Bab 03. Dimas Vs Mas Tejo

1008 Kata
Tejo keluar dari dalam ruangannya, lalu berjalan menuju jendela dan melihat ke bawah. Duh! Di bawah sana, Dek Danira lagi ngobrol sama laki-laki yang nggak dikenal sama Tejo sama sekali. Haahhh… helaan napas terdengar dari bibir Tejo. Memegang dadanya yang terasa begitu sesak sekali, membayangkan Danira bersanding dengan lelaki lain di atas pelaminan. Lalu main suapan kue dan ayam goreng. Sakit sekali membayangkannya. Tidak ikhlas Tejo, Danira menikah lagi. Dek Danira! Kamu hanya punya Mas loh sayang! Tejo bakalan berjuang untuk mendapatkan hati Danira kembali. Tejo berlari membuka pintu ruangannya. Lalu menuruni tangga darurat, nunggu lift kelamaan! Yang ada Danira udah pergi nanti. “Dek! Dek Danira!” Panggil Tejo bersuara lantang, melihat Danira yang akan masuk ke dalam mobil. Danira mengurungkan, lalu melihat pada Tejo yang berpeluh keringat dan ngos-ngosan seperti lari dari Jakarta ke Bandung. “Ya, ada apa Mas?” Tanya Danira begitu lembut. Aduh! Suara Danira. Buat getaran di hati Tejo makin menjadi-jadi saja sekarang. Tejo menormalkan ekspresinya. Memasang senyuman manis pada Danira. Tetapi Tejo menatap masam pada lelaki yang berada di depan Danira. Dasar lelaki perebut janda orang! “Kamu ndak usah pulang dulu ya. Mas masih butuh kamu, buat ikut sama Mas temui klien di salah satu restoran. Ndak apa-apa ‘kan?” Tanya Tejo tersenyum. Danira menatap ragu, lalu melihat pacarnya yang sudah menunggu. “Duhh… gimana yo Mas. Ini aku sudah ditunggu sama Mas Dimas, aku mau makan malam di rumah orang tua Mas Dimas. Membicarakan kapan kami nikah.” Wajah Tejo jadi kisut, dengar Danira mau menikah dengan lelaki bernama Dimas ini. Apa hebatnya Dimas? Lebih hebat Tejo loh ini. Udah banyak berubah. Tatapan tidak suka Tejo pada lelaki bernama Dimas itu semakin kentara saja. Tejo akan bersaing dengan Dimas. Selama janur kuning belum melengkung di rumah Dek Danira, maka kesempatannya bagi Tejo mendapatkan janda pirangnya itu masih ada. Dimas menaikan sebelah alis. Melihat tatapan Boss Danira yang tidak suka padanya, lalu dia melihat Danira yang masih kebingungan. “Yowes, ndak opo-opo. Kamu pergi saja sama Boss kamu ini. Aku ngerti kok, kamu itu butuh kerjaan ini. Aku juga ndak ada larang kamu buat kerja sayang. Nanti, kalau kamu udah selesai. Telepon aku yo, biar aku jemput.” Tangan Dimas mengusap rambut Danira lembut. Mata Tejo melotot seperti Ibu Tiri Cinderella saja. Tejo ingin mematahkan tangan itu sekarang. Apa-apaan lelaki itu, masa sentuh Dek Danira-nya ndak bisa dibiarkan. “EHEM! Dek… kita pergi sekarang.” Tejo menarik lengan Danira agar menjauh dari Dimas itu. Badan kurus kerempeng kayak nggak dikasih makan. Emangnya bisa bahagiain Dek Danira? Pasti ndak bisa! Cuman Mas Tejo yang ganteng dan badannya perkasa ini mampu membuat Dek Danira bahagia. Dalam hati Tejo udah bertepuk d**a membanggakan dirinya sendiri. Danira yang ditarik tangannya oleh Mas Tejo, ia tersenyum tidak enak pada kekasihnya itu. Danira takut kekasihnya bakalan marah. “Ya udah, kamu sana pergi. Nanti jangan lupa telepon ya. Aku jemput nanti.” Danira mengangguk. “Iya Mas sayang! Hati-hati di jalan. Love you!” Hati-hati di jalan? Cuih! Tejo berdoa dalam hatinya. Semoga lelaki itu nabrak semut lalu mati. Nggak usah hidup lagi, kalau cuman mau ganggu hubungannya sama Dek Danira. Dimas mengangguk, dan masuk ke dalam mobil. Dimas melambaikan tangan lalu pergi dari hadapan Danira bersama mobilnya. “Dek, ayo, masuk. Kamu mau berdiri terus lihat mobil PACARMU ITU?” tekan Tejo tidak sungkan memperlihatkan kalau dia cemburu. Danira mengangkat sebelah alis. Kenapa toh Mas Tejo ini? Kayak ndak suka Danira sama Dimas. Danira masuk ke dalam mobil Mas Tejo, merasa risih dengan rok yang digunakan olehnya. Yang begitu pendek dan pahanya terlihat. Mata Tejo tidak sengaja melihat ke paha Danira. Waduh! Paha Dek Danira mulus bener! Tejo jadi ingin elus-elus mantap di paha Dek Danira. “Kamu bisa ambil jas aku di belakang Dek. Kalau nggak nyaman.” Danira mengangguk, lalu mengambil jas yang dimaksud Mas Tejo. Mata Tejo semakin melotot melihat p****t bulat Danira yang ada di depan matanya. Lelaki normal Tejo ini loh! Masih suka sama yang bulat-bulat dan bahenol kayak punya Dek Danira ini. Tejo bersusah payah menelan ludahnya. Lalu melirik pada timun besar yang ada ditengah paha Tejo yang perlahan mencoba untuk berdiri. Ahh! Kenapa berdiri sekarang sih? Tejo nggak mau buat Danira ndak nyaman! Danira kembali duduk dengan benar. Menutupi pahanya. Lalu melihat pada Mas Tejo yang tegang dan wajahnya memerah. “Ada apa Mas?” Tanya Danira. Tejo menggeleng ribut. “Ndak apa-apa Dek. Cuman kok panas kali ya? Ini udah hidupin AC tapi masih panas aja.” Tejo mengibaskan tangannya di depan wajah. Tidak mau melihat wajah ayu Danira yang bertanya penuh rasa penasaran padanya. “Yakin nggak apa-apa Mas? Kalau Mas sakit, ya, sudah. Kita tunda aja pertemuannya. Biar Danira aja sini bawa mobilnya, nanti sebut aja alamat Mas dimana. Danira antar ke rumah.” Ke rumah? Dek! Mas Tejo mau dong diantarkan ke rumah sekalian ke dalam kamar ya Dek. Mas Tejo juga mau Dek Danira bukain baju Mas Tejo, terus usap-usap badan bisep Mas Tejo ini. “B-boleh.” Mana nolak Tejo mah. Kesempatan tidak datang dua kali. Kalau ketiga kali, nanti ikutan setan yang bakalan datang menghasut dan membuat Tejo sama Dek Danira keringatan di atas kasur. Astaghfirullah! Istighfar Mas Tejo! “Mas turun gih. Biar Danira yang nyetir.” Tejo mengangguk, lalu turun dari dalam mobil. Tejo sedang buat skenario mantap. Biar lama-lama bersama Dek Danira nanti. Apa Tejo harus bilang kalau dia sakit ginjal? Maksudnya sakit perut. Tejo nggak mau sakit ginjal. Yang ada nanti Tejo mati. Danira masuk ke dalam mobil di kursi mengemudi. Melihat Tejo yang sudah masuk juga di kursi penumpang. “Wajah Mas keringatan loh ini.” Tangan lembut Danira mengusap peluh keringat di wajah Tejo. Ya Allah… lama-lama aja Dek usapnya. Udah lama Tejo tidak merasakan tangan lembut ini. Tejo menggenggam tangan Danira. Lalu tatapan mata keduanya saling beradu menyalurkan rasa lama yang kembali hadir. Atau tidak pernah hilang? Perlahan Tejo memajukan wajahnya. Mendekati wajah Dek Danira yang cantik. Berharap ia akan mendapatkan hal yang dirindukan olehnya selama ini. Wajah Mas Tejo semakin dekat dan....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN