Ratu Penyihir

1073 Kata
Eva dan Tahoi sedang berdiri di dalam sebuah gua yang sama sekali tak bisa dimasuki cahaya. Namun keadaan gelap gulita itu sama sekali tak mempengaruhi pergerakan mereka. Sihir teleportasi atau berpindah tempat dengan cepat cukup menguras tenaga Eva yang masih sepenuhnya stabil. “Kita tunggu yang lainnya dulu,” ucap Tahoi, ia memilih duduk di puncak gundukan batu. “Aku tak menyangka jika kau akan membantu, Tahoi,” ucap Eva yang selalu keluar dari mulutnya dengan anggun, seolah ia adalah seseorang yang terlahir sebagai bangsawan kelas tinggi. Memang tak ada yang bergitu berbeda dengan fisik klan penyihir dan manusia biasa. Apalagi Tahoi begitu pandai menyembunyikan identitasnya selama seabad lebih. Penyihir memang memiliki usia yang lebih panjang dari manusia biasa. “Mana mungkin aku bisa mengkhianati Ratu klan penyihir.” Nada Tahoi terdengar dingin dan ekspresi wajahnya tak bisa ditebak karena sangat gelap di sana. “Aku bisa memerikanmu sebuah posisi di Kerajaan Iblis,” Eva menatp dengan senyum angkuh pada Tahoi. Pria itu mendengus, meski ia sekarang telah berpihak pada Eva yang adalah seorang ratu di kerjaan iblis, bukan berarti ia akan ikut mengabdikan diri di sana. Tak lama, terdengar langkah kaki diiringi bunyi napas tak teratur yang seolah sedng berebut menghitup udara yang ada di sana. “Glob!” panggil Tahoi. Ia turun dan berjalan menuju sosok yang baru saja datang itu. Tahoi bisa melihat keberadaan anggotanya dengan pancaran aliran darah yang ia lihat dengan matanya. Tahoi yang seorang penyihir murni dan seorang ahli dalammeracik berbagai ramuan apapun tentu memiliki kemampuan indera di atas rata-rata. Tahoi menghela napas kasar karena hanya sedikit dari aggotanya yang selamat. Sepuluh orang ditambah lima anak kecil yang semuanya laki-laki. Mereka memang tak pernah membesarkan anak perempuan yang lahir dari di dalam suku itu. Kelahiran penyihir perempuan dianggap sebagai ancaman bagi posisi Eva. Setiap bayi perempuan yang lahir akan langsung diberikan pada binatang buas di hutan. Terkecuali yang satu itu. Entah kenapa Maya bisa lolos dari maut. Itulah alasan sebearnya Tahoi mau menerima ajakkan Yelvan untuk datang ke istana. Ia ingin memastikan sendiri kebenaran tentang Maya dan jika iya, maka ia harus membunuh Maya dengan tangannya sendiri. “Dia, dia pasti lahir di saat aku sedang disegel di bola kaca, bukan?” Eva bertanya seolah ia bisa mendengar apa yang Tahoi pikirakn. “Hm,” jawab singkat Tahoi. “Baiklah. Kita pikirkan dia nanti. Aku akan kembali beberapa hari lagi,”ucap Eva lalu menghilang dengan hebusan angina yang menerpa wajah mereka di sana. Glob maju dan meminta penjelasan dari Tahoi. Selama ini Tahoi sama sekali tak memberikan penjelasan yang pasti tetang keputusan yang diambilnya untuk mengkhianati kerajaan Banjarian. Namun, suku pedalaman adalah orang-orang yang patuh pada pimpinan mereka, tetap saja ingin tahu alasan sebenarnya. Tahoi menghembuskan napas berat sebelum mulai menjelaskan keadaan sebenarnya. “Aku sudah hidup di dunia ini selama lima ratus tahun. Dahulu klan penyihir terlahir atas kehendak alam karena kelahiran penyihir wanita hanya sekali setiap seribu tahun. Cara alam bekerja memang terkadang di luar nalar.” Tahoi berhenti sejenak, entah apa yang ia pikirkan. “Semuanya terputus sejak kakek dari Yelvan yang memiliki obsesi untuk tidak menua. Dia terlalu jatuh cinta pada kemudaan diriya sendiri, hingga dia membawa semua penyihir yang ia temukan untuk berlomba meracik ramuan yang tepat untuk itu. Dia menjanjikan sesuatu yang sangat berharga bagi kami yag berhasil membuat ramuan itu. Sebuah pulau yang dipenuhi berbagai tumbuhan langka yag tentunya itu adalah sebuah surga bagi klan penyihir.” Semua pendengar di sana terdiam, mereka bisa merasaka hawa berat yang memenuhi ruang gua ini. “Lalu bagaimana bisa sekarang hanya kau seorang penyihir murni yang ada?” tanya lelaki muda yang sangat tertarik dengan sejarah kaumnya ini. Ia sampai menahan napas saat mendegar kisah dari Tahoi. “Sifat tamak ternyata masih mengalir di dalam darah ini. Bukan, dalam setiap jenis darah di dalam makhluk yang bernapas, ada rasa rakus ingin menguasai semua yang ada. perseteruan terjadi higga akhirnya kami saling bunuh, hanya untuk satu alasan. Memiliki pohon Dalgor.” Kepala suku itu menatap anggotanya bergantian, hingga mereka menunduk. Keinginan klan iblis untuk menguasai tanah manusia juga salah satunya yang sedang terjadi sekarang, hingga bayak manusia yang tewas. Daun pohon itu juga adalah salah satu alasan lain Tahoi ingin mendatangi kerajaan yang ternyata itu sebuah kebohongan dari Yelvan. Mereka sangat paham apa yang terjadi selanjutnya. Pohon Dalgor, sebuah tanaman yang memiliki segala khasiat, terutama daunnya yang menjadi penyembuh segala penyakit. Namun yang mereka tahu bahwa Pohon Dalgor sudah punah sejak puluhan tahun lalu, setidaknya begitu dari cerita Tahoi. Tahoi pun masih berusaha mencari-cari keberadaan pohon itu sampai sekarang, hatinya menolak tentang pohon itu yang sudah punah. “Seandainya masih ada pohon itu, mungkin saja ada khasiat lain yang lebih hebat dari pada hanya menyembuhkan penyakit,” celetuk Glob, matanya menerawang mengingat tubuh saudara-saudaranya yang tergeletak tak bernyawa. Ia merasa sebuah batu besar menghantam dadanya dan meempel di sana. Terasa sangat berat, ia membayangkan saudara-saudaranya yang tewas karena mereka harus terjebak di dalam sebuah kerakusan dari klan iblis. Bahkan mereka tak bisa meguburkan saudara-saudaraya itu dengan layak. Lalu, para perempuan yang mereka tinggalkan di sana, bahkan ada istrinya di sana yang tengah hamil tua. Sekarang ia bahkan tak tahu harus berada di pihak yang mana. Pertempuran sudah selesai sejak beberapa jam lalu. Eva tengah melenggang meuju singgasananya yang berdampigan dengan Sang Raja Iblis. Suasana hatinya pasti sangat tak baik saat ini. Sebelum masuk tadi, ia berselisih dengan Jedral Murdock yang pasti baru saja melaporkan hasil penyenragan tadi. “Rajaku, degan cincin Rulp di jarimu, taka da satupun makhluk lai yang bisa menentang kekuatan dan kekuasaanmu, termasuk Trichtran.” Irama biacaranya yang selalu anggun selalu berhasil meredakan level amarah Melchoir. Raja iblis itu menyeringai, memainkan cincin dari batu Rulp yang terpasang di telunjuknya. Ia membenarka ucapan sang ratu. Semuanya akan tunduk pada Raja iblis, tak ada yang tak bisa ia lakukan dengan cicin ini. Eva sang Ratu Penyihir ikut tersenyum melihatseringaian Melchoir. Ia merasa sudah mengabil keputusa yang tepat dengan berada di pihak Melchoir. Ia yakin para manusia lemah itu tak lama lagi satu persatu akan megalami takdirnya. Kematian! “Aku merasa masih ada yang kurang dengan Rulp ini,” ucap Melchoir masih memainkan cincin itu. Eva yang tadi sedang memandangi bola kaca ramalan di sudut kanan, membalik badan dan menatap tak mengerti. Ia sangat yakin kekuatan Rulp sudah pada tahap sempurna, buktinya Rulp sudah membagkitkan ratusan pasukan iblis sekaligus. “Aku ingin Trichtran dan enam pengawalnya tersegel di dalam Rulp ini, selamanya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN