﴾ وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ﴿
"Dan janganlah kamu merasa lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman." (Ali 'Imran: 139)
Malam merangkak semakin larut ketika Fatimah melangkah keluar dari rumah Kolonel Harun. Angin sejuk menerpa wajahnya, membawa aroma dedaunan basah setelah gerimis singkat beberapa saat lalu. Ia mengusap kalung berukir kaligrafi 'Allah' yang kini melingkar di lehernya—pemancar tersembunyi yang menjadi satu-satunya penghubungnya dengan tim Kolonel Harun.
"Kami akan selalu mendengarmu," bisik Kolonel melalui alat komunikasi kecil di telinga Fatimah. "Tim sudah bergerak menuju terowongan. Beri kami waktu dua puluh menit sebelum kau masuk ke area pesantren."
"Baik," jawab Fatimah pelan. Tangannya menyentuh saku jilbabnya, memastikan botol minyak wangi berisi gas bius masih ada di sana.
Mobil sedan hitam yang akan membawanya ke pesantren sudah menunggu. Pengemudinya—seorang wanita muda berkerudung yang merupakan agen terlatih—memberikan anggukan singkat ketika Fatimah masuk.
"Bismillahirrahmanirrahim," Fatimah berbisik saat mobil mulai bergerak, meninggalkan kawasan perumahan elit tempat rumah Kolonel berada. Jantungnya berdebar kencang, namun di balik ketakutan itu ada keteguhan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.
Sepanjang perjalanan, Fatimah mencoba menenangkan diri dengan membaca ayat-ayat Al-Quran yang telah ia hafal. Bibirnya bergerak tanpa suara, melafalkan surah Al-Anfal dan ayat-ayat tentang kemenangan melawan ketidakadilan. Matanya sesekali melirik ke belakang melalui kaca spion, memastikan mereka tidak dibuntuti.
"Sepuluh menit lagi kita sampai," kata pengemudi, memecah keheningan. "Apa Ustadzah sudah siap?"
Fatimah mengangguk. "Insya Allah."
"Jangan khawatir tentang microchip palsu itu," tambah sang pengemudi. "Tim teknis membuatnya sangat mirip dengan yang asli. Bahkan pakar teknologi akan membutuhkan waktu untuk menyadari itu palsu."
"Berapa lama kira-kira mereka bisa tertipu?"
"Lima belas menit, paling lama. Setelah itu, mereka akan tahu."
Lima belas menit. Waktu yang sangat singkat bagi tim Kolonel untuk menemukan dan menyelamatkan Ahmad dan Ustadz Hanan. Fatimah menelan ludah, berusaha mengusir bayangan mengerikan yang berkelebat di benaknya.
Pesantren Modern Al-Fatah mulai terlihat di kejauhan. Bangunan utamanya yang megah dengan kubah hijau bercahaya di bawah lampu sorot, kontras dengan langit malam yang pekat. Di siang hari, tempat ini selalu penuh dengan aktivitas para santri. Namun malam ini, suasana terasa begitu berbeda—sunyi dan mencekam.
"Kolonel, kami hampir sampai," Fatimah berbisik, tahu bahwa mikropon di kalungnya akan menangkap suaranya. "Bagaimana keadaan tim di terowongan?"
"Mereka sudah masuk," jawab Kolonel melalui alat komunikasi. "Tapi ada lebih banyak penjaga dari yang kami perkirakan. Mereka membutuhkan waktu lebih lama."
Fatimah menghela napas berat. "Saya harus mengulur waktu."
"Tepat. Lakukan apapun untuk memperlambat proses. Tapi prioritaskan keselamatanmu, Fatimah."
Mobil berhenti sekitar seratus meter dari gerbang pesantren. Menurut rencana, Fatimah harus berjalan kaki dari sini untuk menghindari kecurigaan.
"Semoga Allah melindungi Ustadzah," ucap pengemudi dengan sorot mata penuh doa.
Fatimah mengangguk, lalu keluar dari mobil. Udara malam terasa lebih dingin sekarang. Ia melangkah mantap menuju gerbang pesantren, mushaf Al-Quran dengan microchip palsu digenggam erat di tangan kanannya.
Dua pria berbadan tegap dengan seragam petugas keamanan berdiri di depan gerbang. Wajah mereka asing—bukan petugas keamanan reguler pesantren. Mata mereka tajam mengawasi ketika Fatimah mendekat.
"Ustadzah Fatimah Azzahra," kata salah satu dari mereka, bukan sebagai pertanyaan. "Anda sudah ditunggu."
Gerbang dibuka, dan salah satu pria memberi isyarat agar Fatimah mengikutinya. Mereka melintasi halaman pesantren yang biasanya ramai oleh santri. Malam ini, tempat itu begitu sunyi hingga suara langkah kaki mereka terdengar menggema.
"Di mana semua orang?" tanya Fatimah, berusaha terdengar tenang.
"Semua santri dan pengajar diliburkan selama dua hari," jawab pria itu tanpa menoleh. "Alasan renovasi mendadak."
Mereka memasuki bangunan utama pesantren, melalui koridor panjang yang diterangi lampu temaram. Fatimah mengenali setiap sudut tempat ini—tempat yang selama bertahun-tahun menjadi rumah keduanya. Namun malam ini, tempat yang familiar itu terasa seperti wilayah asing yang penuh ancaman.
Langkah mereka berhenti di depan pintu ruang tahfidz utama. Fatimah ingat perkataan Ustadzah Khadijah tentang tombol rahasia di bawah mihrab. Informasi itu mungkin akan berguna nanti.
"Masuk," perintah pria itu, membuka pintu.
Ruang tahfidz yang biasanya dipenuhi suara lantunan ayat-ayat suci kini sunyi mencekam. Di tengah ruangan, duduk seorang pria berjubah putih dengan wajah berwibawa dan janggut terawat—sosok yang langsung Fatimah kenali sebagai Syaikh Ahmad yang palsu, Zubair Al-Faruqi.
"Assalamu'alaikum, Ustadzah Fatimah," sapa Zubair dengan senyum ramah yang tidak mencapai matanya. "Sungguh kehormatan akhirnya bisa bertemu langsung dengan hafidzah berbakat yang sering diceritakan oleh almarhum Ahmad."
Fatimah merasakan amarah membakar dadanya mendengar nama Ahmad disebut oleh mulut orang ini. Namun ia menekan emosinya, mengingat tujuan utamanya di sini.
"Wa'alaikumussalam," balasnya singkat. "Di mana Ahmad dan Ustadz Hanan?"
"Langsung ke pokok masalah," Zubair tersenyum lebih lebar. "Saya menyukai sikap tegas seperti itu. Tapi mari kita bicara lebih santai dulu. Apa Anda membawa yang saya minta?"
Fatimah mengangkat mushaf Al-Quran di tangannya. "Di mana mereka?"
Zubair memberi isyarat pada salah satu anak buahnya. Pria itu mengeluarkan ponsel dan menunjukkan sebuah tayangan langsung. Di layar terlihat Ahmad dan Ustadz Hanan, terikat di kursi dalam sebuah ruangan sempit dengan pencahayaan redup. Keduanya tampak babak belur, namun masih sadar.
"Mereka baik-baik saja," kata Zubair, "untuk saat ini."
"Saya ingin bertemu mereka," Fatimah bersikeras.
"Semua pada waktunya, Ustadzah. Pertama, mari kita periksa apa yang Anda bawa."
Zubair bangkit dari kursinya, berjalan mendekat dengan langkah tenang penuh percaya diri. Tangannya terulur, menunggu Fatimah menyerahkan mushaf. Dengan enggan, Fatimah memberikan mushaf itu.
Zubair mengamati mushaf tersebut dengan seksama, membalik-balik halamannya, lalu memeriksa sampulnya dengan teliti. Jari-jarinya yang terampil menemukan bagian tersembunyi di lapisan kulit sampul belakang, tempat microchip ditanam.
"Subhanallah," gumamnya. "Teknologi yang menakjubkan, bukan? Begitu kecil, namun berisi data yang bisa menghancurkan jaringan yang kubangun selama bertahun-tahun."
Ia melirik jam tangannya. "Sayangnya, kita tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi. Lima belas menit lagi, rencana besar kami akan dimulai."
Jantung Fatimah berdebar kencang. Ia perlu mengulur waktu lebih lama.
"Mengapa?" tanya Fatimah tiba-tiba. "Mengapa Anda melakukan semua ini? Mencoreng nama Islam dengan kekerasan dan teror?"
Zubair menatapnya lama, seolah mempertimbangkan apakah pertanyaan itu layak dijawab.
"Islam membutuhkan kebangkitan sejati," ia akhirnya berkata. "Bukan Islam moderat yang lemah dan selalu mengalah. Kita membutuhkan kekuatan untuk menghadapi musuh-musuh Islam. Dan terkadang, kekuatan itu perlu ditunjukkan dengan cara yang... dramatis."
"Dengan membunuh sesama Muslim?" Fatimah tidak bisa menahan nada getir dalam suaranya.
"Pengorbanan diperlukan untuk tujuan yang lebih besar," jawab Zubair tenang. "Ahmad mengerti hal ini, sebelum dia menjadi terlalu lembut. Dia memiliki potensi besar untuk gerakan kami, tapi sayangnya, cintanya padamu membuatnya lemah."
Fatimah tersentak. "Maksud Anda?"
"Ahmad dulu adalah salah satu rekrutan terbaikku," Zubair tersenyum melihat keterkejutan di wajah Fatimah. "Ya, sebelum dia bertemu denganmu, dia hampir bergabung dengan kami. Tapi kemudian dia jatuh cinta, dan prioritasnya berubah. Dia mulai mempertanyakan metode kami, dan akhirnya mengkhianati kami."
Pengakuan itu bagaikan hantaman keras bagi Fatimah. Ahmad, hampir bergabung dengan kelompok ekstremis? Tidak mungkin. Namun, sebelum dia bisa memproses informasi itu, pintu ruangan terbuka lebar.
Seseorang yang tak pernah ia duga akan melihatnya di sini berjalan masuk dengan langkah mantap.
"Ayah?" bisik Fatimah tak percaya.