Bram menatap Violeta dengan perasaan tak menentu. Ada perasaan bahagia tersendiri karena mendengar sang istri yang mengatakan bahwa dia sangat menyayangi dan mencintai mereka. “Vio, kamu serius cinta sama aku?” Bram memegang wajah Violeta. Violeta mengernyit. “Kata siapa aku cinta sama kamu, Om?” “Barusan kamu bilang kalau kamu sayang dan cinta sama kami, aku dan Berlin. Itu artinya kamu cinta kan sama aku?!” “Diihhh … kegeeran banget sih, Om. Narsis abis, hhhh. Maksud aku tuh cuma cinta sama Berlin, bukan sama Om.” Violeta mendorong Bram. Bram terdiam, matanya terus menatap wajah Violeta yang kini menunduk. Apakah benar jika dirinya yang terlalu percaya diri dan menganggap Violeta sudah mencintainya? Perasaan bahagia yang tadi memenuhi hati, kini berubah. Namun, Bram tak mengambil p

