“Aduuuh!” Valrey berkali-kali berteriak kesakitan saat Maya sedang mengobati luka-lukanya.
Untuk kali ini Valrey tak hanya menderita luka fisik yang cukup lama sembuh, ia juga erasa sakit yang berbeda di sekujur tubuhnya yang menurut Maya itu efek dari Trichtran yang mengambil alih tubuhya saat p*********n beberapa hari lalu.
“Aku penasaran, bagaimana cara kau bisa begitu memiliki perkembangan seperti itu.” Sargon yang sudah hampir pulih memasuki kamar Valrey. Ia mengambil sebuah bangku kayu dan meanariknya hingga ke sisi ranjang Valrey.
Sargon tampak berbinar dan menatap penuh minat pada Valrey. Ia tersenyum-senyum kecil dan bersabar menunggu Maya selesai mengobati temannya itu. Sargon tak langsung duduk, ia mengubah posisi bangku hingga membelakangi Valrey, tapi ia mengambil posisi duduk tetap menghadap ke temannya yang masih berteriak, hingga mengundang beberapa pasang mata yang kebetulan lewat mengintip sekilas ke dalam kamar.
“Sudah. Besok aku rasa luka-lukamu sudah akan menutup kembali. Tenagamu sudah mulai puih, bukan?” Maya berdiri dan membereskan botol-botol obat dan beberapa mangkuk tempat ia meracik obat untuk Valrey.
“Kau belajar dari mana? Sebelumnya kau hanya menggunakan tumbuhan saja,” celetuk Lygos yang sudah bersandar di pintu dari tadi. Sebelah tangannya tampak diperban dan ia memangkunya dengan tangan lainnya.
“Hei, kau harus menggunakan kain penyangga untuk tanganmu. Kau mau tulang di dalam sana menjadi bengkok permanen ?” tegur Maya yang sudah kembali berbaika dengan Lugos.
Pertarungan beberapa hari lalu memang benar-benar enguras habis tenaga mereka semua. Apalagi mereka diserang tanpa persiapan yang matang. Korban tewas yang berjatuhan sudah tak terhitung lagi. Mario memutuskan untuk mendata orang-orang yang selamat saja. Akan sangat sulit medata mereka yag tewas karena hanya sedikit mayat yang bisa ditemuka, itupun tak utuh lagi. Sementara sebagian besar tubuh lainnya sudah ikut menjadi abu saat Valrey berubah menjadi iblis tingkat satu.
“Kau pasti sangat dekat denga Tahoi selama mereka di sini, ya?” timp1al` Sargon dengan senyum menggoda pada Lugos.
Lugos melengos dan mengikuti Maya yang tak memperdulikan celotehan teman-teman prianya di sana. Sargon mengacungkan kepalan tangannya saat Lugos menjulurka lidah pada Sargon sebelum menghilang dari sana.
Valrey menggeleng dan meringis saat ingin memundurkan tubuh untuk bersandar pada kepala ranjang. “Kalian seperti bocah saja,” ucapnya.
Sargon yang kasihan melihat Valrey yang bear-benr kesusaha untuk membawa badannya mundur lalu berdiri dan membantu temannya itu, lalu mengambil dua buah bantal dan menyangga punggungnya.
“Kau benar-benar parah kali ini,” ucap Sargon iba.
Valrey terkekeh dan memegangi perutnya yang nyeri saat tertawa. Tawanya berhenti saat Sargon tak merespon balik tawanya, ia kembali tenang dan mengangkat sebelah tangannya seolah menolak Sargon. Ia menggeleng apa yang sedang terpikirkan olehnya sekarang.
“Kau… kau tidak mungkin ‘seperti itu’ padaku, kan?” tanya Valrey dengan mata membulat.
Sargon memiringkan kepalanya sedang mencerna ucpan Valrey. Lalu berdiri dengan wajah terkejut dan menunjuk Valrey degan tegas.
“Kau! Aku masih normal! Sangat menjijikkan jika kau berpikiran ‘seperti itu’!” hardiknya.
Valrey tertawa, tentu saja ia tahu kalau teannya itu masih memiliki rasa ketertarikan dengan lawan jenis. Ia perah melihat Sargon sedang menggoda beberapa perempuan saat mereka sampai di sini.
“Aku bercanda. Baru kali ini kau terlihat sangat khawatir denganku.” Di dalam hati Valrey snagat bersyukur karena sekrang ia memiliki beberapa orang terdekat yang benar-benar memikirkan keadaannya.
Jika mengingat bagaiana sura hidupnya dulu, diusir dari desa,kedua orang tuanya meninggal tak lama setelahnya dan hidup sendirian bertahun-tahun di dalam hutan, seua karena bentuk fisiknya yang memang berbeda dengan manusia lainnya. Bola atanya yang hitam persis seperti iblis dan ujung daun telinga sedikit runcing walau tak persis seperti iblis, tetap saja membuatnya tak diterima dengan baik oleh penduduk desanya dulu. Mereka menganggap Valrey sebagai pembawa sial. Walau begitu, ia sama sekali tak menaruh dendam pada orang-orang sekitarnya, ia selalu ingat perkataan Ayahnya yang selalu mengingatkan bahwa Valrey adalah seseorang yang terlahir lebih sempurna dan memiliki kekuatan yang luar biasa, karena itu orang-orang desa membencinya.
“Kau masih belum menjawab pertanyaanku tadi,” sele Sargon di tengah lamunan valrey.
“Ehm, aku juga tak tahu. Tiba-tiba aku merasa tersedot ke dalam semacam ruang hampa yang benar-benar gelap. Awalnya aku emngira kalau sudah tewas,” kekehnya.
“Kau bertemu ‘dengannya’ saat itu?”
Valrey mengagguk. “Aku sepat diperlihatkan bagaimana dua orang pertama yang mereka jadikan penerima kekuatan iblis justru tewas karena tubuh mereka yang tak sanggup.” Ia tertegun kembali terbayang kejadian mengerikan saat kedua manusia itu tak sanggup menampung hanya sebagian kecil kekuatan iblis.
“Menurutmu kenapa kita dan semua pendahulu kita bisa, ya?” tanya Sargon.
Obrolan mereka disela oleh kedatangan Lucky yang diekori oleh Lugos dan Lucy. Lucy terlihat paling ‘sehat’ di antara mereka semua, sesekali ia masih meringis dan membungkukkan badannya menahan nyeri di perunya.
“Bagaimana keadaanmu?” Mickey berdiri di ujung ranjang dan enatap Valrey santai seperti biasa. Wajahnya masih ada beberapa luka dan lebam di sudut bibir dan matanya.
“Jauh lebih baik daripada kemarin.”
Mickey menghela napas lega. Lalu ia berbalik dan memerintahkan Mario yang baru datang untuk memeberitahu Maya agar segera bergabung di sini.
“Apa ini semacam pesta perayaan?” tanya Valrey.
“Ya. Bisa dikatakan begitu,” jawab Mickey santai.
“Perayaan karena Valrey sudah ‘membereskan’ kejadian lalu,” ucap Mickey dengan tawa ringan. Ia benar-benar tak bersikap seperti seorang raja.
Maya datang tak lama kemudian dan ikut bergabung. Ruangan yang tak terlalu luas itu sekarang penuh, mereka semua tetap berdiri dan bersiap mendengarnkan ucpan Mickey.
“Aku meminta Rph untuk tetap tinggal di sini salama kalian menjalankan misi,” ucap Mickey serius.
“Misi apa?” Valrey memperbaiki duduknya.
“Kembali ke misi pertama kalian. Menemukan tiga pemilik kekuatan iblis lainnya. Aku ingin secepatnya, mengingat p*********n kaum iblis bisa saja kembali dalam waktu tak terduga.”
“Itu akan sangat gampang jika kami sudah mengetahui dimana saja mereka berada. Namun saygya tidak,” jawab Valrey.
“Sebelumnya aku menemukan segala informasi dari catatan pribadi Yelvan. Ia selama ini memperkirakan dimana saja posisi ‘kalian’. Walau hanya keberadaan Sargon yang tepat sementara yang lainnya, termasuk kau, datang dengan sendirinya.”
“Lalu?” Valrey kembali menyandarkan tubuhnya.
“Aku akan memberitahu tiga titik lainnya. Semoga saja lokasinya tepat dan semakin menghemat waktu.”
Mereka terdiam, lalu Sargon memecah kesunyian, “Kenapa kau tidak mengutus beberapa tim untuk ke sana? Kenapa harus kami?”
Mickey menghela napas. “Apa kau akan langsung percaya pada beberapa orang asing dengan senjata lengkap yang hendak membawamu bergabung dengan kerajaan?” Mickey menaikkan sebelah alisnya pada Sargon.
Sargon menghindari tatapan Mickey yang sekarang sangat meremehkannya. Ditambah Lugos yang mengangguk mendukung pertanyaan Mickey tadi membuat Sargon melempar tatapan kesal padanya.
“Baiklah. Segera setelah kami semua pulih. Kau bisa berikan catatan itu pada Sargon,” jawab Valrey santai.
Mereka hanya tahu satu dari tiga manusia itu adalah pemilik kekuatan petir, seentaradua lainnya masih belum diketahui.
“Aku akan mebantumu untuk menemukan mereka. waktu kita sangat sempit.” Suara yang tak asing itu membuat Valrey menatap Sargon.
“Apa?” tanya Sargon melihat tatapan Valrey yang aneh.
“Dia baru saja berbicara padaku,” jawab Valrey dengan takjub.