﴾ إِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ غَرَّ هَٰؤُلَاءِ دِينُهُمْ ﴿
"Ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya berpenyakit berkata, 'Mereka itu ditipu oleh agamanya.'" (Al-Anfal: 49)
Pistol di tangan Kolonel Harun terarah lurus. Fatimah tercekat melihat ujungnya mengarah tepat pada sosok Hamzah yang berdiri di dekat pintu. Wajah pria bertato samar itu berubah pucat, matanya membelalak kaget.
"Kolonel, apa—"
"Jangan bergerak," perintah Kolonel dengan suara dingin. "Lepaskan ponselmu dan letakkan di lantai. Perlahan."
Fatimah menatap Hamzah dengan tatapan tidak percaya. Hamzah, asisten setia Ustadz Hanan yang selama ini membantu mereka, adalah pengkhianat? Bagaimana mungkin?
"Saya tidak mengerti," Hamzah menggeleng, wajahnya memancarkan kebingungan. "Kolonel, saya bekerja untuk Ustadz Hanan selama lima tahun. Saya—"
"Dan selama tiga tahun terakhir, kau juga bekerja untuk Zubair," potong Syaikh Ahmad dengan nada sedih. "Bukan begitu, Hamzah?"
Hamzah terdiam. Ekspresinya berubah perlahan. Kebingungan di wajahnya menghilang, digantikan tatapan dingin yang belum pernah Fatimah lihat sebelumnya.
"Bagaimana Anda tahu?" tanyanya akhirnya pada Syaikh Ahmad.
Syaikh Ahmad mengambil langkah mendekat pada Ustadzah Khadijah yang masih memegang mushaf Al-Quran. "Karena kau salah satu murid terbaikku dulu. Tapi uang mengubahmu, anakku."
Fatimah menatap bergantian antara Hamzah, Syaikh Ahmad, dan Kolonel Harun, berusaha mencerna apa yang terjadi. "Tapi dia... dia membantu kita selama ini."
"Membantu sambil mengawasi," Ustadzah Khadijah menjelaskan dengan nada tenang. "Melaporkan setiap langkah kita pada Zubair."
Hamzah mendengus. "Kalian pikir kalian sangat pintar. Tapi Ustadz Hanan sudah masuk perangkap kami."
"Apa yang kau lakukan pada mereka?" tanya Fatimah, suaranya bergetar menahan amarah dan ketakutan.
"Tidak ada," Hamzah tersenyum dingin. "Tidak perlu melakukan apapun. Mereka berdua mencari jalan sendiri menuju jebakan kami. Saat ini, mereka pasti sudah bertemu Zubair langsung."
Fatimah merasakan kakinya lemas. Ahmad, yang baru ditemukannya kembali setelah tiga tahun, kini berada dalam bahaya besar.
"Letakkan ponselmu, sekarang," Kolonel Harun memerintah lebih tegas.
Dengan gerakan lambat, Hamzah mengeluarkan ponsel dari sakunya dan meletakkannya di lantai. Namun, saat ia bergerak seolah akan berdiri tegak kembali, tangannya tiba-tiba menyambar sesuatu dari balik jaketnya. Kolonel Harun menyadarinya dan dengan gerakan cepat menendang tangan Hamzah, mengirimkan pistol kecil terbang ke sudut ruangan.
"Astaghfirullah," Fatimah terkesiap, mundur selangkah.
Syaikh Ahmad bergerak mendekat, matanya menatap Hamzah dengan sorot kesedihan mendalam. "Apa yang Zubair janjikan padamu, anakku? Uang? Kekuasaan?"
"Kebenaran," jawab Hamzah dengan suara bergetar. "Dia menunjukkan bahwa jalan damai yang Syaikh ajarkan tidak pernah berhasil. Islam membutuhkan kekuatan, bukan kata-kata manis."
"Dan kekuatan itu melibatkan membunuh saudara muslimmu sendiri?" tanya Syaikh dengan nada terluka. "Membunuh Ahmad? Mengancam Fatimah?"
Hamzah terdiam, matanya menghindari tatapan Syaikh yang pernah menjadi gurunya.
"Kita tidak punya waktu untuk ini," Kolonel Harun memotong, mengeluarkan borgol dan mengamankan Hamzah. "Kita harus segera bertindak. Ahmad dan Hanan dalam bahaya besar."
Ustadzah Khadijah menyerahkan mushaf Al-Quran pada Kolonel. "Microchip-nya masih aman di sini. Saya mengambilnya segera setelah Fatimah menghilang dari pesantren. Firasat saya mengatakan sesuatu tidak beres."
Kolonel mengambil mushaf tersebut dengan hati-hati. "Kita perlu mengekstrak data ini segera. Lalu menyusun rencana penyelamatan."
"Bagaimana dengan Ahmad dan Ustadz Hanan?" tanya Fatimah, suaranya mendesak. "Kita tidak bisa membiarkan mereka begitu saja!"
"Tenang, Fatimah," Syaikh menenangkan. "Tim Kolonel sudah mengawasi rumah keluarga Rahman sejak tadi. Ada enam personel yang siap bertindak."
Kolonel Harun mengangguk mengonfirmasi. "Namun kita perlu tahu persisnya di mana mereka ditahan dan berapa banyak orang Zubair di sana. Untuk itu, kita butuh informasi dari microchip ini dan..." ia menoleh pada Hamzah, "...dari pengkhianat kecil kita."
Hamzah tertawa pelan. "Kalian sudah terlambat. Zubair punya rencana besar malam ini. Penangkapan Ahmad dan Hanan hanya permulaan."
"Rencana apa?" tanya Fatimah, jantungnya berdebar kencang.
"Kalian pikir ini hanya tentang pencucian uang dan pendanaan terorisme?" Hamzah menatap mereka satu per satu. "Zubair merencanakan sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan mengubah wajah Islam di negeri ini."
Kolonel Harun mendorong Hamzah ke kursi, mengamankannya dengan borgol tambahan. "Jelaskan dengan detail. Sekarang."
"Tidak ada gunanya merahasiakan lagi," Hamzah menghela napas. "Tiga jam dari sekarang, akan ada serangan terkoordinasi di tiga lokasi berbeda: Masjid Istiqlal saat kajian akbar, Istana Negara, dan stasiun televisi nasional yang sedang menyiarkan dialog keagamaan. Mereka akan menyamarkannya sebagai aksi kelompok liberal untuk mencemarkan nama Islam moderat."
"Ya Allah..." Fatimah menutup mulutnya dengan tangan. "Berapa banyak orang tidak bersalah yang akan menjadi korban?"
"Ribuan," jawab Hamzah datar. "Dan Ustadz Hanan akan dipaksa mengakui keterlibatannya dalam serangan tersebut. Rekaman pengakuannya sudah disiapkan untuk disiarkan."
Kolonel Harun bergerak cepat, mengeluarkan radio komunikasinya dan menghubungi atasannya. Ia menjelaskan situasi dengan singkat namun detail, menekankan urgensi dan skala ancaman.
Sementara itu, Ustadzah Khadijah mendekati Fatimah yang terlihat pucat dan shock. "Kita akan menyelamatkan mereka, anakku. Percayalah pada Allah."
"Bagaimana bisa..." bisik Fatimah, air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. "Bagaimana seseorang bisa melakukan kekejian seperti ini atas nama agama kita?"
"Itulah mengapa kita berjuang, Fatimah," Syaikh Ahmad menjawab sambil menepuk pundaknya lembut. "Untuk menunjukkan wajah Islam yang sebenarnya—penuh kasih dan rahmat, bukan kebencian dan kekerasan."
Kolonel Harun selesai berkomunikasi dan kembali pada mereka. "Tim khusus akan dikerahkan ke tiga lokasi target. Kita punya waktu dua jam untuk menemukan dan menyelamatkan Ahmad dan Hanan sebelum semuanya dimulai."
"Bagaimana caranya?" tanya Fatimah.
"Dengan ini," Kolonel menunjukkan sebuah perangkat kecil di tangannya. "Pelacak yang dipasang pada Ahmad dan Hanan tanpa sepengetahuan mereka."
Hamzah tercengang. "Kalian memasang pelacak pada mereka? Kapan?"
"Saat pertama kali mereka datang ke rumah ini," jawab Kolonel dengan senyum tipis. "Kami selalu menyiapkan rencana cadangan."
"Jadi selama ini..."
"Ya, kami mengawasi setiap langkah kalian," tambah Ustadzah Khadijah. "Termasuk kau, Hamzah."
Kolonel mengaktifkan perangkat tersebut, menampilkan peta digital dengan dua titik merah berkedip. "Mereka tidak dibawa ke rumah keluarga Rahman. Mereka dibawa ke..." ia terdiam, keningnya berkerut dalam.
"Ke mana?" desak Fatimah.
"Ke pesantren," jawab Kolonel dengan nada tidak percaya. "Mereka dibawa kembali ke Pesantren Al-Fatah."
Fatimah terkesiap. "Tidak mungkin! Bagaimana bisa?"
"Tentu saja," Syaikh Ahmad mengangguk, seolah menyadari sesuatu. "Tempat terakhir yang akan kita curigai, tempat dengan akses termudah untuk Zubair, dan tempat dengan cukup ruang untuk menyembunyikan tahanan tanpa menarik perhatian."
"Tapi ustadz dan ustadzah lain? Para santri? Apakah mereka tidak menyadari sesuatu?" tanya Fatimah bingung.
"Mereka tidak tahu apa yang terjadi di bawah hidung mereka sendiri," Hamzah tertawa pelan. "Ruang bawah tanah pesantren yang sudah tidak digunakan selama bertahun-tahun menjadi markas sempurna."
"Ruang bawah tanah?" Fatimah mengerjap. "Saya tidak pernah tahu ada ruang bawah tanah di pesantren."
"Karena memang dirahasiakan," jelas Ustadzah Khadijah. "Ruang itu dulunya bunker yang dibangun pada masa penjajahan. Hanya pimpinan pesantren yang mengetahuinya."
Kolonel Harun mengambil jaketnya dan mengecek senjatanya. "Kita bergerak sekarang. Tim bantuan akan menyusul dalam 30 menit."
"Saya ikut," Fatimah menegaskan, matanya memancarkan tekad kuat.
"Tidak, Fatimah," Kolonel menggeleng tegas. "Terlalu berbahaya. Kau tetap di sini bersama Syaikh dan Ustadzah Khadijah."
"Ahmad di sana," suara Fatimah bergetar oleh emosi tertahan. "Saya sudah kehilangan dia selama tiga tahun. Saya tidak akan kehilangan dia lagi."
Sebelum siapapun sempat menjawab, ponsel Hamzah yang tergeletak di lantai berdering. Nama yang muncul di layar membuat semua orang di ruangan itu membeku.
"Zubair Al-Faruqi," ucap Kolonel, membaca nama di layar.