The End

345 Kata
"Karena kami ingin menjadi makhluk yang menghargai waktu, hidup berdampingan dan saling membantu." Jawaban Thalia dan Eric bisa bersamaan. Lelaki tua itu takjub mendengarnya. "Sayangnya yang kulihat kau tidak bisa menjadi manusia tanpa sihir. Kau adalah titisan Poseidon. Maka kau harus menjaga keseimbangan lautan dan daratan." Lelaki tua itu menunjuk Eric. "Anak muda, kalian harus bisa memahami jika kalian ada di dunia ini sudah dengan garis takdir." Lelaki tua itu lalu mengambil sesuatu di dalam lacinya. Sebuah kota yang terdapat ukiran emas. "Ambillah ini. Gunakan sebaik mungkin. Wujudkan keinginan kalian dengan baik. Hidup di dunia dengan damai dan jangan merugikan orang lain." Thalia menerima kotak itu lalu di sana keluar sinar terang dari sebuah batu. Thalia sangat takjub, batu Aquamarine itu benar ada. "Bagaimana aku bisa meminta permohonan?" tanya Thalia. "Batu itu bukan Tuhan. Ingatlah keinginan terbesarmu ada di dalam hatimu. Batu itu hanyalah perantara yang bisa membuatmu mewujudkan keinginan." Thalia lalu memegang batu itu. Dia melihat cahaya putih terang, menerangi seluruh ruamgan. Semuanta menjadi putih. Thalia memejamkan mata karena semua silau. Hingga dia membuka mata, dia sudah ada di rumah sedang bercengkrama dengan Bella dan Smith. Seolah dia masuk ke dalam masa depan. Thalia bercermin, tidak ada bekas sisik di lehernya, kalung dan gelangnya tidak berfungsi lagi. Dia sepenuhnya menjadi manusia. Thalia begitu bahagia, dia sangat senang bisa hidup bersama orang tuanya. Dia lalu berlari menuju rumah Eric, mengetuknya dengan semangat. Eric menguap karena masih mengantuk. Saat dia melihat Thalia, dia mengerjapkan matanya. "Ada apa? Kenapa kemari Thal?" ucapnya. Thalia terkejut dengan apa yang dia lihat. Eric benar-benar lupa tentangnya. "Ini aku, Thalia!" ucapnya penuh semangat. Eric mengangguk, "Iya aku tau kau Thalia anak nyonya Bella dan Mr. Smith. Lalu kenapa?" Tatapan mata Eric sangat berbeda, seolah tidak terjadi apa-apa. "Aku sudah menjadi manusia!" ucap Thalia. Eric tertawa menatap Thalia seperti orang gila. Tentu saja Thalia manusia. Batu itu membawa Thalia ke dimensi yang berbeda. Thalia menjadi manusia, dan Eric juga menjadi manusia seutuhnya, dengan bayaran ingatan Eric sepenuhnya menghilang. Meski Eric melupakan Thalia, namun Thalia merasa bahagia, dia masih bisa melihat senyuman Eric.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN