“Nggak, Pak. Aku nggak mau. Aku nggak mau nikah sama tukang selingkuh kayak Aldo.” Suara Ina meninggi, keras, dan penuh keyakinan. Itu pertama kalinya dia mendebat sang ayah dengan suara lantang, tanpa menunduk, tanpa ragu. Irlan menggelengkan kepalanya perlahan. Ekspresi wajahnya menunjukkan rasa frustrasi yang tak bisa ia sembunyikan lagi. “Ina,” ucapnya berat, “Bapak udah bilang sama kamu, kalau keputusan Bapak dan Ibu itu sudah final.” Ina balas menggeleng, air matanya mulai membasahi pelupuk. Tapi suaranya masih teguh. “Bapak sama Ibu itu udah dibohongin sama Aldo. Dia selingkuh, Pak. Sama karyawan magang, divisi aku. Gita namanya.” “Aldo udah cerita semuanya, Na.” Irlan menghembuskan napas keras. “Kamu yang cuma salah paham. Kamu yang mutusin dia sepihak, cuma karena cemburu buta

