Sesuai dengan petunjuk dari Trichtran, Valrey dan timnya akan menuju ke pantai yang berada di sisi barat. Tak jauh dari bibir pantai, masih ada beberapa bangunan rumah yang cukup layak untuk ditinggali. Namun di situasi seperti ini tak mungkin ada manusia yang ingin mengambil resiko untuk tetap menghuni desa. Mereka lebih memilih untuk bergabung dengan sekian banyak kelompok pengungsian yang disediakan oleh Yelvan.
“Tunggu!” Yoshi segera menarik tangan Maya dan menariknya mundur.
“Ada apa?” tanya Maya kaget. Ia sampai menahan dadanya agar jantungnya tak melompat keluar.
“Jebakan. Masih ada orang di sini.” Yoshi menunjuk sesuatu di tanah.
Semua mata mengikuti arah tunjuknya. Di bawah sana ada rentangan benang plastik yang cukup rendah, hanya beberapa senti dari tanah. Maya hampir saja menginjak benang itu, untugn saja segera ditarik oleh Yoshi. Sekian tahun berada di militer membuat Yoshi selalu awas pada jebakan-jebakan menipu seperti ini.
Yoshi menelusuri arah benang ini, lalu menemukan sebuah papan yang dipasangi kayu tajam yang sangat runcing. Jika seseorang menginjak benang tadi, maka otomatis akan membuat papan kayu itu segera terlontar dan menghantam tubuh di sekitar sana.
“Lihat, bukan hanya itu.” Yoshi memberitahu masih banyak papan-papan lain dan batangan kayu yang sangat berat digantung di atas dahan-dahan pohon.
“Tentunya ini bukan untuk berburu makanan,” ucap Valrey.
Valrey sekarang menyerahkan kuasa pada Yoshi untuk memimpin perjalanan mereka. jangan sampai salah satu dari mereka menginjak jebakan-jebakan tadi. Untuk mencapai pasir pantai di depan sana, ada puluhan jebakan berbeda yang terdapat di sana.
“Aneh bukan? Untuk apa jebakan itu di buat, sementara desa ini sudah lama ditinggalkan,” Lugos bertanya pada Lucy. Dia hanya mengangkat bahu karena juga tak mengerti.
“Lebih baik tetap waspada.” Valrey mengingatkan mereka.
Mereka berjalan dalam barisan yang dipimpin oleh Yoshi, seiap bekas jejak kaki Yoshi itulah yang diinjak Valrey kembali, diikuti oleh Maya, Lugos, Lusy, dan Sargon paling terakhir. Bhka Sargon yang pernah berada di militerpun tak secepat Yoshi untuk menyadarinya. Maya yang terlihat paling hati-hati setiap mengambil langkah, jangan sampai ia mengacaukan semuanya karena menginjak salah satu jebakan itu.
“Apa di sini aman?” tanya Valrey pada Yoshi yang sedang mengedarkan padang ke sekeliling.
Yoshi kemudian mengangguk karena sekarang merka sudah menginjakkan kaki di hamparan pasir pantai yang luas. Di depan sana deburan ombak membuat keributan.
Valrey memandang ke seberang lautan, matahari sedang menuju ke bawah untuk bersembunyi di dalam batas garis laut.
“Sebaiknya kita istirahat di sana saja malam ini,” teriak Valrey.
Teriakkannya sama sekali tak menerima jawaban. Entah sejak kapan semua anggota timnya sudah berada di sisi lain dan sibuk bermain air. Valrey tersenyum dan menggeleng melihat kelakuan semua teman-temannya. Namun sesuatu membuatnya segera menoleh ke belakang, ia sempat melihat kilasan siluet yang seperti mengintip dari balik bangunan kayu yang hampir roboh. Valrey hendak memanggil mereka agar memeriksa semua bangunan itu. Namun beberapa kali dipanggil, taka da yang merespon karena mereka tegah larut dalam kebahagiaan yang sudah lama tak mereka rasakan.
“Lebih baik aku periksa sendiri saja,” ucap Valrey. Ia meninggalkan tas persediaannya dan hanya membawa sebilah pedang yang sekarang menjadi senjata tetapnya.
Ia tetap waspada, hanya ada total dua puluh bangunan di sana. Ia juga melangkah hati-hati agar tak terkena jebakan jika saja ada yang memasangnya di sini. Langkahnya mengendap-endap. Sudah lima rumah ia periksa, semua terlihat sama, penuh dengan debu dan jarring laba-laba. Sudah pasti sudah lama rumah-rumah itu ditinggal.
SRAK, SRAKK!!
Suara itu segera menarik perhatian Valrey. Ia bergegas keluar dari rumah ke enam yang sedang ia periksa. Tak ada siapapun di sekitar sana. Namun Valrey meningkatkan kewaspadaannya. Tangan kanannya beralih ke pegangan pedang dan bersiap menarik senjata itu jika ada serangan tiba-tiba. Kembali suara itu terdengar, tapi masih tak ada apapun yang terlihat di sekitar sana.
“Kami tak mencari lawan di sini!” teriak valrey. Ia menyadari jika memang ada seseorang karena rumput yang setinggi pinggang itu bergerak hanya di satu tempat.
Valrey berjalan perlahan, ia sudah memegang pedangnya dengan kedua tangan, setiap saat bersiap megayukannya pada musuh di depan sana.
“Ja-jangan bunuh aku,” isak seorang perepmpuan yang tengah meringkuk ketakutan di atara rumput-rumput itu.
Valrey menghembuskan napas lega, ternyata yang ditemuinya adalah manusia. Ia segera menyarungkan pedagnya kembali dan mengulurkan tangan hendak membantu perepmpuan itu berdiri.
“HIAA!!!”
Valrey dengan sigap berbalik dan menghindari serangan mendadak dari belakangnya. Valrey sempat melihat perempuan tadi dengan cepat berlari ke dalam slah satu rumah yang belum sempat diperiksa Valrey.
“Tunggu!” Valrey berusaha menghentikan serangan membabi buta pria di depannya ini.
“Kau iblis! aku aka membunuhmu!” suara serak penuh kemarahan keluar dari mulut pria itu.
Akhirnya Valrey tak punya pilihan, sebelah tangannya dengan cepat berubah ke mode iblis dan ia memegang pedang yang diayunkan pria itu.
“Aku buka iblis dan bukan datang kemari untuk menyerang siapapun!” tegas Valrey.
“Kau! Pemilik kekuatan iblis juga?”
Pria itu segera menurunkan pedangnya setelah Valrey melepaskan genggamannya tadi. Valrey juga kembali mengubah tangannya ke wujud manusia.
“HEI!” sorak Sargon dan yang lainnya dari jauh. Mereka semua segera berlari dan meyusul Valrey.
Pria itu terlihat takjub melihat kehadiran orang-orang yang sekarang berada takjauh darinya.
“Mereka sama sepertiku,” ucap Valrey memberikan penjelasan pada pria ini.
Tak lama ia berdeham membersihkan tenggorokkannya dan bersorak, “Keluarlah!”
Sekarang beberapa pintu rumah di ujung sana terbuka perlahan. Masing-masing penghuni rumah itu keluar, sama sekali tak tampak takut atau ragu. Ada sekitar dua puluh orang yang berdiri dalam satu kelompok tk jauh dari mereka.
Pria tadi memberi isyarat agar Valrey dan timnya mengikuti pria itu.
“Mereka sama seperti Palito.” Pria itu berkata degan suara berat dan serak. Ada sedikit emosi di dalam suaranya.
Ekpsresi orang-orang di sana berubah takjub dan kagum, mereka bergantian memandang ke enam wajah asing yang sepertinya sangat mereka nantikan. Salah seorang perempuan tua maju da menggenggam tangan Valrey, ia masih tak berkata-kata, hanya menatap Valrey dan mengangguk lalu melepaskannya kembali.
“Jadi kami sebelumnya hidup nomaden. Tentu saja untuk melindungi diri dari serangan iblis.”
Mereka sekarang sedang duduk di sebuah ruang bawah tanah yang berada di salah satu bangunan rumah yang terlihat paling b****k. Ternyata mereka semua terdiri dari empat kepala keluarga. Mereka menghuni empat rumah di sini sejak setahun lalu. Pria ini sepertinya pemimpin dari kelompok ini.
“Lalu kalian masih berencana mencari tempat lain?” Sargon bertanya serius pada pria itu yang tadi memperkenalkan dirinya sebagai Clark.
Suara sendawa Valrey yang menarik beberapa pasng mata di sana membuayarkan keseriusan Sargon. Ia tak habis pikir kenapa ketua timnya adalah orang yang sangat konyol seperti ini.
“Kami sempat mengalami kendala di pertengahan jalan sekitar tiga bulan lalu. Kami berencana menyeberangi laut menuju sebuah pulau yang sudah dihuni oleh anak dan istriku sejak delapan bulan lalu. Namun kami gagal karena serangan dari monster laut, bahkan lima dari tujuh kapal kami hancur dan menewaskan banyak nyawa. Hanya kamilah yang selamat.” Tatapan pria itu sekarang mengarah pada sepasang anak perempuan yang mungkin berumur lima tahun.
Sargon memahami arti tatapan Clark. Ia serigkali melihat mata seperti itu, tatapan yang sangat mengasihi dan menyayangkan jika anak-anak mereka harus terlahir dan hidup di jaman seperti ini.
“Anakku sama seperti kalian.”