Monumen

1123 Kata
“Aku merasa dalam perjalanan kalian kali ini takkan ada p*********n baru dari iblis,” ucap Raph yang tengah mengawasi pebangunan sebuah monument di depan gerbang masuk kerajaan. Sargon kadang merasa aneh pada teman iblisnya satu ini. Raph benar-benar berpihak sepenuhnya pada manusia. Awalnya Sargon mengira jika Raph akan kembali ke klan iblis setelah kematian Vargas, atau setidaknya iblis itu akan meninggalkankelompok mereka dan berkelana sendiri jika bergabung kembali pada klan aslinya takkan membawa hasil bagus. Siapapun pasti takkan menerima kembali seorang pengkhianat dengan tangan terbuka tentunya. “Kau pasti heran melihatku sekarang, bukan?” tanya Raph seolah mengerti dengan pandagan Sargon terhadapnya. Sargon segera mengangguk, sama sekali tak berusaha mengelak walau mugkin saja itu akan menyinggung Raph. Namun iblis bukanlah sosok makhluk yang mengutamaka perasaan seperti manusia, mereka hidup dan bertindak atas dasar logika dan keinginan yang kuat. “Aku bukanlah sekedar bawahan yang harus patuh pada atasanku, Vargas. beberapa iblis akan memiliki hubungan yang kuat karena kesetiaan bawahannya. Behkan kesetiaan itu bisa menimbulkan sebuah kekuatan baru yang tak dimiliki oleh iblis lainnya. Termasuk Melchoir.” Raph sekarang berjalan pela mengelilingi pekerja yang masih sibuk memotong-motong kayu. “Kesetiaan seperti apa? Apa sama dengan sepasang suami istri?” celetuk Sargon yang sama sekali tk bermaksud menyinggung Raph membuatnya tersentak dan meyengir pada Raph. “Kami melakukan perjanjian darah. Aku sudah meminum darah Vargas saat berjanji engbdikan kesetiaanku sebagai bawahannya. Tak banyak iblis yang mau melakukan itu.” “Lalu kenapa kau mau?” “Aku melihat sesuatu yang berbeda dari pandangan Vargas tentang perang ini. Klan kami benar-benar sudah merampas semua milik manusia di sini. Apalagi saat Vargas mengetahui sebuah kenyataan besar yang selama ini disembunyikan Melchoir.” Raph berhenti saat mereka sudah cukup jauh dari orang-orang di sana. Sargon diam, masih menunggu kelanjutan cerita dari Raph. “Trichtran adalah Raja Iblis yang sudah dikhianati oleh Melchoir.” Mata Sargon membesar dan ia tak sanggup berkata-kata. Raph menatap Sargon dan mengangguk. “Tujuh manusia pemilik kekuatan iblis mendapatkannya dari Trichtran dan enam bawahannya yang paling setia. Mereka berenam sudah melakukan perjanjian darah dengan Trichtran, seperti aku dan Vargas.” “Ja-jadi Valrey adalah Raja Iblis itu?” tanya Sargon masih terkejut. “Bukan seperti itu cara pikirnya. Valrey dan kalian berenam adalah manusia biasa yang menjadi ‘wadah’ khusus bagi kekuatan iblis Trichtran dan enam pengikutnya.” Sargon masih mencerna setiap perkataan dari Raph. “Kau ingat bagaimana Lucky enerima kekauatan dari Vargas? ia berbohong jika memberikan setengah kekuatan iblisnya. Itu hanya sebagia kecil dari kekuatan Vargas. lihat apa yang Lucky alami?” Sargon mengangguk. Ia kembali teringat Lucky yang sudah tewas sejak ditangkap oleh Gavrog. Raph yang memberitahu mereka. namun sekarang Sargon seakan mengerti sesuatu, jika selama ini Raph selalu mendapat berita dari sana dari siapa. “Apa Vargas masih hidup?” tanyanya yang membuat Raph sama sekali tak terkejut. Iblis itu mengangguk, membuat Sargon mengerti kelebihan antara hubungan Vargas dan Raph. Mereka bisa saling berkomunikasi lewat pikiran. “Kau megerti? Kalian juga bisa melakukannya. Hanya saja belum mengetahui bagaimana caanya,” ucap Raph lalu melangkah mendekati kayu-kayu yang sudah berdiri dan membetuk sebuah tiang besar yang cukup tinggi. Raph meminta Mickey membangun sebuah monument peringatan atas nyawa-nyawa manusia yang telah tewas selama perang dengan iblis berlangsung. Itu adalah betuk permintaan maafnya pada manusia atas kekejaman yang telah mereka alami dari klannya. Mickey tengah turun tergesa-gesa diikuti Mario dan beberapa orang lainnya. Ia baru saja mendapat kabar dari Yogi jika beberapa kelompok lain sudah dekat dengan kerajaan. Dia akan menyambut langsung kedatangan orang-orang yang akan bergabung menjadi bagian dari kerajaan Banjarian itu. “Ada apa?” tanya Sargon heran. “Beberapa kelompok baru datang, dan Yang Mulia akan menyambut mereka langsung,” jelas Mario. Beberapa menit kemudia benar saja tampak sepuluh kendaraan truk yang menapung banyak orang di dalamnya. Wajah Mickey seketika cerah. “Kami lebih kaya dari and,Yang Mulia,” canda Yogi. “Ya, tentu saja.” Mickey sama sekali tak tersinggung dengan candaan Yogi. Memang kenyataannya begitu, seua kendaraan yang kerajaan miliki sudah hancur lebur saat menerima beberapa kali serangan. Tak ada yang tersisa satupun, bahkan tidak untuk diperbaiki. Sekarang ‘rongsokka’ itu sudah disingkirkan ke bagian barat kerajaan dan ditumpuk di sana untuk sementara. Sekitar lima ratusan lebih orang turun dari seua truk dan mengikuti arahan beberapa petugas kerajaan. Mereka dipersilahkan untuk menghuni sisi timur kerajaan karena hanya di sana yang terdapat beberapa ruangan besar yang sekarang sudah di sulap seperti kaar asrama dengan puluhan ranjang tingkat di dalamnya. Itu sudah sangat mewah dibandingkan dengan tidur di atas selembar kain tipis yang mengalas tanah selama mereka di lokasi persembunyian. Sargon menaikkan sebelah alisnya melihat Mickey yang rela menyambut langsung tamu-tamunya. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa Mickey memiliki watak yang sangat berbeda dengan ayahnya. “Sargon!” sapa suara barithon yang sudah lama tak didengarnya. “Yoshi!” Sargon mendekat dan saling berjabat tangan. Mereka saling berbasa basi dan Sargon tak mengira jika Yoshi berhasil selamat dari serangan yang menurut kabar ia terima telah menewaskan semua penghuninya, tepatnya di distrik pengungsian Taman Raya. Yoshi adalah salah seorang teman Sargon, mereka dan Vio sempat berada di battalion yang sama sebelum terpish karena Yoshi dikirim ke lokasi lain. “Apa ini sebuah monument?” tanya Yoshi, kepalanya mendongak menatap puncak tertiggi monumen itu. Sargon mengangguk, wajahnya kembali dingin mengingat begitu banyak nyawa yang telah tewas yang bahkan hanya nama paggilan mereka takkan muat jika ditulisakan di seluruh bangunan itu. Sargon meneragkan sekilas jika bangunan yagn nantiya berbentuk pergegi itu akan semakin mengerucut ke atas dan memiliki tinggi enam meter dengan sebuah ukiran api di puncaknya. “Aku dengar, Vio…” ucapannya terhenti dan ia menatap Sargon yang masih mendongak ke pucak bangunan. Sargon hanya diam, Yoshi menepuk pundak Sargon. Mereka saling menguatkan diri atas kematian Vio. Hubungan spesial yang mereka bertiga miliki bukanlah soal percintaan segitiga. Namun mereka berjanji akan saling melindungi satu sama lain. Sebuah kenyataan yang hanya mereka bertiga ketahui, bahwa Yoshi, Sargon, dan Vio telah menjalani masa kecil bersama di sebuah panti asuhan dan meutuskan untuk bergabung dengan militer kerajaan untuk melawan iblis. Pertama kalinya Sargon tak bisa menyembunyikan lagi rasa sedihnya selama ini. “Kau tahu, dia pasti akan mengataiu habis-habisan jika melihatmu lemah begini,” hibur Yoshi. Meski ia adalah seseorag yang memiliki iblis yang bersemayam di dalam dirinya, tapi ia tetaplah memiliki sisi kemanusiaan yang masih didominasi oleh emosi. “Sebaiknya kau bergabung di dalam. Aku masih harus menyiapkan beberapa hal sebelum beragkat tiga hari lagi.” Sargon kali ini yangmenempuk punggung Yoshi. Ia melihat punggung sahabatanya itu hingga menghilang di balik pintu asuk utama. Ia masih ingin nerdiri di sini untuk beberapa saatsebelum masuk ke dalam dan bergabung dengan Valrey yang dari pagi tadi sudah mulai membaca catatan Yelvan yang Sargon serahkan kemarin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN