Gadis berkuncir kuda itu baru saja keluar dari ruang guru sembari membawa tumpukan buku pelajaran milik teman-teman sekelasnya. Upacara hari senin ditiadakan lantaran pagi-pagi hujan turun begitu deras, bahkan sampai sekarang sisa hujan pun masih terasa. Tanah lembab dan udara yang dingin, memang paling cocok bila digunakan untuk tidur dirumah. Tapi sayangnya untuk para pelajar semua itu tidak berlaku lantaran mereka harus tetap berangkat ke sekolah. Kayana menghirup udara dalam-dalam, dia senang karena akhirnya bisa sampai di dunia nyata lagi. Gadis itu akan melupakan semua tentang dunia fantasi, dia mengabaikan ucapan Se Jun waktu itu. Bibir mungil Kayana bersenandung ringan, menyanyikan lagu ballad dari salah satu penyanyi favoritnya. Tapi senandungan itu harus terhenti saat telinga

