“Mati? Belum saatnya,” ucap iblis yang membuat Valrey medongakkan kepala karena tinggi mereka yang jauh berbeda.
“Lalu? Apa ini?” tanyanya lagi. Sekarang Valrey megangkan kedua telapak tangannya dan mengernyit, ia ingin memastikan jika tubuhya masih ada. semua masih nyata, bahka ia merasakan sakit saat mencubit pipinya dengan kuat.
“Kau sedang berada jauh di dalam alam bawah sadarmu, tempat di mana selama ini aku berada.”
“K-kau benar-benar tinggal di dalam tubuhku? Aku mengira selama ini kau hanya berupa sisa kepingan memori yang tertinggal otomatis saat aku dilahirkan dari garis keturunan langsung pemilik kekuatan iblis.” Valrey bahkan sangat kentara dengannada bicaranya yang terdengar bingung.
Lama mereka terdiam, lalu Valrey menjulurkan tangan hendak menyentuh tubuh iblis di depannya itu. Belum sampai sejengkal jarak tangannya ke tubuh itu, ia berjengit dan segeara mengibaskan tangannya yang sangat perih, perih seperti baru saja dilompati oleh api.
“Api ini selalu terpancar dari tubuh setiap iblis, hanya saja mugkin takkan terlalu menyakitkan pada iblis tingkat rendah,” terangnya.
Perlahan suara aliran air di sungai menyita perhatian Valrey. Sekarang di sebelah kananya, sebuah anak sungai tengah di aliri air dengan tenang. Seorang pemuda dengan kulit kecoklatan karena hasil sengatan matahari sedang berdiri di tengah-tengah aliran air. Ia merukuk dengan mata focus pada sesuatu di dekat kakinya.
Mendadak kepalanya meneliti hutan di sisi kirinya. Valrey tak melihat apapun di sana. Namun ekspresi yang terpancar dari wajah pria itu berkata lain. Ia bergegas keluar dari sungai dan memanjat pohon secepat mungkin.
Valrey kembali menyadari iblis di hadapannya tadi sudah menghilang. Benar saja, iblis itu tengah berdiri di seberang sungai. Sementara di sisi lainnya, tepat di barisan pohon dimana pria tadi bersembunyi, salah satu iblis dari kejadian sebelumnya sudah berada di dahan yang sama dengan pria itu.
Taka da suara teriakkan yang keluar dari mulut pria tadi, meski mulutnya terbuka hendak berteriak. Matanya menatap lekat sosok iblis yang berusaha ia hindari. Hanya denga sentuhandua jarinya di tegkuk pria itu, si iblis berhasil membuat manusia buruanya itu terkulai lemas dan tak sadarkan diri. Dengan sigap iblis yang bernama Rayoq itu menyambut tubuh pemuda tadi dan membawanya turun dengan sekali locatan.
“Dia dari klan penyihir, aku bisa mencium aroma darahnya yang kental,” ucap Rayoq pada iblis yang memimpin mereka.
Rayoq memiliki dua bilah pedang yang disilngkan di punggungnya. Jika diperhatikan sekilas, ia terlihat paling lemah di antara tujuh iblis itu karena kulit tubuhnya terlihat biasa saja. Hampir sama dengan kulit manusia, meski msih sedikit bersisik.
Pemimpin iblis itu memberikan kode agar mereka kembali mencoba melakukan ritual seperti tadi. Kali ini Rayoq yang mengambil peran,ia meletakkan telapak tangannya di d**a telanjang pemuda itu. Ritual itu lebih singkat dari pada sebelumnya.
“ARGH!!!” pemuda itu mendadak bangkit selepas telapak tangan Rayoq menjauh dari dadanya. Pria itu tak lagi takut pada tujuh sosok iblis yang kini mengelilinginya.
Sejenak, ia memandang Rayoq dengan nanar, lalu sesuatu di dalam tubuhnya mulai bereaksi. Kulitnya perlahan menghitam dan berasap, diiringi teriak kesakitan yang mengiris telinga. Valrey mengernyit melihat hal itu terjadi, ia seakan bisa merasakan sakit itu sedang menjalari tubuhnya sekarang.
“AARRGG!! Panaas!!!” teriakannya memenuhi sel-sela pohon yang sepi ini.
Sama seperti percobaan pertama, hanya saja ini lebih mengerikan karena tubuh pemuda itu semkain hangus dan benar-benar terbakar hingga ia terjerembab dan hanya api hitam yang menari-nari di sekujur tubuhnya yang telah hangus.
Sekarang semua kembali gelap. Menyisakan Valrey dan iblis yang kembali telah berdiri di hadapannya.
“Trichtran!” Mata Valrey membesar saat mulutnya mengucap nama itu.
Iblis itu membusungkan d**a, seperti tengah berhadapan dengan lawan dan bersiap akan bertarung.
“Kau Trichtran!” suara Valrey semakin lantang menyebut nama iblis itu.
Seringaian memperlihatkan deretan gigi runcing yang berwarna sangat kontras dengan kulit Trichtran yang sangat gelap. Ia merasa senang namanya kembali dipanggil, disebut oleh manusia yang sekarang menjadi ‘wadahnya’.
Telinga Valrey mendadak mendengar suara riuh di arena pertarungan yang masih bekum usai. Namun keadaan sekelilingnya masih sama. Seringaian Iblis Trichtran semakin lebar dan ia mengangkar sedikit dagunya seolah menginginkan Valrey kembali meneriakkan namanya.
“TRICHTRAN!”
Valrey bangun dan tak butuh waktu lama, tubuhnya berganti dengan sosok Trichtran melalui kobaran api.
“Valrey.” Mickey terpana pada sosok iblis yang muncul dari tubuh Valrey.
“Ti-tidak mungkin!” Murdock juga melakukan hal yang sama. Bahkan matanya kini sepenuhnya menatap sosok iblis yang berada di tengah medan pertempuran.
“MUNDUR!!” Murdock tanpa pikir panjang berteriak untuk memerintakan semua pasukan iblis untuk mundur. Namun terlambat, ratusan api hitam mematikan telah dilontarkan oleh Trichtran ke segala penjuru medan perang. Satu lontaran api itu dalam sekejap membuar tubuhiblis yang disentuhnya menjadi abu.
Murdock menggeram dan berteriak sekali lagi untuk mundur. Trichtran melontarkan ratusan apo hitam kembali tanpa perlu beranjak dari tempatnya. Mickey dengan sigap segera membawa tubuh Lucy dari sana, ia memasuki dinding segel disusul oleh Raph dan puluhan orang-orang yang masih selamat.
“Dia kembali,” ucap Raph pelan, matanya sama sekali tak beralih dari iblis yang masih mengamuk menghancrkan semua lawannya seorang diri.
Murdock yang tak mau mengambil resiko berubah menjadi debu,segera melompat untuk melarikan diri. Tak banyak pasukan iblis yang berhasil selamat dari serangan itu. Namun, Trichtran bukanlah sosk iblis yang akan melepaskan targetnya begitu saja. Sekarang area pertempuran itu sudah kosong, hanya debu yang beterbangan. Matanya menatap jauh lurus ke dalam hutan tempat para iblis mearikan diri. Seringaian kejam muncul di wajahnya, lalu dengan sekuat tenaga ia mengehntakkan satu kepalan tinjunya sambil berlutut. Pukulan itu membuat retakkkan besar dan menjalar dengan cepat menuju pasukan iblis yang sudah cukup jauh
“Cih!” Murdock melihat ke belakang dan menyadari retakan tanah dengan semburan api di dalamnya hampir mencapai kakinya. Ia segera melakukan lompat setinggi mungkin tepat pada waktunya.
“Jadi ini gerbang neraka itu?” gumamnya pelan, dan mendarat cukup jauhdari tempt tadi tapi ia masih bisa menyaksikan kejadian yang telah meluluh lantahkan pasukannya dalam beberapa menit.
Dari setiap retakan tanah itu, seperti sebuah tali yang terbuat dari api menjulur dan menarik targetnya masuk ke dalam tanah. Sesekali semburan api seperti gunung berapi keluar dari tanah saat korbannya telah terbenam kedalam sana.
Di gerbang utama Kerajaan Banjarian.
“Kekuatan apa itu?” Yogi sama sekali tak berkedip melihat kejadian di depannya. Meski cuku jauh, tapi karena keadaan tanah yang datar ia dan yang lainnya bisa menyaksiakn kengerian di ujung sana.
“Itulah kekuatan iblis tingkat satu,” sahut Raph pelan.
Keadaan yang sedah terlihkan oleh kemunculan Trichtran dimanfaatkan oleh orang-orang suku pedalaman yang tadi kalah bertarung melawan Lucy dan Mickey. Mereka hanya tersisa sepuluh orang, sementara yang lainnya sudah tewas. Mereka yang hidup segera meniggalkan tempat itu menuju lokasi yang sudah ditentukan Tahoi.
Seorang pria bertanya pada yang lainnya bagaimana dengan perempuan mereka yang masih berlindung. Suku pedalaman memang selama ini menculik dan mencuci otak setia perempuan yang didapatnya. Semua bukan tanpa alasan. Suku pedalaman adalah sebah klan penyihir setengah manusia, terkecuali Tahoi yang murni penyihir. Klan penyihir hanya memiliki satu ratu dan akan bereingkarnasi setiap seribu tahun. Eva adalah penyandang ratu penyihir sekarang, tapi sebuah kesalahan alam membuat posisinya terancam dengan kelahiran Maya.
“Kita bawa anak-anak saja. Tinggalkan para perempuan itu,” ucap pria yang terlihat paling tua di abtara mereka.
Dalam diam mereka yang tersisa bergerak cepat sementara perhatian yang lainnya masuh terfokus pada iblis yang mengamuk diujung sana.