Suasana ruang tamu menjadi sangat tegang. Di sofa berwarna krem itu duduk Aldo, tubuhnya tegak dan tatapannya tertuju pada Isti dan pria asing yang berdiri di samping wanita itu. Hanya suara detik jam dinding yang terdengar, menambah atmosfer ganjil yang menggantung di udara. "Maaf, Bu. Sebenarnya ini juga tidak ada hubungannya sama aku, jadi Ibu nggak perlu menjelaskan semuanya," ucap Aldo, berusaha tetap sopan meski nada bicaranya terdengar gugup. Isti berdeham pendek, menyeka telapak tangannya yang berkeringat pada rok batiknya. "Ehmm, bukan seperti itu, Aldo. Ibu perlu meluruskannya. Bagaimanapun juga kamu sudah melihat apa yang selama ini ibu simpan rapat-rapat," katanya, suaranya rendah namun berat. Aldo diam. Napasnya tertahan. "Jadi, ini adalah Brandon, pacar ibu," ucap Isti, a

