Pekan Depan

1050 Kata
Nathan memeluk erat tubuh Safira. Safira tentu membalas pelukan Nathan dengan erat pula, meskipun, tindakan dan perasaannya bertolak belakang. "Bukankah ini sempurna?" bisik Nathan di telinga Safira. "Kamu tidak bilang akan melakukan ini," bisik Safira. "Ini namanya surprise. Tapi, tentu ini hanyalah sebuah acting. Aku akui, acting mu tadi sangat bagus, begitu natural," bisik Nathan lagi. Raut wajah Safira langsung berubah, jadi ini hanya sebuah acting, untung saja tadi dia tidak terbawa suasana. Safira melepaskan pelukan Nathan, karena tidak ingin membuat keluarganya curiga, Safira tersenyum semanis mungkin. "Terima kasih, kejutan ini sangat mengejutkan," ucap Safira menekan setiap kata yang dia ucapkan. "Sama-sama sayang." Lagi, Nathan membawa Safira ke dalam pelukannya. Safira ingin melepas pelukan mereka. Namun, melihat keluarganya sedang memperhatikan mereka berdua, Safira pun akhirnya hanya diam. "Apa kamu sedang mencari kesempatan?" bisik Safira dengan kekesalan yang tidak bisa dia sembunyikan dari cara bicaranya. "Tidak, ini bagian dari acting. Lihatlah keluarga kita, mereka begitu terharu, bisa dikatakan lamaran akting ini sukses," bisik Nathan. "Lepas," bisik Safira. "Gak," bisik Nathan. Safira mencoba berontak, "Lepas sekarang juga Nathan." "Kenapa, kamu takut terbawa suasana?" Nathan tersenyum miring. "Tidak akan pernah." Sungguh, Safira begitu kesal dengan Nathan. Dengan tak berperasaan Safira mencubit perut Nathan, ini akibatnya jika Nathan membuatnya kesal. Nathan tentu merasakan kesakitan di perutnya, dan dengan terpaksa Nathan melepas pelukan mereka. Safira mendelik lalu berkata dalam hati, makannya jangan main-main, Nathan Xavier. "So sweet," ucap Reina mewakili anggota keluarga yang lain. Simon dan Ayana tersenyum bahagia begitu melihat keseriusan Nathan kepada anak semata wayangnya, mereka tentu akan merestui hubungan Safira dan Nathan. Simon dan Ayana tidak mempermasalahkan perihal Nathan yang telah memiliki seorang anak, karena mungkin inilah jalan takdir untuk anak mereka. Dan lagi, Simon dan Ayana percaya, Safira akan bahagia dengan pria pilihannya. Theo dan Reina bangga dengan Nathan, setelah apa yang terjadi, akhirnya Nathan memilih seorang wanita untuk menemani kehidupannya sampai menua. Dan dengan begitu, Nathan tidak akan sendirian lagi membesarkan Zafia, kini ada Safira yang akan membantunya. Darel yang masih kecil hanya tersenyum begitu melihat daddy dan mommynya tersenyum. Sedangkan Zafia, Zafia menghampiri Safira dan Nathan, Zafia memeluk Safira dan Nathan dengan erat. "Daddy Mommy, Fia senang melihat Daddy dan Mommy seperti ini," ucap Zafia. Safira tersenyum sambil mengelus kepala Zafia, ini semua juga demi Zafia. Jika saja tidak ada Zafia, mana mau Safira menikah dengan pria seperti Nathan. Entah dosa apa yang Safira perbuat saat di dalam kandungan bundanya, sampai Safira harus berjodoh dengan pria di depannya ini. "I love you, Daddy Mommy," ucap Zafia. Nathan dan Safira tersenyum, Nathan mengecup singkat kepala Zafia sedangkan Safira mengecup pipi Zafia, Zafia balas mencium kedua pipi daddy dan mommynya. Selesai dengan acara lamaran, mereka kembali menyantap makan dan berbincang tentang pernikahan Nathan dan Safira yang akan segera dilaksanakan. Dan Nathan berkata bahwa semuanya telah dia persiapkan dengan baik, mereka hanya tinggal menunggu waktu itu tiba. Saat yang lain begitu semangat membicarakan pernikahannya, Safira hanya diam sebagai pendengar tanpa mau bicara atau berkomentar apapun. Terkecuali, jika ada yang memanggilnya, maka Safira akan bicara. Benarkah ini jalan takdir yang harus Safira lalui. Kenapa bisa Safira mengalami hal ini, semoga saja itu akan baik-baik saja, lagi pula kontrak mereka hanya tiga bulan dan setelah itu Safira bisa kembali. Kembali pada kehidupannya, sebelum mengenali Nathan maupun Zafia. . . . Selesai dari restauran, Nathan akan mengantar Safira dan calon mertuanya bersama dengan Zafia. Nathan duduk di kursi kemudi, disampingnya ada Safira dan di belakang ada Zafia, Ayana dan Simon. Saat di perjalan pulang menuju rumah kediaman calon mertuanya itu, Zafia tak hentinya berbicara banyak hal kepada Ayana dan Simon. Melihat Zafia yang tampak begitu akrab dengan Ayana dan Simon, Nathan rasa pilihannya ini tidaklah salah. Zafia memiliki calon grandpa dan grandma yang baik, meski sebenarnya ini semua hanya berdasarkan kontrak. Nathan menatap kearah samping, Safira tampak termenung dengan tatapan lurus ke depan. Nathan tidak tau apa yang sedang di pikirkan oleh Safira, yang jelas dia tidak peduli, itu hak Safira ingin berpikir apapun. Mobil berhenti di depan halaman rumah, mereka semua turun dari dalam mobil. Ayana dan Simon mempersilahkan Nathan dan Zafia untuk masuk terlebih dahulu, namun Nathan mengatakan jika ini sudah malam dan Zafia juga tampak sudah mengantuk. "Kalau begitu kami masuk terlebih dahulu, hati-hati di jalan Nak Nathan, Zafia," ucap Simon. "Iya Om," ucap Nathan. Ayana mengelus tangan Safira sebentar, "Bunda masuk dulu," ucap Ayana. "Iya Bunda," ucap Safira. Kini diluar rumah hanya ada Safira, Nathan dan Zafia. "Mommy, apa Mommy akan pulang bersama Fia dan Daddy?" tanya Zafia. "Belum bisa sayang," jawab Safira. Mendengar jawaban Safira, Zafia menggembungkan pipinya kesal, dia kira Safira akan tinggal bersamanya sekarang juga. Safira mengelus kepala Zafia sambil tersenyum, Nathan mengatakan agar Zafia lebih dulu masuk ke dalam mobil. Safira lantas membantu Zafia untuk duduk di kursi depan, Safira memasangkan seat belt lalu mengecup kepala Zafia. "Selamat malam Mommy," ucap Zafia. "Malam juga sayang," ucap Safira. Begitu Zafia sudah nyaman dengan posisinya, Safira menutup pintu. Safira lantas berjalan untuk masuk ke dalam rumahnya, melihat Safira yang akan pergi begitu saja, Nathan dengan cepat mencekal tangan Safira. Safira lantas menatap kearah Nathan dengan tatapan datar, dan wajah yang sarat akan tanda tanya. "Bisa kita bicara sebentar?" tanya Nathan. Safira mengalihkan pandangannya dengan tatapan kesal, dengan sekali hentakan, Safira melepaskan genggaman tangan Nathan. "Jika ingin bicara cepatlah," ucap Safira. "Apa kamu kesal karena kejadian tadi?" tanya Nathan. "Gak usah di bahas," jawab Safira. Nathan mengangkat bahunya acuh, itu hak Safira jika dia kesal karena dia tak memberitahu Safira terlebih dahulu. Memang seharusnya dia mengatakan kepada Safira, jika dia akan melakukan akting lamaran. "Jadi apa?" tanya Safira karena Nathan belum juga bicara. "Ini tentang persiapan pernikahan kita yang akan dilaksanakan pekan depan. Apa kamu mau kita mempersiapkannya bersama, atau bagaimana?" tanya Nathan. "Soal itu, aku tidak ingin ikut campur, urus saja sendiri. Aku rasa tanpa atau adanya aku dalam persiapan itu akan sama saja hasilnya," jawab Safira. Sebenarnya Safira lebih ke malas, jika dia ikut mempersiapkan, maka tak ayal jika dia dan Nathan akan lebih sering bertemu. Safira lebih baik tak ikut mempersiapkan, dia tak mau menyesal dan menghancurkan kontrak itu. Tentu, Safira bisa saja membatalkan kontrak begitu tak tahan dengan sikap Nathan yang menyebalkan. Mendengar jawaban Safira, akhirnya Nathan akan mempersiapkannya sendiri. Dan memang, Nathan sudah mempersiapkan semuanya, dia tidak perlu melibatkan Safira untuk ikut mempersiapkan acara pernikahannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN