Aku berlari menyusuri lorong rumah sakit dengan gelisah, setelah mengantar Mas Abi ke Bandara pagi tadi perasaanku tidak tenang tak lama kemudian Suster Mila mengabariku kalau Narumi harus di rawat inap di rumah sakit. Seketika jantungku berdegup kencang, baru satu minggu yang lalu aku ke rumah sakit dan mendapati kabar buruk, kini aku harus kembali lagi di tempat ini untuk memastikan bayi perempuan itu baik-baik saja. Tanpa memikirkan penampilanku yang masih mengenakan piyama tidur dan berbalut jaket milik Mas Abi, aku menyusul suster Mila dan Adrian yang sudah berada di dalam kamar inap Rumi, untung saja aku bisa masuk di jam segini. Hatiku semakin hancur kala melihat tangan Rumi yang harus diinfus dan bekas tangisnya yang masih ketara di wajah bayi itu. "Semalam badan Rumi panas Bu,

