BAB 12: Musuh dalam Selimut

1076 Kata
﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ ﴿ "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang yang bukan dari kalangan kamu sebagai teman kepercayaan. Mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu, mereka mengharapkan kehancuranmu." (Ali 'Imran: 118) "Mushaf tidak ada?" Suara Fatimah nyaris tercekat. Tangannya mencengkeram ponsel Hamzah, seolah berharap pesan yang tertera di layar akan berubah jika ia memegangnya lebih erat. Syaikh Ahmad terdiam, wajahnya yang keriput menampakkan kecemasan mendalam. "Ini tidak bagus. Sama sekali tidak bagus." Hamzah dengan cepat mengetik balasan: "Coba cari lagi. Mungkin di laci meja atau di antara buku-buku lain." Beberapa menit berlalu dalam ketegangan mencekam. Fatimah menyandarkan tubuhnya ke dinding warung, matanya terpejam, bibirnya bergerak-gerak mengucap doa tanpa suara. "Kami harus memberi tahu Ustadz Hanan dan Ahmad," ucap Hamzah sambil mengambil ponselnya dari tangan Fatimah. "Mereka sudah di posisi untuk menghadang Zahra." "Tunggu," Syaikh mengangkat tangannya. "Ada sesuatu yang aneh. Jika memang Zubair sudah mengetahui tentang microchip dalam mushaf itu, kenapa dia masih mengirim Zahra untuk mencarinya?" Fatimah membuka mata, menyadari kejanggalan yang disebutkan Syaikh. "Benar. Jika mereka yang mengambilnya, seharusnya mereka tidak perlu menyuruh Zahra mengambilnya lagi." Ponsel bergetar lagi. Kali ini pesan dari Ustadz Hanan: "Zahra terlihat meninggalkan pesantren. Kami akan mengikutinya. Ada perkembangan?" Hamzah memberitahu situasinya dengan cepat. Tak lama kemudian ponsel kembali bergetar. "Perubahan rencana. Kami akan membuntuti Zahra, bukan menghadangnya. Dia mungkin akan membawa kita kepada siapa yang mengambil mushaf itu. Kalian tetap di posisi aman." Fatimah menatap Syaikh dengan sorot mata khawatir. "Kira-kira siapa yang mengambil mushaf itu jika bukan orang-orang Zubair?" "Ada beberapa kemungkinan," jawab Syaikh sambil mengusap janggutnya yang memutih. "Tapi yang paling mungkin adalah..." ia terdiam sejenak, "...seseorang yang sangat dekat denganmu." "Maksud Syaikh, Ustadzah Khadijah?" Fatimah mengerjap tak percaya. "Atau Maryam, asistenmu," tambah Syaikh. "Siapa yang memiliki akses ke kamarmu selain dirimu?" Fatimah menggigit bibir bawahnya, berpikir keras. "Ustadzah Khadijah memiliki kunci semua ruangan di asrama, termasuk kamar saya. Maryam juga sering keluar-masuk kamar saya untuk mengambil bahan mengajar. Dan..." ia terhenti, "...orangtua Ahmad—mereka juga sempat berkunjung ke pesantren sebelum semua kejadian ini dimulai." "Ya Allah," Hamzah mendadak teringat. "Ponsel Zahra aktif lagi." Ia menunjukkan aplikasi pelacak di ponselnya yang menampilkan titik berkedip. "Dia bergerak ke arah barat, menuju kota." "Arah yang sama dengan keluarga Rahman tinggal," gumam Fatimah. Syaikh Ahmad terlihat menegang. "Kita harus bergerak. Sekarang juga." Mereka meninggalkan warung tutup yang menjadi tempat persembunyian sementara. Hamzah mengendarai sepeda motor yang diparkir tak jauh dari sana, dengan Syaikh Ahmad membonceng di belakangnya. Fatimah naik motor lain yang dikendarai oleh seorang pemuda—salah satu santri Syaikh yang rupanya telah menunggu di sekitar lokasi sebagai cadangan. Di perjalanan, Fatimah tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan-kemungkinan. Siapa yang mengambil mushaf itu? Ustadzah Khadijah yang selama ini menjadi mentornya? Maryam yang selalu setia mendampinginya mengajar? Atau keluarga Rahman yang masih berduka kehilangan putra mereka? "Kita harus siap dengan kemungkinan terburuk," Syaikh berkata melalui alat komunikasi yang terhubung ke helm mereka. "Zubair sangat lihai memanipulasi orang-orang di sekitar kita." "Saya masih tidak mengerti," balas Fatimah, "jika Ahmad masih hidup, mengapa Kolonel Harun tidak memberitahu keluarganya? Orangtua Ahmad sangat terpukul selama tiga tahun ini." "Karena mereka tidak bisa dipercaya untuk menjaga rahasia itu," jawab Syaikh dengan nada berat. "Atau ada kemungkinan lain yang lebih mengkhawatirkan." "Maksud Syaikh?" "Kemungkinan keluarga Rahman juga dimanipulasi oleh Zubair," Syaikh menjelaskan. "Atau bahkan menjadi bagian dari jaringannya." Fatimah terkesiap. "Tidak mungkin! Mereka sangat menyayangi Ahmad." "Dalam dunia intelijen, Fatimah," suara Syaikh terdengar letih, "tidak ada yang mustahil. Terkadang musuh terbesar justru berada paling dekat dengan kita." Motor mereka melaju kencang membelah malam. Hamzah memberikan pembaruan melalui komunikasi: "Ustadz Hanan dan Ahmad masih membuntuti Zahra. Dia menuju rumah keluarga Rahman." "Dia semakin dekat," tambah suara Ahmad yang kini terhubung dalam komunikasi mereka. "Tapi ada yang aneh. Dia bergerak terlalu percaya diri, seolah-olah tahu bahwa dia sedang dibuntuti." "Hati-hati," Syaikh memperingatkan. "Ini bisa jadi jebakan." "Terlambat," suara Ustadz Hanan tiba-tiba terdengar tegang. "Kita kehilangan dia. Dia masuk ke kompleks perumahan Rahman, tapi kemudian menghilang." "Bagaimana bisa menghilang?" tanya Hamzah. "Entahlah. Mobilnya masih bergerak, tapi saat kami mengikutinya, ternyata mobil itu kosong. Dikendarai dari jarak jauh." "Ya Allah..." Fatimah berbisik. "Tunggu," suara Ahmad terdengar waspada. "Ada mobil lain yang mendekat ke posisi kami. Hitam, kaca gelap... Ini tidak bagus." Sambungan komunikasi tiba-tiba terputus. Fatimah merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. "Ahmad! Ustadz Hanan!" Syaikh mencoba memanggil, namun tak ada jawaban. "Kita harus ke sana!" Fatimah berseru panik. "Tidak," Syaikh memerintah tegas. "Kita harus ke rumah Kolonel Harun sekarang juga. Dia satu-satunya yang bisa membantu." "Tapi Ahmad—" "Ahmad dan Hanan bisa menjaga diri. Tapi kita harus mengamankan dirimu, Fatimah. Kau adalah kunci dari semua ini." Pengendara motor Fatimah membuat belokan tajam, mengikuti arahan Syaikh menuju pinggiran kota—lokasi rumah Kolonel Harun yang dirahasiakan. Fatimah merasa dadanya sesak oleh kekhawatiran. Ahmad yang baru saja ia temukan kembali, kini dalam bahaya. Saat mereka tiba di depan rumah sederhana dengan pagar tinggi, Syaikh turun dari motor dan mengetuk pintu dengan pola khusus: tiga ketukan cepat, jeda, dua ketukan. Pintu terbuka sedikit, menampakkan wajah seorang pria paruh baya dengan kumis tebal. "Syaikh Ahmad?" Pria itu terlihat terkejut. "Ya Allah, Anda selamat." "Kolonel, kami butuh bantuan," Syaikh berkata cepat. "Ahmad dan Hanan dalam bahaya. Dan mushaf yang berisi microchip hilang." Kolonel Harun membuka pintu lebih lebar, mempersilakan mereka masuk. "Cepat masuk. Kalian semua dalam bahaya besar." Mereka memasuki rumah yang ternyata jauh lebih luas dari tampak luarnya. Di ruang tamu yang sederhana, Fatimah tertegun melihat seseorang yang duduk di sofa, menatapnya dengan senyum tipis. "Selamat datang, Ustadzah Fatimah," kata sosok itu. "Saya sudah lama menunggu kedatangan Anda." "Ustadzah... Khadijah?" Fatimah nyaris tak percaya dengan penglihatannya. Ustadzah Khadijah bangkit berdiri, menghampiri Fatimah dengan langkah tenang. Di tangannya, sebuah mushaf Al-Quran dengan sampul kulit berwarna hijau zamrud—mushaf yang selama ini mereka cari. "Maafkan saya tidak memberitahu Anda lebih awal," ucapnya lembut. "Tapi ada pengkhianat di antara kita yang tidak saya duga." "Siapa?" tanya Fatimah, masih terkejut melihat mentornya berada di rumah Kolonel Harun. Ustadzah Khadijah menatapnya dengan sorot mata yang dalam dan sedih. "Seseorang yang sangat dekat dengan kita semua. Seseorang yang bahkan saat ini mungkin sedang mendengarkan percakapan kita." Fatimah menoleh ke arah Syaikh Ahmad dan Hamzah yang berdiri diam di dekat pintu. Kolonel Harun mengunci pintu dengan tiga kunci berbeda, kemudian mengeluarkan pistol dari balik jasnya. "Ya, Fatimah," kata Kolonel, pistolnya terarah pada sosok yang tidak Fatimah duga. "Pengkhianat itu ada di sini, bersama kita sekarang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN