“Mama dan Papa dari mana aja, kok baru pulang? Berlin ditinggalin di rumah, gak diajak.” Berlin cemberut. Bocah itu sedang merajuk. Violeta dan Bram saling berpandangan. Mereka sedang memutar otak untuk mencari alasan yang tepat, sebab Berlin adalah anak yang cerdas yang tidak mudah dibohongi. Tadi pagi setelah selesai melakukan percintaan panas untuk yang kesekian kalinya di kamar mandi kantor, mereka langsung pulang karena Violeta memaksa Bram, sebab teringat dengan Berlin. Violeta memegang wajah Berlin yang masih merengut. “Sayang, tolong maafin mama sama Papa, ya. Emmm … mama lagi nemenin Papa di rumah sakit. Iya, kan, Pa?” Violeta menatap Bram dan memberi kode agar suaminya itu peka. Bram gelagapan, dia sungguh tidak handal jika menyangkut soal kebohongan terhadap sang putra. Nam

