“Ina, kamu bisa pulang sekarang?” tanya Isti dari seberang telepon. Gadis berambut bondol itu mengernyitkan dahinya. “Pulang? Ada apa, Bu? Ibu sama Bapak butuh sesuatu?” “Kamu ini, lho. Memangnya harus tunggu Ibu sama Bapak butuh sesuatu baru mau pulang? Kamu kan udah lama nggak pulang,” balas Isti dengan nada sedikit memaksa. Tapi tetap saja, bagi Ina, ini terdengar ganjil. Tidak biasanya ibunya tiba-tiba memintanya pulang. “Bu, tapi akhir minggu ini aku harus kejar progres proyek. Kayaknya nggak sempat pulang,” jawabnya. “Sebentar aja. Nggak nginep pun nggak apa-apa. Ibu sama Bapak kangen lho sama kamu,” kata Isti lagi, nada suaranya terdengar lebih lembut—dan entah kenapa, lebih mendesak. Ada sesuatu yang menjalar pelan ke dalam hati Ina. Perasaan tak nyaman, seperti firasat bahwa

