Sepasang Penyihir Murni

1106 Kata
Roh alam seolah memiliki rahasia dan cara kerja yang seringkali tak dipahami denga alar manusia. Selama ribuan tahun, roh alam yang tak memiliki wujud itu memilih beberapa orang lelaki dari manusia dan satu perempuan untuk dianugerahi kemampuan lebih dari manusia lainnya. Mereka yang terpilih itu memiliki kemampuan seolah bersatu dengan alam. Manusia biasa sempat memburu mereka karena menganggap manusia-manusia pilihan ini telah bersekutu dengan kaum iblis. Hal ini jauh terjadi sejak sebelum kaum iblis menyerang bumi manusia untuk menggantikan tanah mereka yang sudah hancur karena perang sesame iblis. “Penyihir,” Mickey bergumam saat melihat kemampuan Tahoi yang sebenarnya. Tahoi tersenyum sinis dan kembali memberikan serangan bertubi-tubi pada Mickey yang cukup kewalahan menghindari. Bagaimana tidak, ia diserang oleh suku pedalaman dari segala sisi. “Kau pasti mengira bahwa kami sudah punah, bukan?” ucap Tahoi dingin. “Aku tidak peduli pada keberadaan kaummu selama ini. Kenapa kalian membelot dan menyerangku?” Mickey mulai emosi. “Kaumku? Pada dasarnya kita adalah sama. Sama-sama ada darah manusia yang mengalir di nadi ini. Namun, semua sudah bercapur dengan adanya kekuatan lain setelahnya. Ukankah kau juga begitu, Yang Mulia?” Mickey yang selama ini dikurung dalam goa tersembunyi oleh Yelvan sama sekali tak mengetahuikekuatan apa yang ia miliki selain tenaga yang lebih dari manusia biasa. Ia setuju dengan ucapan Tahoi tadi, bahwa ia juga manusia pada dasarnya, tapi darahnya sudah tercemar saat Yelvan yang terobsesi dengan kekuatan iblis menjadikannya penelitian pertama. Lucy yang belum pulih sepenuhnya lekas bergerak menyerang suku pedalaman yang hendak membuat Mickey tersudut. Ia hanya mampu bertarung dalam wujud setengah iblis. Maya juga ikut membantu, tetapi tiba-tiba Tahoi memerintahkan semua anggotanya untuk berhenti menyerang Maya. Di sinilah kesempatannya untuk membawa Maya sesuai dengan tujuan awalnya datang kemari. “Maya, tak sadarkan jika kita berada di pihak yang sama?” Tahoi mulai. “Apa maksudmu, Tahoi?” Maya menatap tajam dalam posisi siap menyerang. “Jangan gunakan kemampuamu itu untuk melawan kaummu sendiri,” Maya membelalak, ia tak mengerti ucapan Tahoi darahnya berdesir seolah setuju dengan ucapan itu. Maya memang sedari awal merasa ada sebuah keterikatan antara dirinya dengan suku pedalaman. Apa ini berkaitan dengan kekuatan roh alam yang ia ceritakan sebelumnya? Batin Maya. “Maya, jikapun kau memiliki asal yang sama dengan mereka, tapi kuharap kau masih bisa memilih sesuai kata hatimu.” Lucy angkat bicara, ia melihat Maya yang mulai bimbang. Maya menatap Lucy lalu beralih ke Tahoi yang masih menunggu Maya. Lalu Maya kembali ke posisi bertarung dan itu menjadi jawaban yang jelas bagi Tahoi. “Baiklah, jika itu maumu. Seharusnya aku memastikan bahwa kau memang mati di depa mataku!” Tahoi kembali bermain kata-kata yang tentunya akan membuat Maya kembali diserang secara psikis. “Fokus, Maya!” hardik Lucy yang baru saja menghalau balik serangan suku pedalaman yang mengarah ke Maya. Selain Tahoi, mereka semua terdiri dari lima kelompok yang masing-masing terdiri dari empat orang pria. Tak ada perempuan di antara mereka yang ikut bertarung. Seperti yang dijelaskan Tahoi tadi, keampuan mereka dan Maya sangat mirip. Mereka mampu mengendalikan tanaman merambat dan akar pohon untuk menyerang lawan. “Sepertinya mereka tak bisa bergerak sendiri, selain tahoi,” bisik Mickey pada Maya dan Lucy. Mereka mengangguk karena berpendapat sama. Sekarang satu-satunyacara adalah memecah belah mereka terlebih dahulu dan itu akan mempermudah p*********n. Mickey, Maya, dan Lucy bergerak sendiri-sediri. Sedangkan Tahoi menghilang entah kemana. Maya berhasil mengalahkan satu kelompok dan mengikat mereka dengan akar yang muncul dari tanah. Sementara yang lainnya, dibuat terpencar oleh Lucy yang menhantam mereka dengan sebuah angina besar. Ia benar-benar memaksakan diri agar semuanya cepat selesai. “Aku akan menyusul Tahoi!” sorak Maya. Mickey hendak melarang tapi ia diserang kembali oleh suku pedalaman. Maya hanya mengikuti kata hatinya, seolah ia bisa merasakan jejak yang sengaja ditinggalkan Tahoi untuk menyusulnya. Maya sempat berpikir, bagaimana jika ini adalah sebuah jebakan dan ia malah dengan sengaja mengikuti Tahoi. “Tak ada pilihan lain.” Maya memantapkan hati dan bergegas menyusul Tahoi. Ternyata benar, Tahoi sedang berdiri di taman belakang kerajaan. Ia tak sendiri, ada seorang perempuan yang berdiri bersamanya, tapi Maya tak tahu siapa itu. “Maya,” suara aggun itu menyapanya seraya melangkah maju. “Siapa kau?” “Siapa aku?” Eva tertawa pelan, “Akulah ratumu.” Dia semakin maju hingga hanya berjarak sepuluh langkah dari Maya. “Sudah kubilang. Kita adalah kaum yang sama, meski aku tadi sempat menyesal karena dulu tak memastikan kau mati. Namun sekarang sepertinya tidak lagi, jika kau mamilih untuk bergabung dengan kami.” Tahoi ukut mendekat. Maya yang tadi dalam posisi siap bertarug sekarangmengendurkan tubuhnya dan berdiri. Ia bergumam dalam hati, jika memang benar ia seolah memiliki ketertarikan dengan dua orag di depannya ini. “Penyihir. Manusia lebih mengeal kita sebgai penyihir.” Eva menatap dalam mata Maya. “Penyihir?” “Ya. Seharusnya hanya ada satu ratu penyihir hingga reingkarnasi berikutnya terjadi. Namun sepertinya alam melakukan kesalahan karena aku selama bertahun-tahun bersemayam di dalam sebuah bola kaca. Roh alam pasti menganggapku sudah tak ada dan justru malah memilihmu sebagai reingkarnasi berikutnya,” “Karena itu kau ingin membunuhku?” Maya menatap tajam pada Tahoi yang langsug mengiyakan. “Kalian pikir aku akan dengan senang hati menerima uluran tangan kotor itu? Aku tahu dimana seharusnya aku berada!” Maya yag emosi langsung melancarkan serangan. Entah mendapat kekuatan darimana, serangannya sampai membuat sebuah lubang besar di tempat Eva dan Tahoi berdiri tadi. Tahoi maju dan hendak menyerang balik, tapi ia berhenti dan melihat kea rah medan pertempuran. Begitu juga dengan Eva, mereka merasakan sesuatu yang luar biasa tengah terjadi di sana. “Sepertinya kita tidak ditakdirkan untuk menyelesaikannya sekarang,” ucap Eva dengan senyum yang seperti biasa selalu mengisi wajahnya. Ia memang terkesan lembut dengan senyum itu. “Sebaiknya kita selesaikan sekarang!” Maya merasa percaya diri karena kekuatannya meningkat pesat. Eva dan Tahoi tak menanggapi dan menghilang di dalam sekumpulan dedaunan yang entah berasal dari mana. Maya yang juga merasa ada sebuah hal besar sedang terjadi, memutuskan kembali ke gerbang utama. Ia juga ingat tentang Lugos dan Sargon yang terluka tadi. “Maya!” Lugos muncul di ujung koridor dengan langkah tertatih. Sebelah tangan memegangi perutnya sementara tangan satunya berusaha mencari pegangan untuk membantunya berjalan.Maya bergegas menyusulnya. “Apa yang kau lakukan di sini?” Maya memapah tubuh Lugos dan membantunya bersandar pada dinding di sana. “Aku melihat kau menyusul Tahoi. Aku tak bis membiarkan kau sendirian menghadapinya.” Lugos terbatuk, masih ada darah yang keluar bersamaan dengan batuknya. Ia meringis. Maya kembali mengambil posisi seperti ia menyembuhkan Lucy tadi. Ia tak lagi memikirkan darimana semua kekuatan yang ia dapatkan malam ini. “Terima kasih,” ucap Lugos lemah lalu tubuhnya roboh tak bergerak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN