Kebangkitan Iblis

1121 Kata
Raja Melchoir sedang mempersiapkan rencana pertamanya setelah mendapatkan Rulp. Ia dan Eva, sang Ratu, tengah berada di sebuah hamparan tanah gersang yang dinaungi oleh langit yang merah. “Mulailah, Rajaku,” ucap Eva Sang Penyihir. Ia selalu setia menemani kemanapun Sang Raja Iblis melangkah. Seolah ujung pakaian mereka saling bertaut satu sama lain. Raja Melchoir menatap ke langit sesaat, ia bisa melihat ratusan titik yang selalu berputar seolah dikurung oleh sebuah pusaran angin. Salah satu tangan Melchoit diangkat dan berada sejajar dengan pusat dari pusaran di langit itu, lalu sebuah cahaya merah perlahan muncul lalu seolah meledak tapi sama sekali tak melukai siapapun di sana, cahaya merah itu memancar lurus tepat ke pusat pusaran langit. “Aku memanggil kalian yang pergi atas pegabdian setia padaku!” Kilatan gutur yang diiringi suara gelegar khasnya sama sekali tak menelan suara Melchoir yang akan berada pada awal ritualnya. Di sisi lain, Jendral kepercayaan Melchoir, Murdock tampak menyeringai tak sabar menunggu pasukannya yang akan bangkit sebentar lagi. Di belakangnya puluhan iblis lain juga terlihat sama. Seiring memudarnya cahaya yang menembus langit itu, Melchoir kembali menurunkan tangannya dan menatap Eva yang seperti biasa selalu bersikap anggu layaknya seorang Ratu. Walau Melchoir tak mengetahui kenapa Eva dengan suka rela memilih bersekutu dengannya. Namun melihat semua yang sudah penyihir itu lakukan untuknya, jelas mereka memag berada dipihak yang sama. Sekarang ratusan titik hitam yang tadi selalu berputar di dalam arus mendadak berhenti dan seolah bergerak turun. Ratusan titik itu semakin rendah hingga semua yang di bawah sana bisa meluhat apa yang akan terjadi. Tidak seretak, tapi dengan pasti ratusan pasukan iblis yang telah diabngkitka kembali oleh Melchoir menjejak tanah dengan hantaman kuat, hingga meghasilkan bunyi debuman yang tak kunjung selesai. Tawa iblis Melchoir menggelegar melihat semua anak buahnya yang selama ini sudah tewas dalam peperangan melawan manusia kembali berada di depannya. Mereka yang tewas dalam pengabdian utuk kemenangan kaum iblis telah menerima hadiahya sekarang, kembali dihidupkan. “Aku pasti merasa di atas angina sekaran,” ucap Melchoir yang masih senang dengan kehadiran pasukannya kembali. “Yang Mulia, terimalah kembali pengabdian kami,” Jendral Gaviork yang berada paling depan sekarang berlutut memberi hormat pada rajanya yag telah menghidupkannya kembali. “Kalian semua memiliki dendam sebagai penunjuk arah tanpa perlu menuggu titahku untuk saat ini.” Suara lantang Raja Iblis menggelegar memenuhi padang gurun itu. Membuat semua sorakkan riuh dari pasukan iblis menggema. Jendral Murdock sekarang bergabung dengan Melchoir. Ia menunggu perintah dari sang raja. “Ambillah pasukanmu, Murdock. Selesaikan semua untuk kaumku!” ucap Melchoir yang dibalas seringaian oleh Murdock. “Serang mereka!” sorak Murdock sambil menganka sebuah pedang kebanggaannya. Kembali balasan riuh dari ratusan pasukan iblis itu kembali memenuhi semua udara. Satu persatu pasukan iblis melompat dan menghilang di balik langit, mereka segera melakukan perjalanan untuk menyerang Kerajaan banjarian. Murdock memerhatikan dengan semangat yang juga menggelora semua pasukannya yang mulai berangkat. “Zarek, kau ambil alih dari sini,” perintahnya pada Zarek yang segera menyusul rombongan pasukan iblis menuju kerajaan bajarian. Raph tersentak. Ia yang sedang bersantai di atas pohon segera meghambur turun. Ia baru saja peghlihatan yang segaja dikirimkan oleh Jendral Murdock padanya. “Val! Bngun!” Raph membangunkan ketua tim demon hunter yang baru saja tertidur beberapa menit lalu. Seminggu berlalu sejak mereka meniggalkan Kerajaan Banjarian untuk menjalankan misi yang tak mau ditunda oleh Raja Mickey. Apapun yangterjadi misi ini harus segera dijalankan, Mickey bersikukuh. Val yang selalu dalam keadaan waspada, segera berdiri dan mengedarkan pandang ke sekililing. “Kau ini!” dengus Valrey yang kesal pada Raph. “Kita harus kembali ke Banjaria sekarang ini juga!” desak Raph. “Memangnya kenapa?” tanya Valrey bingung, ia sedikit memiringkan kepala. “Pasukaniblis dalam jumlah besar akan meyerag Kerajaan Banjarian dalam empat hari lagi!” Nada panic Raph sama sekali tak bisa ia sembuyikan. Valrey tak menjawab, ia masih mecera keterangan dari Raph barusan. Untuk pertama kalinya Raph bertingkah tak tenang seperti ini. Biasanya iblis yang berada di pihak mereka ii selalu dalam keadaan tang dan tak banyak bicara. “Kau serius?” Sargon ikut bergabung degan mereka. “Menurutmu?” Valrey balik bertanya. Lucy, Lugos, dan Maya salig pandang dengan tatapan cemas. Valrey mulai memikirkan jalan keluar tercepat. Mereka takkan bisa sampai tepat waktu jika memulai perjalanan kembali mala mini sekalipun. Satu minggu waktu yang akan mereka butuhkan, itupu sudah memakai kecepatan dalam mode iblis. “Bukankah biasanya mereka hanya megirim sekitar dua puluh iblis setiap menyerang, bahkan terkadang hanya lima.” Lucy maju, bayangan kegelapan yang bergerak di wajahnya semakin menambah kesan suram perjalanannya kali ini. “Aku melihat seratus‒tidak, sepertinya lebih bayak pasukan iblis yang aka menyerang. Zarek medampingi p*********n ini.” Raph menerangkan apa yang dilihatnya tadi. Ini salah satu kemampuan telepati iblisyangpernah terjadi antara Valrey dengan yang lainnya. Walau ia juga tak tahu kenapa Murdock bisa mengirimkan pesan seperti itupadanya. Selama ini ia hanya bisa melakukan telepati dengan Vargas. Sememnak vargas tewas, ia tak perah bisa melakukan telepatiitu lagi. Dan satu yang paling pasti, itu bukalah sebuah mimpi, karena iblis bukanlah makhluk yang membutuhkan tidur seperti manusia. “Lucy, kau yang paling cepat di antara kita. Kau pasti bisa membaut kami sama cepat denganmu,” ucap Valrey yang meyakinkan ditanggapi dengan raut wajah bingug dari Lucy. “Kau bisa mengguakan kekuatan angimu untuk meambah kecepatan pergerakan kita semua.” Raph menangkap maksud ucapan Valrey. Lucy yang akhirnya paham justru menolah dengan setengah hati, “Hal itu akan memakan tenagaku sangat banyak. Aku bisa membuat perjalanan menjadi dua kali lebih cepat, tapi jangan harap aku akan sanggup ikut bertarung setelahnya.” Yang lain saling pandang. Hanya Lucy harapan mereka satu-satunya. Mengingat ada banyak nyawa yang sekarang berlindung di balik dinding kerajaan. Beberapa kelompok yang akan bergabugpun takkan sanggup mengalahkan pasukan iblis dalam jumlah sekian banyak. Valrey menatap Lucy dengan serius, ada rasa memohon di dalam bola matanya. “Baiklah! Setidaknya kita coba,” ucap Lucy akhirnya. Ia berpikir jika hanya dirinya seorang yang tak ikut bertarung nanti, semoga takkan mempengaruhi kekuatan perlawanan dari pihak banjarian. Ia yakin Valrey adalah ketua tim yang akan memimpin dan membuat mereka mengalahkan pasukan iblis nanti. Sekarang, sebuah lempengan batu tipis yag berukuran sebesar meja maka untuk empat orang sudah berada di hadapan mereka. Lucy meminta mereka naik ke atasnya sementara ia berkonsentrasi untuk berubah ke dalam mode iblis. Perlahan sebuah kumpulan angin dibuat oleh Lucy dan ia mengendalikannya agar mengangkat lempegan batu itu. Sementara Lugos berusaha menjaga lempengan batu itu tetap utuh dan tidak pecah selama menerima dorongan angina dari Lucy. Terlihat konyol memng, tapi inilah satu-satunya caraagar mereka dapat kembali ke Kerajaan Bajarian dalam waktu secepat mungkin. Mereka tak bisa membiarkan orang-orang tak bersalah kembali menjadi korban kebrutalan para iblis. “Kalian siap?” Anggukan serempak sebagai jawaban agar perjalanan mereka dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN