Selesai makan siang, Nathan kembali menuruti keinginan Zafia, Zafia ingin bermain di salah satu pusat permainan untuk anak-anak. Zafia mengajak daddy dan mommynya untuk ikut masuk dan bermain bersama dengannya. Di dalam area permainan, ada tempat mandi bola, trampolin dan permainan lainnya yang tersedia, dan tentu menyenangkan bagi anak-anak.
Begitu masuk ke dalam, Zafia berlari menuju permainan yang dia inginkan, sedangkan Safira dan Nathan hanya mengawasi Zafia.
"Daddy, Mommy ayo." Zafia berteriak senang.
Nathan dan Safira menghampiri Zafia, begitu mereka duduk di tempat mandi bola, Safira dan Zafia menyerang Nathan dengan bola. Safira dan Zafia tertawa puas melihat Nathan yang hanya pasrah saat di lempari bola, mereka berdua memang sudah saling memberikan kode untuk mengerjai Nathan.
"Untung saja kalian berdua perempuan. Kalau tidak, Daddy pasti akan membalasnya," ucap Nathan.
Karena Nathan akan menangkap Zafia, Zafia bangkit lalu mengajak Safira untuk melarikan diri bersamanya. Mereka meloncat di atas trampolin untuk menghindari kejaran Nathan, Nathan tentu tidak akan berhenti mengejar mereka berdua.
Kini Nathan berada di depan mereka, Zafia bersembunyi di belakang tubuh Safira. Nathan tersenyum lalu mencoba menggapai Zafia, namun bukan Zafia yang Nathan tangkap, melainkan Safira. Nathan memeluk tubuh Safira, Safira yang semula tertawa langsung terdiam begitu mendapat adegan yang sangat tiba-tiba, sedangkan Zafia, Zafia berlari menjauh karena tidak ingin tertangkap.
Nathan jelas mencium wangi tubuh Safira yang harum aroma lavender. Nathan merasa hapal dengan aroma ini, dan tanpa sadar, Nathan mengeratkan pelukannya, Nathan menghirup tubuh Safira begitu dalam. Safira yang mendapati itu berusaha lepas, Safira merasa merinding begitu Nathan mengendus tubuhnya.
"Nathan." Ucapan Safira menyadarkan Nathan, seketika Nathan melepaskan pelukannya, lalu Nathan melangkah mundur, "Maaf, aku tidak sengaja," ucap Nathan.
"Iya, tidak apa," ucap Safira, mau bagaimana lagi, toh sudah terjadi.
Zafia tertawa lalu kembali mendekati Safira dan Nathan, "Kenapa di lepas?" tanya Zafia.
"Fia," ucap Nathan.
"Padahal tadi adegannya sudah terlihat seperti drakor." Zafia tertawa sambil menutup mulutnya.
Mereka kembali menikmati suasana, Zafia begitu senang bisa bermain bersama Safira dan Nathan. Karena malam hampir tiba, Nathan mengajak Safira dan Zafia untuk pergi ke salon, mereka harus segera bersiap-siap untuk acara makan malam hari ini.
.
.
.
Nathan dan Zafia telah siap, kini hanya tinggal Safira yang belum keluar dari ruangannya. Sambil menunggu, Nathan tampak sibuk dengan smartphonenya, karena ada beberapa email yang harus dia cek. Zafia bersandar di sofa, setelah habis bermain, Zafia merasa mengantuk.
Beberapa saat kemudian, Safira keluar dari dalam ruangan, Zafia bangkit lalu menghampiri Safira.
"Wah, Mommy cantik sekali," puji Zafia.
"Terima kasih sayang." Safira mengelus pipi Zafia.
"Daddy, Mommy cantik sekali kan?" tanya Zafia.
"Emm," jawab Nathan masih sibuk dengan smartphonenya.
"Daddy lihat dulu," ucap Zafia.
Nathan mematikan smartphonenya lalu menatap ke arah mereka, mata Nathan lantas terfokus ke arah Safira. Bagaimana tidak, Safira tampil begitu cantik bahkan Nathan tidak bisa berkedip, malam ini, Safira terlihat berbeda dari biasanya.
"Ayo berangkat." Ucapan Safira membuat Nathan memalingkan wajahnya.
Mereka lantas segera pergi ke restauran La Seine yang berada di 30eulji-ro, jung-gu 1F lotte hotel seoul, seoul 04533, korea selatan.
Begitu tiba di sana, Theo, Reina dan Darel menyambut kedatangan mereka bertiga.
"Safira," panggil Reina.
"Kak Reina." Safira dan Reina saling berpelukan.
"Ouh, jadi ini yang namanya Safira," ucap Theo.
Safira melepaskan pelukannya dengan Reina, lalu sedikit menunduk ke arah Theo.
"Aku Theo, suaminya Reina," ucap Theo.
"Safira," ucap Safira.
"Jangan terlalu formal kepadaku, panggil saja Kak Theo," ucap Theo sambil mengangkat sebelah alisnya ke arah Nathan, Nathan menatap Theo malas.
Reina mengajak Safira untuk duduk di sampingnya, Zafia dan Darel juga duduk di samping mereka.
"Selera mu bagus sekali," ucap Theo sambil merangkul bahu Nathan.
"Ini pujian atau apa?" tanya Nathan.
"Ya! aku tidak bilang bahwa dulu selera mu rendahan, tidak begitu," goda Theo.
Nathan menghempas tangan Theo, dan Nathan segera duduk di samping Zafia.
Tak berselang lama, orang tua Safira datang, mereka saling menyapa satu sama lain. Nathan memperkenalkan Theo, Reina dan Darel kepada calon mertuanya.
"Tunggu sebentar Tuan, rasanya saya tidak asing dengan wajah anda," ucap Theo kepada Simon.
"Ya, karena dulu saya sempat bekerja di THE CORP," ucap Simon.
"Pantas saja saya merasa hapal dengan anda," ucap Theo menganggukkan kepalanya.
Karena makanan mereka sudah tersaji, mereka lantas mulai menikmati makanan sambil sesekali diselingi oleh pembicaraan. Makan malam mereka begitu menyenangkan, meskipun ini adalah pertemuan pertama, namun ini terasa seperti pertemuan setelah sekian lama.
Perbincangan mereka terus berlanjut, sampai, lampu restauran tiba-tiba meredup. Mereka menatap sekitar, mereka tentu bingung dengan situasi ini, namun tidak dengan Nathan. Nathan bangkit dari kursinya, lalu menghampiri Safira, Safira tentu bertanya-tanya ada apa.
"Ikut aku." Nathan mengulurkan tangannya, Safira menyambut uluran tangan Nathan dengan ragu.
Nathan membawa Safira ke sisi meja makan dimana keluarga mereka berada.
Safira berbisik, "Nathan, ada apa ini, kenapa suasananya jadi seperti ini."
"Tenang saja, kamu hanya perlu mendengarkan apa yang akan aku katakan," bisik Nathan.
Tak lama, seorang pegawai mendorong sebuah meja yang telah dihiasi bunga mawar merah, balon berbentuk hati dan lampu hias berwarna putih. Di tengah meja terdapat sebuah kotak bludru tersimpan begitu indah, itu adalah inti dari banyaknya perhiasan indah di atas meja.
Begitu mejanya berada di samping mereka, pegawai restauran itu menunduk dan segera pergi. Keluarga mereka menatap Nathan dan Safira dengan penuh antusias, Safira yang tau kemana arahnya lantas hanya diam dan mencoba memahami, apa benar yang dia tebak.
Nathan mengambil kotak itu, lalu Nathan bersimpuh di hadapan Safira, Safira jelas tertegun dengan aksi Nathan. Kemudian, Nathan membuka kotaknya, kotak itu berisi sebuah cincin berlian dengan aksen yang begitu cantik dan mewah. Nathan menatap Safira dengan tatapan dalam, Safira tentu menatap Nathan balik, dengan perasaan yang tak menentu.
"Safira, will you marry me?" tanya Nathan.
Safira menutup mulutnya tidak percaya, Nathan tidak mengatakan akan melakukan hal ini dan ini sukses membuat Safira gugup bukan main. Nathan menatap Safira dengan tatapan meminta jawaban, Safira lantas menganggukkan kepalanya.
"Yes i will," jawab Safira.
Begitu Safira menjawab pertanyannya, Nathan mengeluarkan cincin itu dari dalam kotak. Nathan bangkit, lalu Nathan menggenggam tangan Safira, Nathan tersenyum dan memasangkan cincin itu di jari tangan Safira.
Nathan kemudian menggenggam kedua tangan Safira, Safira tersenyum melihat Nathan yang ada di depannya. Dengan penuh kelembutan, Nathan mengecup kedua punggung tangan Safira, Safira tersentuh dengan itu. Lalu, Nathan membawa Safira ke dalam pelukannya.