Bapak melihat putrinya yang bangun dalam keadaan yang begitu memperihatinkan sekali. Membuat Bapak menggeleng, menarik tangan anaknya untuk duduk di kursi meja makan. “Makan Nduk. Jangan patah hati kayak gini toh Nduk. Nanti kita cari solusinya sama-sama ya Nduk.” Ucap Bapak tersenyum manis dan juga berbicara penuh kelembutan pada putrinya. Danira mendengar apa yang dikatakan oleh Bapak. Menghela napasnya beberapa kali, dia rasanya tidak mau memakan semua makanan yang tersaji di atas meja makan. Lagian Danira tidak patah hati. Bapak seenaknya mengatakan kalau Danira patah hati. Yang ada Danira itu menolak untuk menikah dengan Dimas, lelaki yang menjadi kekasihnya selama ini dan mau melangsungkan pernikahan. “Danira ndak patah hati. Danira tidak mau menikah sama Dimas. Pak! Bilang sama

