BAB 10: Guru yang Hilang

1070 Kata
﴾ وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.' Sungguh, yang batil itu pasti lenyap." (Al-Isra: 81) "Syaikh Ahmad?" bisik Ustadz Hanan dengan suara tercekat. Wajahnya memucat seolah melihat hantu. Ahmad dengan cepat memberi isyarat agar semuanya tetap diam. Ia menggenggam erat pistolnya dan bergerak ke samping pintu dengan langkah tanpa suara. Ustadz Hanan menarik Fatimah merunduk di balik meja, sementara Hamzah mengambil posisi di dekat jendela, mengintip keluar dengan hati-hati. "Hanan, Fatimah, aku tahu kalian di dalam," suara itu terdengar lagi, lembut namun mendesak. "Biarkan aku masuk. Kalian dalam bahaya besar." Suara itu—setiap tekanan, setiap logatnya—terdengar persis seperti Syaikh Ahmad yang selama ini Ustadz Hanan kenal sebagai guru spiritualnya. Pria berusia 65 tahun yang pernah menghabiskan 30 tahun hidupnya di Madinah, sosok yang dihormati di kalangan ulama. "Jangan dibuka," bisik Ahmad tegas. "Ini bisa jadi jebakan." "Tapi itu benar-benar suara Syaikh," Ustadz Hanan menjawab dengan bisikan yang sama. "Aku mengenalnya." "Justru itu yang kukhawatirkan," Ahmad menatap tajam. "Teknologi peniru suara mereka sangat canggih." Ketukan di pintu terdengar semakin mendesak. "Anakku, waktu kita terbatas. Mereka menuju kemari. Lima menit lagi tempat ini akan dikepung." Fatimah menatap Ahmad, matanya bertanya. Ahmad tampak bimbang, keningnya berkerut dalam pertimbangan yang berat. "Tanyakan sesuatu yang hanya diketahui Syaikh yang asli," usul Fatimah akhirnya. Ustadz Hanan mengangguk setuju. "Syaikh," panggilnya dengan suara yang cukup terdengar ke luar, "apa yang Anda bisikkan pada saya saat haji pertama kita bersama, di depan Multazam?" Hening sejenak. Semua menahan napas menunggu jawaban. "Aku membisikkan, 'Hanan, jangan pernah menutupi masa lalumu. Allah tidak menghapus masa lalumu saat kau bertaubat, tapi menjadikannya sebagai jalan dakwahmu,'" jawab suara itu dengan tenang. "Dan aku juga berkata bahwa tanda kehijarahanmu yang sejati adalah saat kau berani menceritakan kisah tato salib terbalikmu di hadapan jamaahmu tanpa rasa malu." Wajah Ustadz Hanan berubah. Matanya melebar, napasnya tertahan. "Itu benar-benar Syaikh," bisiknya yakin. "Tidak ada yang tahu tentang percakapan itu. Bahkan tidak ada rekaman suara yang bisa dimanipulasi." Ahmad masih ragu, namun Ustadz Hanan telah bangkit dan bergerak menuju pintu. Sebelum Ahmad sempat mencegah, Ustadz Hanan telah membuka kunci. Di balik pintu berdiri seorang pria tua bertubuh kurus dengan janggut putih panjang. Jubah putihnya tampak kusut dan kotor di beberapa bagian, seolah telah menempuh perjalanan panjang. Wajahnya lelah, dengan kantung mata yang menghitam, namun matanya—mata yang tajam dan penuh kewaspadaan—masih memancarkan kecerdasan dan kebijaksanaan yang Ustadz Hanan kenal dengan baik. "Syaikh..." Ustadz Hanan hampir meneteskan air mata melihat sosok yang sangat dihormatinya. "Tidak ada waktu untuk sentimentil," Syaikh Ahmad masuk dengan cepat, menutup pintu di belakangnya. Matanya langsung tertuju pada Ahmad yang masih berdiri waspada dengan pistol di tangan. "Jadi kau masih hidup, Ahmad. Alhamdulillah." "Bagaimana Anda bisa menemukan kami?" tanya Ahmad, masih belum sepenuhnya menurunkan kewaspadaannya. "Aku mengikuti jejak mereka yang mengikuti kalian," jawab Syaikh sambil mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya—sebuah peta kecil dengan titik-titik merah yang berkedip. "Mereka memasang pelacak di mobil Hanan. Dan sekarang mereka sedang dalam perjalanan kemari." Hamzah yang mengawasi dari jendela tiba-tiba berbisik keras, "Benar. Ada tiga mobil mendekat dari arah utara." "Kita harus pergi sekarang," Syaikh berkata dengan nada mendesak. "Ikut aku. Ada jalan rahasia menembus perkebunan." "Tunggu," Ahmad menahan. "Anda menghilang dua tahun lalu. Lalu tiba-tiba muncul di sini. Bagaimana kami bisa yakin Anda bukan bagian dari mereka?" Syaikh Ahmad tersenyum tipis, sebuah senyuman sedih yang sarat pengalaman pahit. "Pengalaman membuatmu waspada, itu bagus. Tapi saat ini, kepercayaan adalah satu-satunya yang kita miliki." Ia mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya—cincin emas dengan ukiran kaligrafi yang rumit. "Cincin Anda..." Ustadz Hanan terkesiap mengenali benda itu. "Cincin yang kau kenal selama ini adalah palsu," Syaikh menjelaskan. "Ini yang asli, dengan ukiran nama istriku di bagian dalam. Sesuatu yang tidak diketahui oleh orang yang mengaku sebagai diriku." Ustadz Hanan mengambil cincin itu, memeriksanya dengan seksama, kemudian mengangguk pada Ahmad. "Ini asli." Fatimah yang sejak tadi diam mengamati, akhirnya bertanya, "Jika Anda adalah Syaikh Ahmad yang asli, siapa yang selama ini mengaku sebagai Anda?" "Zubair Al-Faruqi," jawab Syaikh dengan nada getir. "Dia menggunakan teknologi canggih untuk mengubah wajah dan suaranya. Dia menahanku selama dua tahun di sebuah tempat rahasia di perbatasan, menginterogasiku setiap hari untuk mempelajari cara bicaraku, pengetahuanku, bahkan memori pribadiku." "Ya Allah..." Fatimah menutup mulutnya, ngeri membayangkan penyiksaan yang dialami Syaikh selama dua tahun. "Bagaimana Anda bisa melarikan diri?" tanya Ahmad. "Allah selalu memiliki rencananya yang indah," Syaikh tersenyum tipis. "Salah seorang penjaga ternyata adalah mantan santri yang pernah kuajari di Madinah. Dia tidak tahu bahwa aku ditahan di sana sampai dia melihatku secara langsung. Dia membantuku melarikan diri tiga hari lalu." Suara kendaraan semakin mendekat. Hamzah memberi isyarat bahwa waktu mereka semakin terbatas. "Kita bahas sambil jalan," Ahmad memutuskan, menyimpan pistolnya. "Tunjukkan jalan, Syaikh." Syaikh Ahmad membimbing mereka keluar melalui pintu belakang, memasuki kegelapan kebun singkong yang lebat. Bulan separuh menerangi jalan setapak kecil yang hampir tak terlihat di antara daun-daun lebar tanaman singkong. "Mereka pasti akan memeriksa rumah lebih dulu," bisik Syaikh. "Itu memberi kita beberapa menit keunggulan." Mereka bergerak dalam diam, berjalan merunduk di antara tanaman. Fatimah merasakan jantungnya berdebar kencang, campuran antara ketakutan dan kelegaan yang aneh. Di sampingnya, Ahmad berjalan dengan langkah waspada, sesekali menoleh ke belakang memastikan tidak ada yang mengikuti. "Aku masih tidak mengerti," Ustadz Hanan berbisik pada Syaikh saat mereka berjalan. "Apa tujuan Zubair menyamar sebagai Anda?" "Pengaruh," jawab Syaikh singkat. "Sebagai diriku, dia bisa mengendalikan aliran dana dari berbagai yayasan Islam besar, mengalihkannya untuk pendanaan kelompok radikal tanpa dicurigai. Dia juga bisa mempengaruhi banyak ulama dan tokoh penting." "Termasuk saya," tambah Ustadz Hanan dengan nada getir. "Ya, terutama kau, Hanan," Syaikh menatapnya. "Dengan jutaan pengikutmu di media sosial, kau adalah aset berharga. Zubair memanipulasimu untuk mendukung program-program yang tampaknya Islami tapi sebenarnya menyalurkan dana ke kelompok ekstremis." Fatimah tersentak menyadari besarnya jaringan penipuan ini. "Lalu apa yang mereka inginkan dari saya dan Ahmad?" "Kalian berdua memiliki bukti yang bisa menghancurkan seluruh jaringan mereka," Syaikh menjelaskan sambil terus berjalan. "Ahmad dengan penyelidikannya tentang aliran dana, dan kau, Fatimah, dengan flash disk yang belum mereka temukan." "Flash disk yang saya buang?" Fatimah bertanya bingung. "Bukan. Flash disk lain yang Ahmad titipkan padamu, tapi kau sendiri tidak menyadarinya." Fatimah menatap Ahmad dengan tanda tanya. Ahmad tampak sama bingungnya. "Mushaf Al-Quran," Syaikh menjelaskan. "Mushaf hadiah pertunangan dari Ahmad. Ada microchip tersembunyi di sampulnya yang berisi seluruh bukti transaksi Zubair selama lima tahun."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN