Demon Hunter Squad yang dipimpin oleh Valrey, sekarang tengah elangkah meninggalkan kerajaan Banjarian. Mereka akan melakukan perjalanan ke sebuah gunung di ujung pulau besar ini. Gunung Maroka, bukan gunung berapi aktif,di puncaknya ada sebuah telaga dngan air yang mangandung zat asam sangat tinggi.
“Masih ada satu mobil yang bisa kit gunakan. Kenapa malah berjalan kaki?” keluh Sargon yang berjalan di belakang Valrey.
“Aku sudah bulat dengan keputusanku. Kauharus mengikutinya,” jawab valrey ketus.
Ia memilih membawa timnya melalui jalur hutan dari pada jalanan biasa denga kendaraan. Bukan akrena ia takut diserag oleh iblis yang tiba-tiba muncul, tapi ia hanya tak sanggup melalui puluhan desa mati yang sudah hancur. Membuat perasaannya semakin bersalah karena masih banyak jatuh korban hingga sekarang. Lagi pula, jika mereka berkendara dengan mobil, otomatis merka akan melalui desa tempatnya dilahirkan. Ia juga ingin menghindari itu.
“Tunggu!!!” sorakkan suara yang taka sing selama beberapa hari ini membuat langkah semuanya berhenti.
“Apa yang dia lakukan?” tanya Sargon dengan tatapan tak percaya pada sosok Yoshi yang sedang berlari sekuat tenaga mengejar ketertinggalannya.
Tk sampai satu menit, Yoshi yang sudah lengkap dengan persediaannya di dalam sebuah tas ransel besar yang ia sandang, sedang berusaha mengatur napas karena ia benar-benar berlari sekuat tenaga.
“Kau baik-baik saja?” Maya maju dan menaruh sebelah tagannya di punggung Yoshi.
“Baiklah! Ayo kita lanjutkan!” perintah Valrey yang membalik badan dan kembali berjalan semakin dalam memasuki hutan.
Sargon hanya mengikuti degan menggeleng karena ia tak menyangka jika Valrey benar-benar mengizinkan Yoshi ikut dalam misi mereka. Lucy tertawa kecil melihat ekspresi Sargon da menepuk pundaknya.
“Baguslah jika semakin ramai,” ucapnya lalu berhenti menunggu Yoshi yang berjalan paling akhir.
Sargon masih tak terima dan berlari mengejar Valrey. Ia ingin protes.
“Misi ini sangat berbahaya, bisa saja iblis atau monster baru menyerang kita di tegah perjalanan. Dan kau mengizinkannya?” tanya Sargon ketus pada valrey yang masih tak acuh.
“Kau meremehkanku, ha?” Yoshi kembali berlari dan hendak menyerang Sargon dengan tendangan. Secepat kilat Sargon menghindar dan berhenti dengan tatapan marah pada Yoshi.
Valrey, Lucy, Maya, dan Lugos sudah tak heran melihat sargon dan Yoshi yang selalu tak akur dua hari ini karena inilah bentuk hubungan mereka sebenarnya. Sementara kesedihan dan gerakkan saling menepuk pundak saat kedatangan Yoshi hanya sampai di situ saja. Setelahnya ereka benar-benar tak bisa akur. Bahkan pertengkaran mereka lebih parah dari pada hubungan Sargon dan Lugos yang masih dingin.
“Sudahlah, kita lanjutkan saja,” ajak Lugos pada yang lainnya.
Mereka meninggalkan sepasang sahabat lama itu yang masih sibuk perang mulut dan akhirnya saling berguling di tanah karena Yoshi menghambur kea rah Sargon dan berusaha memitingnya. Lucy yang cemas jika Sargon lepas kendali, terpaksa kembali dan memisahkan mereka. Valrey tertawa melihat kelucuan di dalam timnya dan kembali melanjutkan perjalanan.
Malam ini mereka beristirahat di sebuah hamparan rumput yang masih berada di tengah hutan. Valrey sengaja mencari jalur baru yang kemungkinan tak pernah dilewati siapapun untuk menghindari serangan iblis atau makhluk lainnya. Mereka cukup lelah menghadapi serangan demi serangan yang seakan tak pernah putus dalam sebulan ini.
“Sebaiknya kita berjaga bergantian setiap satu jam, lalu akan kembali melanjutkan perjalanan.” Valrey berada di giliran kedua akan berjaga setelah Yoshi.
Mereka tidur mengelilingi api unggun, sedangkan Maya memilih tidur terpisah. Yoshi bersiap dengan senjata andalannya, yaitu dua bilah pedang dari tulang iblis yang diberikan Yogi padanya. Yoshi, meski tak memiliki kekuatan iblis di darahnya, tapi ia bukanlah prajurit sembarangan. Ia takkan segan menyerang langsung iblis yang menjadi lawannya. Apalagi sejak satu kelemahan iblis sudah menajdi rahasia umum, akan semakin mempermudah gerakan Yoshi dalam menghabisi mereka. Malam ini mereka bisa beristirahat degan tenang tanpa gagguan dari siapapun.
“Menurutmu arah mana yang kita ambil?” tanya Lucy yang mendekati Valrey.
Mereka tengah beristirahat di pinggir sungai kecil. Sungai ini sangat dangkal karena sekarang sedang jarang turun hujan. Sargon dan yang lainnya sedang mempersiapkan makan siang mereka degan menagkap beberapa ekor ikan di sisi lain sungai.
“Hei! Ayo makan!” Lugos berteriak, dia sudah menyiapkan beberapa ekor ikan yang ia tancapkan pada ranting dan di pajang di sekeliling api unggun.
Aroma harum ikan itu seketika membuyarkan keseriusan Valrey dan membuat sifat aslinya muncul. Ia bergegas dan mengambil dua ikan sekaligus. Sementara yang lain hanya tergelak melihat tingkah pemimpin mereka.
Mereka memutuskan istirahat beberapa menit lagi. Lugos sedang menimbunbekas api unggun tadi, untuk membuat kesan seolah takada yang pernah singgah di sini.
Valrey menjauh, ia melihat sebuahbatu yang sangat besar di seberang sungai. Ia memutuskan untuk mencari ketenangan di sana. Dengan sekali loncatan besar, ia sampai di atas batu dan duduk bersila. Ia berusaha memjamka mata dan membayangkan sosok Trichtran yang pernah ia jumpai sebelumnya.
Tak lama, suara kekehan kecil yang berat terdegar di dalam pikirannya.
“Akhirnya aku bisa juga bertemu denganmu lagi,” uajr Valrey senang di dalam hatinya.
“Kau tak perlu bermeditasi seperti yang lainnya jika inginberbicara denganku. Cukup panggil aku saja,”
“Begitukah? Kenapa sekarang kita bisa berkomunikasi satu sama lain? Selama bertahu-tahun ini kenapa kau diam saja?” tanya Valrey lagi.
“Aku sedang mencari waktu yang tepat untuk menampakkn diri. Dan juga tubuhmu takkan sanggup jika tidak melalui tahapan yang benar,”
“Tahapan apa?” Valrey bingung. Ia sedikit memiringkan kepala.
“Kau harus melalui setiap tingkatan kekuatan iblis sebagaimana seharusnya. Sudah dua kali kai pignsan saat memasuki tinkat dua. Itu karena tubuhnmu masih belum sanggup.”
”Hmm, begitu. Karena itu juga kesembuhanku melambat usai perang kemaren.”
“Gyordanth, salah satu dari iblis kepercayaanku sekarang sedang diasingkan di sebuah pulau terpencil di sisi barat. Aku pergi dulu,”
“Hei!” teriak Valrey kesal karena Trichtran pergi seenaknya. Ia tak sadar jika teriakkannya barusan juga terucap langsung dari mulutnya sehingga membuat yang lainnya menoleh dengan penasaran.
“Kau baik-baik saja?” tanya Lugos yang sudah menyelesaikan tugasnya.
“Ya. Hanya kesal dengan Trichtran yang seenaknya pergi setelah memberikan info yang tidak begitu jelas,” sungut Valrey kesal. Ia kembali melompat turun dan menyeberangi sunga untuk bergabung dengan timnya.
“Kau baru saja bicara padanya?” Sargon dan Lucy cukup kaget karena terakhir kali Valrey melakukan itu, ia masih menghanguskan semua yang ada di sekelilingnya.bahkan Lugos sudah menyerah mengajarinya.
“Kenapa kalian seperti itu?” Valrey kembali mengambil tas dan senjatanya lalu memberikan kode dengan sekali lambaian tangan agar yang lain segera mengikutinya.
“Kau pelit sekali,” dengus Sargon yang sekarang berjalan sejajar dengan Valrey.
Dia tak menanggapi, tetap terus menatap ke depan dengan langkah yang semakin cepat. Hal itu membuat Sargon kesal dan hendak menendangnya,bukan tendangan sebenarnya. Hanya untuk meluapkan kekesalannya karena dari beberapa hari lalu Valrey tak mau berbagi trik apapun padaya. Valrey segera menghindar dan mulai berlari, tentu saja segera disusul oleh Sargon.
“Apa mereka memang selalu begitu?” Yoshi sekarang mendekati Lucy. Ia benar-benar heran meilhat perubahan besar pada teman lamanya itu.
Memang Sargon dan Yoshi sering bertengkar, bahkan karena hal sepele. Namun Sargon yang selama ini ia kenal adalah orang yang dingin dan irit bicara, juga mulutnya akan mengeluarkan kalimat tajam yang bisa membuat lawan bicaranya terintimidasi. Apalagi sejak mereka masuk militer bersama Vio, itu benar-benar membuat perubahan padanya.
“Lihatlah dia sekarang, seperti anak kecil saja.” Yoshi tersenyum melihat sahabatnya itu lebih cerewet dan ceria dari pada dulu.
“Ya. Valrey membawa perubahan pada orang di sekitarnya. Sebentar lagikau juga akan mengalami,” jawab Lucy dan menepuk pundak Yoshi.