﴾ وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ ﴿
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu." (Al-Anfal: 60)
Aku akan mulai menulis bab ini dengan fokus pada telepon dari Zubair, kemudian mengembangkan rencana dan strategi untuk menyelamatkan Ahmad dan Ustadz Hanan, sembari membangun ketegangan dan mempersiapkan gebrakan di akhir bab.
# BAB 14: Panggilan Takdir
﴾ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ ﴿
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (Ar-Ra'd: 11)
Ponsel Hamzah terus berdering, nama "Zubair Al-Faruqi" berkedip-kedip di layar seperti peringatan akan bahaya yang semakin mendekat. Semua mata tertuju pada benda kecil itu, seolah-olah itu adalah bom yang siap meledak kapan saja.
"Angkat," perintah Kolonel Harun kepada Hamzah, sambil mengarahkan pistolnya. "Bicaralah seperti biasa. Satu gerakan mencurigakan, kau tahu akibatnya."
Hamzah menatap Kolonel dengan sorot mata penuh kebencian, namun ia mengangguk pelan. Kolonel membuka kunci borgol sebelah kanan Hamzah, memungut ponsel, menekan tombol pengeras suara, dan menyerahkannya.
"Assalamu'alaikum, Ustadz," Hamzah menjawab dengan suara tenang yang mengejutkan.
"Wa'alaikumussalam," jawab suara di seberang—suara berat dengan aksen Arab yang samar. "Di mana kau sekarang? Seharusnya kau sudah sampai di pesantren setengah jam lalu."
"Maaf, Ustadz. Ada sedikit hambatan di jalan. Mobil saya mogok, jadi saya harus mencari bengkel terdekat."
Hening sejenak. Suara desah napas terdengar dari seberang telepon.
"Kau membawa wanita itu? Fatimah Azzahra?"
Fatimah tersentak mendengar namanya disebut. Darahnya seolah membeku.
"Belum, Ustadz," jawab Hamzah, matanya melirik Fatimah. "Saya masih mengejarnya. Sepertinya dia menuju rumah Kolonel Harun."
Kolonel Harun memberi isyarat dengan tangannya, menggeleng keras. Jelas Hamzah telah memilih untuk membahayakan mereka semua.
"Begitu rupanya," suara Zubair terdengar semakin tajam. "Kau tahu, Hamzah, ada satu hal yang selalu kuajarkan pada murid-muridku. Tahu apa itu?"
"Apa, Ustadz?" Hamzah bertanya, ekspresinya sulit dibaca.
"Jangan pernah berbohong pada gurumu," suara Zubair berubah dingin. "Karena ponselmu dilengkapi penyadap. Dan aku bisa mendengar suara napas Kolonel Harun saat ini."
Wajah Hamzah memucat. Fatimah merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Kolonel bergerak cepat, merebut ponsel dari tangan Hamzah.
"Zubair," kata Kolonel tegas. "Permainanmu sudah berakhir. Lepaskan Ahmad dan Hanan sekarang juga."
Tawa rendah terdengar dari seberang telepon. "Kolonel yang terhormat. Akhirnya kita berbicara langsung. Sepertinya kau masih belum memahami situasinya. Biar kuperjelas."
Suara di telepon berubah, digantikan oleh suara erangan kesakitan yang Fatimah kenali dengan baik.
"Ahmad!" Fatimah berteriak, tidak bisa menahan diri.
"Ah, Fatimah juga ada di sana," suara Zubair kembali terdengar. "Sempurna. Dengarkan baik-baik, Nona Hafidzah. Kekasihmu dan Ustadz Hanan masih hidup—untuk saat ini. Tapi berapa lama mereka akan bertahan, itu tergantung padamu."
"Apa maumu?" tanya Fatimah, suaranya bergetar.
"Sederhana. Datanglah ke pesantren. Sendirian. Bawa microchip yang ada di dalam mushaf Al-Quran itu. Kau punya waktu satu jam. Lewat dari itu, pertama-tama aku akan mengirim jari kelingking Ahmad padamu. Kemudian setiap sepuluh menit, bagian tubuhnya yang lain."
"Kau monster!" desis Fatimah.
"Aku hanya seorang yang berdedikasi pada tujuannya," jawab Zubair tenang. "Dan ingat, jika kau membawa bantuan atau mencoba trik apapun, mereka akan mati seketika. Oh, dan Kolonel—" suaranya berubah dingin, "—aku tahu tentang tim yang kau siagakan di tiga lokasi target. Sayang sekali, mereka mengawasi tempat yang salah. Waktu terus berjalan, Kolonel."
Sambungan terputus, meninggalkan keheningan mencekam di ruangan itu.
"Dia menggertak," kata Kolonel Harun, meski nada suaranya tidak meyakinkan. "Tidak mungkin dia tahu tentang tim pengamanan kita."
"Kecuali jika ada pengkhianat lain di dalam tim Anda," Syaikh Ahmad mengingatkan, tatapannya tertuju pada Hamzah yang tertunduk dengan senyum tipis.
"Saya akan pergi," Fatimah bangkit, matanya penuh tekad. "Saya akan menemui Zubair."
"Tidak," Kolonel dan Syaikh menjawab bersamaan.
"Dia akan membunuhmu begitu kau menyerahkan microchip itu," tambah Ustadzah Khadijah, wajahnya pucat oleh kekhawatiran.
"Lalu bagaimana dengan Ahmad dan Ustadz Hanan?" suara Fatimah pecah. "Kita tidak punya banyak waktu!"
Kolonel Harun berpikir cepat, berjalan mondar-mandir di ruangan. "Kita butuh strategi. Zubair terlalu licik untuk dihadapi dengan pendekatan langsung."
"Saya punya ide," Ustadzah Khadijah tiba-tiba bersuara. Semua mata tertuju padanya. "Bagaimana jika Fatimah memang datang seperti yang diminta, tapi dengan persiapan dan bantuan yang tidak terlihat?"
"Maksud Ustadzah?" Fatimah bertanya.
"Kau akan menjadi umpan, tapi bukan umpan yang tak berdaya," jawab Ustadzah Khadijah. "Kau akan membawa microchip palsu. Sementara itu, tim Kolonel akan menyusup melalui lorong bawah tanah yang mereka tidak ketahui."
"Lorong yang mana?" tanya Kolonel Harun, keningnya berkerut.
"Pesantren Al-Fatah dibangun di atas bekas bangunan kolonial," jelas Ustadzah Khadijah. "Ada terowongan kuno yang menghubungkan gudang belakang pesantren dengan sumur tua di kebun samping. Terowongan itu tidak ada dalam peta manapun. Hanya pimpinan pesantren yang tahu."
"Dan Zubair tidak mengetahuinya?" Syaikh Ahmad bertanya ragu.
"Tidak," Ustadzah Khadijah tersenyum tipis. "Rahasia ini hanya diturunkan dari pimpinan ke pimpinan. Bahkan dalam dokumen tertulis pun tidak pernah dicatat. Saya mengetahuinya langsung dari almarhum pendiri pesantren."
Wajah Kolonel Harun mulai menampakkan secercah harapan. "Itu bisa berhasil. Tapi tetap berbahaya. Fatimah akan berada dalam situasi sangat berisiko hingga tim kita berhasil masuk."
"Saya bersedia mengambil risiko itu," jawab Fatimah tegas. "Demi Ahmad."
"Tidak dengan tangan kosong," Kolonel menggeleng. "Kau butuh perlindungan."
Ia berjalan ke sudut ruangan, membuka lemari tersembunyi, dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Dari dalamnya, ia mengambil benda seperti kalung dengan liontin berbentuk kaligrafi Arab.
"Ini adalah pemancar dan mikrofon tersembunyi," jelasnya sambil menyerahkan kalung itu pada Fatimah. "Tampilannya seperti kalung biasa dengan kaligrafi 'Allah', tapi di dalamnya terdapat teknologi pengintaian terbaik. Kita bisa mendengar semua yang terjadi di sekitarmu, dan melacak posisimu dengan tepat."
Fatimah menerima kalung itu, mengamatinya dengan takjub. "Teknologi yang luar biasa."
"Dan ini," Kolonel mengeluarkan benda lain—sebotol kecil minyak wangi, "semprot di pergelangan tanganmu. Ini mengandung gas bius. Jika situasi sangat genting, semprotkan ke arah wajah lawan, lalu tahan napasmu selama mungkin."
Syaikh Ahmad mendekati Fatimah, menatapnya dalam-dalam. "Anakku, ingatlah bahwa senjata terbaikmu adalah keimanan dan kecerdasanmu. Zubair mungkin memiliki banyak orang, tapi dia tidak memiliki perlindungan Allah yang senantiasa bersama orang-orang yang berjuang di jalan-Nya."
Fatimah mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Saya takut, Syaikh," akunya jujur. "Tapi ketakutan pada Allah lebih besar dari ketakutan pada Zubair."
"Itulah yang membuatmu kuat," Syaikh tersenyum lembut, tangannya yang keriput menepuk pundak Fatimah. "Sekarang, mari berdoa bersama sebelum kita berangkat."
Mereka membentuk lingkaran kecil, tangan bergandengan—kecuali Hamzah yang masih terborgol dan dijaga ketat oleh asisten Kolonel. Syaikh Ahmad memimpin doa dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan, memohon perlindungan dan pertolongan Allah.
Saat doa berakhir, Fatimah merasakan ketenangan aneh menyelimuti hatinya. Ketakutannya masih ada, tapi kini berdampingan dengan keyakinan kuat bahwa mereka tidak berjuang sendiri.
"Waktu kita satu jam," Kolonel Harun mengingatkan. "Tim akan berangkat terlebih dahulu untuk mempersiapkan penyusupan melalui terowongan. Fatimah akan berangkat dua puluh menit kemudian, untuk memberikan kami waktu cukup."
Saat semua bersiap, Fatimah mendekati Ustadzah Khadijah yang sedang menyiapkan mushaf berisi microchip palsu. "Ustadzah," bisiknya, "jika saya tidak kembali—"
"Kau akan kembali," potong Ustadzah Khadijah tegas. "Allah tidak akan membiarkan perjuangan di jalan-Nya sia-sia."
Fatimah memeluk mentornya erat. "Terima kasih atas segalanya, Ustadzah."
Saat mereka melepaskan pelukan, tatapan Ustadzah Khadijah berubah serius. "Ada satu hal lagi yang perlu kau ketahui tentang pesantren itu, Fatimah."
"Apa itu?"
"Di bawah lantai ruang tahfidz utama, ada tombol tersembunyi di balik karpet, tepat di bawah mihrab. Tombol itu terhubung dengan sistem keamanan darurat yang akan mengunci seluruh pintu dan jendela pesantren. Jika situasi benar-benar genting, gunakan itu."
Fatimah mengangguk, menyimpan informasi berharga itu dalam ingatannya.
Lalu, dengan langkah mantap namun jantung berdebar, ia berjalan keluar untuk menghadapi Zubair Al-Faruqi—pria yang telah merampas tiga tahun hidupnya dan Ahmad, serta mengancam masa depan mereka.