Setelah kontrak sudah dibuat, Nathan memutuskan untuk menikah dengan Safira pekan depan. Safira tentu menolak, bagaimana mungkin mereka menikah secepat itu, bahkan Safira belum membicarakan hal ini dengan kedua orangtuanya.
Berhubung hari ini adalah hari libur, Safira memutuskan untuk menghabiskan waktunya dengan ayah juga bundanya. Mungkin, Safira akan mencoba berbicara dan mengatakan soal rencana Nathan juga dirinya.
Safira kini sedang berkumpul di ruang tengah bersama Simon dan juga Ayana, kedua orangtuanya.
"Sayang, bagaimana pekerjaanmu?" tanya Ayana.
"Sangat baik Bunda," jawab Safira.
"Lalu, soal uang itu?" tanya Simon.
"Ayah tidak perlu memikirkan soal uang. Safira akan menangani hal itu, jadi, Ayah tidak boleh memikirkan itu lagi," ucap Safira.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu mengalihkan pembicaraan mereka.
"Siapa itu?" heran Simon.
"Mungkin tetangga," jawab Ayana.
"Biar aku cek." Safira bangkit dari tempat duduknya.
Safira berjalan ke arah pintu, lalu membuka pintu dengan perlahan. Begitu pintu terbuka, Safira melotot, kenapa Nathan datang ke rumahnya di pagi hari.
Dalam hati Safira berkata, mau apa Nathan ke mari, dan kenapa juga Nathan tak memberitahunya terlebih dahulu. Nathan yang tau apa maksud dari ekspresi Safira hanya diam dan menunjukkan sikap dingin, Nathan rasa, dia berhak melakukan apa yang ingin dia lakukan.
"Sayang, siapa itu?" tanya Simon karena Safira hanya diam sedari tadi.
Safira bingung mau menjawab apa, Nathan memberi kode agar Safira minggir dan dengan berat hati Safira menggeserkan tubuhnya. Simon dan Ayana menatap kedatangan Nathan, mereka lantas berdiri.
"Selamat pagi," sapa Nathan.
"Pagi," jawab Simon.
"Masuklah Nak Nathan." Begitu sudah di persilahkan masuk oleh Ayana, Nathan lantas masuk ke dalam.
Nathan duduk disalah satu kursi dan Safira duduk di samping Nathan, karena memang hanya tempat itu yang tersisa. Nathan menaruh bingkisan yang dia bawa di atas meja.
"Nak Nathan, mau minum apa?" tanya Ayana.
"Tidak usah Tante," ucap Nathan.
Suasana diantara mereka seketika hening, kemudian, Simon mencairkan suasana sambil batuk pelan.
"Saya belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung atas bantuan waktu itu. Terima kasih banyak, karena sudah membantu saya dan juga keluarga saya," ucap Simon.
"Sama-sama Om. Sebenarnya, saya kemari karena ingin mengatakan sesuatu," ucap Nathan.
Dalam hati Safira berkata, ini orang sebenarnya mau ngapain coba. Safira tentu merasa cemas dengan apa yang akan Nathan sampaikan, apa mungkin, Nathan akan mengatakan hal itu kepada kedua orangtuanya.
"Membicarakan perihal apa?" tanya Simon.
"Mommy." Zafia masuk dengan tiba-tiba, di belakangnya ada Omar dan Axel yang berlari dengan tergesah-gesah.
Zafia menghampiri Safira dan Nathan, "Mommy," ucap Zafia.
"Fia," ucap Safira.
Simon dan Ayana menatap Zafia bingung, Zafia memanggil anak mereka dengan sebutan Mommy. Safira menundukkan Zafia di atas pangkuannya.
"Tuan, maafkan kami," ucap Axel dan Omar secara serentak.
"Tak apa, kalian pergilah," perintah Nathan.
Axel dan Omar membungkuk lalu pergi. Nathan menyuruh Axel dan Omar untuk menjaga Zafia di luar, namun ternyata, Zafia malah masuk ke dalam.
"Tunggu, ini maksudnya apa?" tanya Simon.
"Jadi Om, kedatangan saya ke sini ingin meminta restu untuk menjadikan Safira sebagai istri saya," ucap Nathan langsung pada intinya.
Simon dan Ayana saling menatap satu sama lain. Dan akhirnya, Nathan dan Safira menjelaskan keadaan mereka berdua, terkecuali dengan perjanjian kontrak.
"Ini terlalu cepat," ucap Ayana.
"Tapi sayang, sebaiknya kita biarkan Safira untuk memutuskannya," Simon menatap kearah Safira, "Safira bagaimana?" tanya Simon.
"Aku bersedia menikah dengan Nathan Ayah," jawab Safira.
Mulut bisa saja berbohong, tapi tidak dengan hati. Safira mengucapkan kata maaf kepada kedua orangtuanya dalam hati berulang kali.
Melihat Safira yang tampak sudah bulat dengan keputusannya, Simon dan Ayana hanya bisa mendukung keputusan anak semata wayang mereka.
"Baik, karena Safira sudah memutuskan. Saya hanya meminta, tolong jaga Safira kami dengan baik," ucap Simon.
"Tentu Om, saya akan menjaga Safira dengan baik," ucap Nathan.
Nathan tersenyum lalu menatap ke arah Safira. Tak ingin membuat kecurigaan, lantas Safira juga ikut tersenyum, meski senyumnya sama sekali tak tulus.
"Sayang, kemarilah," ucap Ayana kepada Zafia.
Dengan malu-malu, Zafia menghampiri Ayana, tentu itu dengan arahan Safira yang mengatakan untuk Zafia menghampiri Ayana.
"Siapa namamu sayang?" tanya Ayana.
"Zafia," jawab Zafia.
Simon mengusap kepala Zafia, "Cantik sekali cucu Grandpa," puji Simon.
"Sini sayang." Ayana membawa Zafia ke dalam pelukannya.
Ayana dan Simon tentu senang dengan kehadiran Zafia, sudah lama juga mereka ingin memiliki seorang cucu.
"Apa Fia boleh memanggil Grandpa juga Grandma?" tanya Zafia.
"Tentu saja sayang, karena sekarang Fia adalah cucu kami," jawab Ayana.
"Asik, Fia sekarang punya Grandpa dan Grandma." Zafia tersenyum begitu bahagia, Safira dan Nathan ikut tersenyum melihat interaksi Zafia bersama Simon dan Ayana.
Berhubung ada acara lain, lantas Nathan berkata, "Om, Tante. Malam ini orang suruhan saya akan datang kemari untuk menjemput."
"Memangnya ada acara apa?" tanya Simon.
"Saya ingin mengajak Om dan Tante untuk makan malam bersama, di sana juga akan ada kerabat saya yang lain," jawab Nathan.
"Ya, kami akan datang," ucap Simon.
"Dan saya juga ingin meminta izin untuk membawa Safira lebih awal," pinta Nathan.
"Silahkan," ucap Simon.
Setelah mendapatkan izin, mereka berpamitan kepada Simon dan Ayana, Nathan membawa Safira dan Zafia untuk segera pergi.
Nathan menyuruh Axel dan Omar kembali ke mansion, karena Nathan akan menyetir sendiri. Nathan juga mengatakan, agar mereka kembali lagi saat malam, untuk menjemput calon mertuanya, Axel dan Omar tentu akan menjalankan perintah dari majikannya.
Nathan duduk di kursi kemudi, Safira duduk di samping Nathan, lalu Zafia duduk di kursi belakang. Mobil mulai melaju, mereka bertiga pergi dari kediaman kedua orang tua Safira.
"Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Safira.
"Mencari pakaian untuk malam ini," jawab Nathan.
"Memangnya ada acara apa?" tanya Safira lagi.
"Nanti juga tau," jawab Nathan dengan pandangan fokus ke depan.
"Daddy, Fia ingin pergi bermain dengan Mommy," pinta Zafia.
"Iya sayang," ucap Nathan.
Tak lama, Nathan, Safira dan Zafia tiba di salah satu pusat perbelanjaan. Mereka keluar dari dalam mobil, lalu masuk ke dalam, mereka berkeliling untuk mencari kebutuhan masing-masing. Safira menyarankan agar pakaian mereka di samakan, alhasil mereka membeli pakaian dengan warna yang senada.
Selesai berkeliling mencari pakaian, Zafia meminta untuk makan siang karena memang waktu makan siang sudah tiba. Mereka pergi dari pusat perbelanjaan menuju restauran yang bernama Haedo Sikdang, yang berada di 13F lotte departemen store, 81, namdaemun-ro, jung-gu, seoul, korea selatan.
Nathan memesan banyak makanan untuk mereka bertiga, dari mulai appetizer, main course sampai dessert. Dan seperti biasa, Zafia akan menjadi pencair suasana diantara mereka.