan sama telur dadar buatan aku, tolong bilang. Semalam kan Mas sendiri yang bilang pengen sarapan telur dadar. Kenapa pagi ini malah beli ketoprak?” Nada suaranya tidak tinggi, tapi cukup untuk menyampaikan rasa kecewanya. Sudah beberapa hari ini

