Bab 02. Mas Tejo Patah Hati

1034 Kata
Hengki dan Danira menggeleng melihat Tejo yang jatuh pingsan. “Teddy! Oy! Kenapa pingsan coba? Lihat ini, janda pirang kamu yang jadi sekretaris kamu sekarang! Nggak usah pingsan!” Hengki menendang kaki Tejo, kalau lelaki itu sadar maka Hengki sudah dipecat oleh Tejo. Namun sayangnya, Mas Tejo masih pingsan. Perlu terkejut melihat Dek Danira ada di depan mata memakai pakaian formal dan membentuk lekukan tubuhnya begitu mengiurkan sekali. “Mas, sudah jangan ditendang lagi Mas Tej— maksudnya Mas Teddy nya. Kasihan Mas.” Danira menatap khawatir pada mantan suaminya yang masih tergolek di lantai dan tidak dibawa ke atas kursi. Danira menunduk, lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Mas Tejo. Tambah ganteng aja mantan suaminya ini. Tejo membuka matanya perlahan mengedipkan matanya. Tubuh Tejo menegang melihat wajah Dek Danira yang begitu dekat sekali dengannya. Aroma vanilla dari napas Danira membuat Tejo mengedipkan mata berulang kali. Berubah menjadi merem melek. Duh….! Dek! Jangan dekat-dekat gini. Mas Tejo nggak kuat iki loh! “Mashhh…” Apa-apaan itu Dek Danira memanggilnya sembari mendesah manja. Layaknya teteh Syahrini manggil Mas Reino Barack. Mas Tejo menelan saliva kasar, sebelum memberanikan diri menjawab panggilan manjah Dek Danira. “Mashhh…” Sekali lagi Dek Danira memanggilnya manjah. Duh! Jadi tegang Mas Tejo loh iki. Mas Tejo udah berubah loh Dek, nggak ngoyo lagi. Udah bisa diadu di atas ranjang si timun besar di bawahnya ini. “I-ya De-k-” OALAH! Kenapa Mas Tejo bicara gugup kayak gini. Danira tertawa kecil, lalu membantu Mas Tejo untuk berdiri dan duduk di sofa. Danira menatap mantan suaminya yang sudah lama tidak ditemui olehnya. Sudah tiga tahun mereka cerai. Mas Tejo banyak berubah. Ini badan yang dulu kurus kering dan nggak ada otot terus perut kotak-kotak. Malah keker kayak hemm.. sugar daddy? “Mas Tej– hem, Teddy apa kabar?” Danira mengaruk pelipisnya. Ia sungkan memanggil pria blasteran jawa - belanda itu dengan nama Tejo lagi. Nama kesayangannya untuk mantan suami. “Ndak apa-apa Dek. Panggil kayak biasa aja, Mas nggak bakalan marah sama kamu.” Tejo tersenyum manis dan malu-malu kucing pada Danira. Gugup Tejo kalau sudah berdekatan dengan janda pirangnya yang tambah ayu tenan sama montok gini! Itu bagian depan Danira kenapa tambah bulet sih? Pengen unyel-unyel jadinya. Danira menyadari tatapan Mas Tejo ke payudaranya yang tambah kencang dan gede pastinya. Danira menaikan dagu penuh kebanggaan. “Mas, kamu ndak masalah aku kerja di sinikan?” Tanyanya, mana tahu Mas Tejo nggak terima Danira buat kerja di sini. Malah usir Danira. Suruh pulang. Tejo menggeleng. “Ndak Dek. Malah Mas seneng loh kamu kerja di sini. Mau jadi istri Mas lagi nggak masalah kok. Malah tambah seneng. Hehehehehe…” Tejo menyengir. Hengki mencibir. “Teddy! Danira ini sudah pas jadi sekretaris kamu. Rambutnya pirang. Badannya bohay. Nah, dia juga pintar banget. Bisa kamu andalkan, sekalian itu kamar dalam ruangan kamu bersihkan. Mana tahu butuh.” Tejo melotot pada Hengki. Buat suasana jadi panas aja! Mana mungkin Tejo kayak gitu sama Dek Danira. Tapi … nanti Tejo bersihkan kamarnya, tempat istirahat Tejo sama Dek Danira. Ehhh?! “Keluar kamu! Udah nggak dibutuhin di sini. Aku gaji kamu buat kerja loh! Bukan malah nyantai kayak gini, makan gaji buta kamu!” Hardik Tejo mengusir Hengki. Hengki mendengkus. “Ndak tahu terima kasih. Udah baik aku loh ini, carikan kamu sekretaris yang mantap banget. Begitukan Dek Pirang Jandanya Mas Teddy?” Tanya Hengki melirik Danira. Danira tertawa kecil. “Jangan panggil Dek Pirang toh Mas! Jadi malu aku!” Danira menggoyangkan badannya dan menggeleng. “Yo ndak apa-apa toh. Kamu memang pirang. Itu cat dimana Danira? Awet bener! Dari nikah sama Teddy sampai sekarang, kamu tukar kepala?” “Hush! Ngomongnya! Aku nyalon loh Mas.” “Hehehehe… maaf. Yowes! Aku keluar dulu. Jangan lupa kalian belum muhrim. Jangan lakuin dosa dulu ya. Teddy! Kamu jangan pingsan lagi, malu itu sama burung kamu yang udah berdiri tegak setengah. Malah pingsan!” Tejo menutup burungnya yang memang sudah berdiri tegak setengah. Sialan Hengki ini. Buat malu aja! Tejo melihat Danira yang menatap ke burung Tejo. “Berdiri ya Mas?” Tanya Danira hem… kok agak menggoda ya? Tejo menggeleng, nggak boleh melakukan hal yang bisa membuat Dek Danira tidak nyaman padanya. “Ndak Dek. Jangan denger apa kata Hengki, dia memang agak gila itu.” Kata Tejo mengerakkan jarinya di kening. Danira tertawa kecil mendengar ucapan mantan suaminya. “Ini Danira mulai kerja besok kan Mas?” Danira mengalihkan pembicaraan mereka. Dari membahas burun ke hal kerja. Kerja bakti di atas kasur boleh nggak? EH! Tejo mengangguk semangat. Siapa yang ndak semangat, kalau mantan istri yang masih dicintai Tejo bakalan kerja di sini lagi. Tejo seneng banget bisa deket sama mantan lagi. “Iyo Dek. Kalau Dek Danira ndak keberatan.” Tejo memperlihatkan senyuman manisnya. Uhhh! Semanis madu dicampur s**u kental manis. Hemm…! “Oke Mas. Danira boleh pulang dulu nggak? Danira mau ketemu sama pacar Danira. Dia udah nungguin.” PACAR? PACAR KATANYA? DEK DANIRA UDAH PUNYA PACAR?! Tejo memegeng burungnya, ahh, hati maksudnya. Nggak sanggup dengar kabar ini. Kalau Dek Danira udah punya pacar. MAS TEJO NGGAK IKHLAS DEK! “Ka-mu udah punya pacar?” Tanya Tejo dengan bibir bergetar dan air mata seperti mau tumpah di pipinya. Cengeng kamu Tejo! Danira mengangguk. “Iya udah Mas. Rencananya mau nikah juga.” NIKAH?! Tejo tambah shock dengarnya. Nggak ikhlas Tejo melihat Dek Danira nikah. Mas Tejo udah menduda selama tiga tahun loh. Maunya nikah sama Janda Pirang Mas Tejo lagi. Ndak mau sama betina lain! Cuman mau sama betina yang namanya Danira! Tolong… lihatlah keadaan Mas Tejo ini. Butuh kasih sayang dan belaian manja. Mas Tejo juga udah berubah dan lebih kuat. “I-ya boleh pulang kok Dek.” Maa Tejo berbalik masuk ke dalam kamar yang ada di ruangannya. Mengabaikan sempak yang berserakan di dalam kamar tersebut. Soalnya Dokter yang menangani Mas Tejo, suruh Mas Tejo buat belajar onani terus dan sehingga sempak Mas Tejo banyak yang kotor kena s**u kental manis Mas Tejo. Sakit hati Mas Tejo! Janda pirangnya sudah punya tambatan hati. Mas Tejo patah hati! Gimana Mas Tejo bisa dapatkan Dek Danira lagi? Dek … jangan nikah. Kita balikan yuk! Mas udah berubah! Suara hati Mas Tejo begitu menyayat hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN