Manusia Iblis Pertama

1230 Kata
“Di mana ini?” Valrey yang sadar membuka kelopak matanya dan mengerjap beberapa kali. Apa yang salah dengan mata ini? Batinnya. Ia kembali memicingkan mata cukup lama dan kembali membuka. Sekarang ia mulai melihat sedikit penampakan, meski masih buram. Seseorang tengah berjalan ke arahnya. Perlahan ia juga takjub denga keadaan sekeliling yang mulai menampakkan pohon yang berjejeran di atas tanah yang tak terlalu datar. Valrey juga mencium aroma lembab dari lumut dan tanah yang masih basah. “Hei!” Valrey berdiri dan melambaikan sebelah tangan pada sosok yang masih berjalan itu. Valrey menyipitkan mata merasa ada yang berbeda dari orang di depan sana. Matanya masih belum terlalu fokus, kepalanya juga masih pusing dan masih ada rasa nyeri di bagian belakang kepalanya. Valrey akhirnya menyadari jika sosok yang sedang berjalan ke arahnya itu bukan seseorang, tapi iblis. Namun entah kenapa, valrey sama sekali tak merasa terancam. Satu hal yang pasti, sosok itu bukanlah Raph karena rupa mereka berbeda jauh. Sekarang iblis itu berdiri diam di hadapan Valrey, mereka sama-sama tak bersuara, hanya saling menatap untuk beberapa menit. Iblis didepannya ini terlihat jauh lebih tangguh dari Raph ataupun Vargas. Ada sesuatu yang terpancar dari iblis itu yang membuatnya bereda, Valrey sama sekali tak merasa bahwa ia adalah sosok yang berbahaya. Fisiknya jauh lebih kuat dari iblis manapun yang pernah bertarung dengannya, ujung daun telinganya yang lancip di isi oleh beberapa tindikan yang sepertinya terbuat dari tulang. Kulitnya bersisik dan pasti sangat tebal, Valrey ragu akan dapat menembus tubuh itu dengan pedang dari tulang iblis sekalipun. Dua tanduk yang melengkung di kepalanya, jauh lebih besar dan terlihat kokoh. Terakhir sorotan matanya yang memiliki pupil berwarna hitam, inilah rupa warna hitam sebenarnya, bahkan taka da cahaya yang bisa menembus ke dalam bola mata itu. “Kau siapa?” Valrey memecah keheningan. Iblis itutak menjawab. Ia justru menoleh ke sebelah kiri, otomati Valrey mengikuti arah itu dengan kepalanya. Di antara pepohonan, ada tujuh sosok iblis yang terlihat sedang berpikir keras. Salah satu dari mereka ada sosok yang tadi berdiri di hadapan Valrey. “Hei! Bukankah itu kau?” Valrey kaget saat melihat sosok di hadapannya tadi sudah leyap. Valrey kembali melihat ke pada tujuh iblis itu. Kakinya membawa tubuh yag masih tertatih itu mendekat. Ia mendengarkan percakapan mereka. “Pada dasarnya mereka memiliki struktur tubuh yang sama denga klan kita, hanya letak jantung yang berbeda,” ucap iblis yang tengah bersandar di slah satu pohon. Valrey semakin mendekat, ternyata ada seorang pria yang sedang tak sadarkan diri di tengah-tengah iblis ini. Mereka pasti sedang membicarakan tentang pria ini. Iblis lain hanya diam, mereka sibuk pikirannya asing-masing. “Daxon! Kau coba padanya terlebih dahulu.” Iblis yang terlihat paling berkuasa itu memeritahkan pada salah satu iblis yang berdiri agak jauh. Daxon mendekat dan meletakkan telapak tangannya pada d**a kiri pria itu. Valrey semakinmendekat karena penasaran dengan apa yang akan terjadi. Perlahan sebuah energimengalir dari tangan Daxon dan masuk ke dalam tubuh pria itu melalui dadanya. Setelah beberapa menit Daxon berhenti dan berdiri agak menjauh. Enam iblis lainnya juga ikut menjaga jarak. Valrey reflek mengikuti mereka. Pria itu mulai sadar dan berdiri, tapi matanya masih terpejam. Ia mulai berjalan sempoyongan, seperti sebuah boneka kayu yang digerakkan dengan beberapa benang. Namun tubuh itu kembali ambruk dan mengalami kejang. Ketujuh iblis itu masih melihat reaksi berikutnya yang akan terjadi. “AAAARRRGGGHH!!!!!” teriakkan pria itu membuat Valrey kaget dan semakin menjauh. Tubuhnya yang masih terlentang itu perlahan mengeluarkan darah dari hidung, mulu, dan telinganya. Bahkan kedua kelopak matanya yang masih tertutup juga mengelurkana darah yang cukup banyak. Valrey berjengit ngeri melihat kejadian yang dialami sang pria. Ia seperti bisa merasakan kesakitan yang dialami orang malang itu. “Tubuhnya tak sanggup menerima. Aku baru memberinya sekitar sepuluh persen kekuatanku,” ucap Daxon menatap tubuh yang sudah tak bergerak lagi. Pria itu sudah tewas. “Dia adalah manusia pertama yang menerima kekuatan iblis,” ucap sosok iblis yang pertama kali muncul di hadapan Valrey tadi. Sekarang semuanya ditutupi kabut tebal, semua kejadian tadi menghilang. Mereka bardua berdiri di sebuah ruang kosong yang sangat gelap. Namun sosok iblis itu masih berdiri di hadapan Valrey. “A-apa aku sudah mati?” Valrey mendadak gugup karena semua hal yang dialaminya sekarang pastilah bukan sekedar mimpi. Arena pertempuran masih ramai dengan baku hantam antara iblis dan manusia. Lebih tepatnya kebanyakan dari mereka adalah manusia setengah iblis. Tak terhitung berapa banyak mayat yang bergelimpangan di sana, hanya sebagian kecil dari mayat itu yang masih utuh, tapi tetap saja masih ada luka besar yang menganga di tubuh mereka. “Lucy! Kau masih sanggup?” Mickey dengan napas tersengal menghampiri Lucy setelah mengalahkan kelompok terakhir suku pedalaman. Lucy mengangguk, ia sudah kembali ke wujud manusia. Sebenarnya ia sudah hampir mencapai batas kesanggupannya. Namun keadaan sekarang ini membuatnya mau tak mau harus tetap turun tangan ke medan pertempuran. Mickey, meski belum berada di keadaan yang sama denga Lucy, ia tetap saja tak bisa berbuat banyak. Raja muda itu menatap pada Lucy yang pastinya terlihat sangat kacau dan lelah., bahkan beberapa luka di tubuhya masih belum menutup. Lucy mengangguk dan segera berlari menuju medan pertempuran, dalam larinya ia kembali berubah menjadi setengah iblis. Pemandangan saat ini tentu saja sebuah pukulan berat bagi pihak manusia. Banyak korban berjatuhan dari pihak manusia. Ia berusaha mencari keberadaan Valrey yang memang tak terlihat dari tadi. Akhirnya ia menemukan tubuh valrey di antara gelimangan mayat. Lucy bergegas meghampiri temannya itu,segera membalikkan tubuhya dan menempelkan dua jarinya ke leher Valrey. “Syukurlah,Val. Aku bis dihajar Sargon kalau kau sampai tewas di sini,”ucap Lucy. Saat ia hendak mengankat tubuh Valrey, mendadak hantaman keras menerpa perutnya. Jendral Iblis Murdock baru saja menyerangnya, seringai menjijikkan seperti biasa selalu terpapar diwajah iblis Murdock. “Aku akan mempercepat prosesnya!” Murdock sekarang tengah menginjak d**a Valrey yang masih pingsan. Lucy berusaha melawan rasa sakit di perutnya. Darah yang ia muntahkan berkali-kali tak membuatnya gentar. Jika rasa sakit tubuhnya bisa sembuh, tapi tidak dengan rasa kehilangan sahabat-sahabatnya. Penyesalan itu pasti akan menghantuinya seumur hidup. Ia masih ingat saat pertma kali berjumpa dengan Sargon dan Valrey. Mereka berdua adalah orang pertama yang ia temui selain keluarganya dulu. “Kau sepertinya tak pernah belajar dari kesalahan yang lalu, ya.” Lucy berdiri dan kembali ke bentuk setengah iblis. Ia akan berjuang sampai akhir jika itu memang diperlukan. “Sepertinya kau melupakanku,” seru Mickey yang mendadak muncul entah darimana dan memberi tendangan pada Murdock. Sepertiya tendangan yang diberikan Mickey tak main-main, Murdock sampai terpental cukup jauh. Ia menatap geram pada penapilan baru yang sekarang ingin bermain-main dengannya. Mickey akan mengulur waktu agar Lucy bisa membawa tubuh Valrey dari sini. Bersenjatakan sebuah pedang dari tulang iblis, Mickey berusaha membuat Murdock sibuk sementara waktu. “Cih!” Murdock mendegkus kesal dan melihat celah untuk memberi serangan pada Mickey. Kali ini Murdock dengan sigap mengejar Lucy yang sudah hampir sampai ke dinding segel. Meski dindig itu bisa ditembus oleh Murdock tapi akan memberikan rasa sakit yang luar biasa dan itu membuatnya meleah untuk beberapa saat. Murdock memfokuskan pandangannya dan dengan cepat melesat menerjang Lucy. Ia kembali menuju Valrey dan saat ingin melempar seranga bola api, Lucy degan cepat menghadang hingga Lucy menerima telak serangan itu. Mickey yang sempat dihalangi oleh beberapa pasukan iblis kembali menyerang Murdock. Amarahnya memuncak melihat Lucy yang sudah tak bergerak dan darah asih mengalir dari ulut dan telinganya. “Kau! Akan kubuat kau merasakan sakit yang sebenarnya!” teriak Mickey.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN