﴾ الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ﴿
"Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab, mereka membacanya sebagaimana mestinya, mereka itulah yang beriman kepadanya." (Al-Baqarah: 121)
"Mushaf Al-Quran?" Fatimah terhenti mendadak, membuat Ahmad hampir menabraknya dari belakang. "Maksud Syaikh, Al-Quran hadiah pertunangan dari Ahmad?"
"Benar," Syaikh Ahmad mengangguk tanpa menghentikan langkahnya. "Ahmad menyembunyikan microchip di balik sampul kulit bagian belakang. Sangat tipis dan hampir tidak terdeteksi."
"Tapi saya sama sekali tidak mengetahui hal ini," Ahmad menatap Syaikh dengan dahi berkerut.
"Memang kau tidak diberitahu," Syaikh menoleh sekilas. "Kolonel Harun yang memasangnya saat mushaf itu dalam proses penjilidan. Hanya dia dan aku yang mengetahuinya."
Fatimah merasakan jantungnya berdebar kencang. "Mushaf itu ada di kamarku di pesantren. Tepat di rak buku dekat tempat tidur."
"Kita harus mengambilnya," Ustadz Hanan berkata tegas. "Sebelum mereka menyadari keberadaannya."
Langkah mereka semakin cepat menembus lebatnya kebun singkong. Dedaunan basah mengusap wajah dan lengan mereka, meninggalkan jejak kelembaban di kulit. Syaikh Ahmad tampak luar biasa tangguh untuk usianya yang sudah 65 tahun, memimpin jalan dengan langkah pasti seolah telah mengenal rute ini sebelumnya.
"Bagaimana Syaikh bisa tahu tentang jalan ini?" tanya Hamzah yang berjalan paling belakang, masih waspada mengawasi kemungkinan pengejaran.
"Dulu tempat ini adalah salah satu pusat pelatihan dakwah rahasia kita," jawab Syaikh. "Sebelum Zubair mengambil alih yayasan dan mengubah arahnya."
Mereka terus berjalan hingga mencapai sebuah jalan setapak yang lebih lebar. Syaikh memberi isyarat untuk berhenti dan mendengarkan. Keheningan malam hanya dipecahkan oleh suara jangkrik dan gemersik dedaunan tertiup angin.
"Sepertinya kita aman untuk sementara," ucap Syaikh setelah beberapa saat. "Tapi kita tidak bisa berlama-lama. Ada pondok kecil sekitar lima menit lagi. Kita bisa beristirahat sejenak dan menyusun rencana."
"Kita harus membagi tugas," Ahmad berkata sambil menyeka keringat di dahinya. "Sebagian mengamankan Syaikh, sebagian mengambil mushaf itu."
Pondok yang dimaksud Syaikh ternyata sebuah surau tua yang tidak terpakai, dengan dinding kayu yang sudah dimakan usia namun masih berdiri kokoh. Di dalamnya hanya ada beberapa tikar usang dan rak buku kosong. Syaikh Ahmad menyalakan lentera kecil yang entah bagaimana dia temukan di sudut ruangan.
"Baiklah, kita susun rencana," kata Ustadz Hanan setelah mereka semua duduk melingkar di atas tikar. "Pesantren pasti sudah dijaga ketat. Mereka tahu Ustadzah Fatimah akan kembali untuk mengambil sesuatu yang berharga."
"Saya akan pergi sendiri," Fatimah menawarkan diri. "Saya tahu setiap sudut pesantren. Ada jalan rahasia melalui kebun belakang yang hanya diketahui beberapa pengajar lama."
"Tidak," Ahmad dan Ustadz Hanan menjawab bersamaan, kemudian saling bertukar pandang canggung.
"Terlalu berbahaya," lanjut Ahmad. "Mereka mengincarmu, Fatimah."
"Justru karena itu saya yang harus pergi," Fatimah bersikeras. "Tidak ada yang akan mencurigai jika saya kembali ke pesantren. Saya bisa beralasan ingin mengambil beberapa barang pribadi."
"Dan bagaimana jika mereka sudah menunggu di sana?" Ustadz Hanan bertanya, keningnya berkerut dalam. "Bagaimana jika mereka sudah tahu tentang mushaf itu?"
Fatimah terdiam, menggigit bibir bawahnya—kebiasaan yang selalu muncul saat dia berpikir keras.
"Ada cara lain," Syaikh Ahmad akhirnya bersuara setelah beberapa saat hening. "Zahra."
"Zahra?" Fatimah mengerjap tak percaya. "Tapi dia pengkhianat! Dia bekerja untuk Zubair!"
"Justru karena itu," Syaikh mengangguk. "Dia bisa masuk dan keluar pesantren tanpa dicurigai. Kita bisa memanfaatkannya tanpa dia sadari."
"Bagaimana caranya?" tanya Ahmad.
Syaikh Ahmad menoleh pada Hamzah. "Ponselmu masih aktif?"
Hamzah mengangguk, mengeluarkan ponselnya. "Tapi sinyal di sini lemah."
"Cukup untuk mengirim pesan pada Zahra," Syaikh mengambil ponsel tersebut. "Kita akan membuat dia percaya bahwa kita masih memercayainya."
Jari-jari keriput Syaikh dengan cekatan mengetik pesan. Semua mata memperhatikan dengan penuh minat.
"Saya tulis: 'Zahra, kami masih percaya padamu. Temui kami di tempat biasa. Bawa mushaf Al-Quran milik Fatimah dari kamarnya. Penting. Hanan.'" Syaikh membacakan pesannya sebelum mengirim.
"Dia tidak akan termakan umpan semudah itu," Ustadz Hanan menggeleng ragu.
"Dia akan termakan jika berpikir bisa menjebak kita lagi," balas Syaikh. "Kita akan memberinya lokasi pertemuan yang menguntungkan kita."
Pesan terkirim. Mereka menunggu dalam ketegangan. Lima menit kemudian, ponsel bergetar menandakan balasan masuk.
"'Baiklah. Di mana tempatnya? Aku bisa ke pesantren malam ini juga,'" Hamzah membacakan pesan yang masuk.
Syaikh tersenyum tipis. "Dia menggigit umpannya."
Mereka menyusun rencana dengan cepat. Syaikh memberikan lokasi sebuah kedai kopi di pinggir kota—tempat yang cukup ramai sehingga Zahra tidak akan berani melakukan sesuatu yang mencurigakan, namun memiliki banyak jalan keluar jika terjadi sesuatu.
"Kita tunggu sampai dia mengambil mushaf itu," Syaikh menjelaskan. "Baru kita hadang dia sebelum sampai ke tempat pertemuan."
"Bagaimana jika dia memeriksa mushaf itu dan menemukan microchip-nya?" tanya Fatimah khawatir.
"Dia tidak akan tahu di mana tepatnya mencari," jawab Syaikh yakin. "Dan dia tidak akan berani merusak mushaf, karena dia membutuhkannya utuh untuk meyakinkan kita."
Rencana disepakati. Hamzah akan tetap berhubungan dengan Zahra, sementara yang lain bersiap di posisi masing-masing. Ahmad dan Ustadz Hanan akan menghadang Zahra di perjalanan, sementara Fatimah dan Syaikh menunggu di tempat aman.
Saat semua bersiap, Fatimah menarik Ahmad ke sudut ruangan. Ini pertama kalinya mereka berbicara berdua sejak pertemuan mengejutkan beberapa jam lalu.
"Ahmad," suara Fatimah bergetar, "aku masih tidak percaya kau di sini... nyata..."
Ahmad menatapnya dengan sorot mata yang dalam. Tangannya terangkat seolah ingin menyentuh wajah Fatimah, namun terhenti di udara, ragu.
"Maafkan aku," bisiknya. "Tiga tahun... pasti sangat berat untukmu."
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Fatimah, air mata menggenang di pelupuk matanya. "Apakah kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku? Aku berduka untukmu, Ahmad... aku kehilangan separuh jiwaku..."
"Setiap hari," Ahmad menjawab, suaranya pecah oleh emosi tertahan, "setiap malam aku ingin menghubungimu, memberitahumu bahwa aku masih hidup. Tapi mereka mengawasi setiap gerakanmu. Jika mereka tahu aku masih hidup melalui reaksimu, nyawamu akan terancam."
Fatimah hendak menjawab ketika Hamzah tiba-tiba berseru, "Dia sudah dalam perjalanan ke pesantren! Zahra bilang akan sampai dalam 30 menit."
Percakapan terhenti. Semua kembali fokus pada rencana. Fatimah merasakan hatinya berat—begitu banyak yang ingin dia tanyakan, begitu banyak yang ingin dia katakan pada Ahmad. Tapi semuanya harus menunggu.
Mereka bergerak keluar dari pondok, bersiap menuju posisi masing-masing. Sebelum berpisah, Syaikh Ahmad memberikan peringatan terakhir.
"Berhati-hatilah. Zubair tidak bodoh. Dia mungkin sudah menduga kita akan mencoba mendapatkan mushaf itu."
Di tengah kegelapan, mereka berpisah arah. Ustadz Hanan dan Ahmad menuju jalan yang kemungkinan akan dilalui Zahra, sementara Fatimah mengikuti Syaikh menuju tempat persembunyian sementara.
"Syaikh," bisik Fatimah saat mereka berjalan, "bagaimana jika mushaf itu sudah tidak ada?"
Syaikh Ahmad menatapnya dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Maka kita harus siap menghadapi kemungkinan terburuk."
Tepat saat mereka mencapai tempat persembunyian—sebuah warung tutup di pinggir jalan—ponsel Hamzah bergetar dengan pesan baru dari Zahra.
"Mushaf tidak ada di kamar Fatimah. Seseorang sudah mengambilnya."