Bab 4 - Segitiga

1843 Kata
Aku memang sudah menduga, seperti aku yang bisa membaca perasaan Wulan ke Samudra, yang lain pun cepat atau lambat juga akan tau kalau Wulan mengidamkan Sam. Tapi aku tak menyangka mereka bahkan menyadari perasaanku pada Wulan. Selama ini aku berusaha serapi mungkin menyimpan perasaan ini dari Layung dan lainnya, jika mereka sampai menyadarinya lalu apa Wulan juga merasakannya? Sebenarnya tak ada masalah juga bila Layung dan Pijar tau, aku yakin tidak akan ada yang berubah dengan mereka. Hanya bila Wulan atau Samudra tau, aku takut akan muncul perasaan tak nyaman yang akan mengubah hubungan kami. Apa yang sudah berjalan selama ini adalah hubungan terbaik yang bisa kita miliki bersama-sama. Dengan menutup mata berpura-pura tak mengetahui apapun, mengubur perasaan sendiri, apakah akan baik baik saja? Kurasa hanya tinggal masalah waktu sampai semuanya meledak. Sebelum itu jadi petaka, lebih baik kita susun rencana. Samudra bisa jadi juga sependapat denganku. Ternyata benar, rencana untuk ikut menonton konser dangdut sebelum menyusul ke kios buku adalah kesalahan besar. Layung dan Pijar tadi berada disampingku, berdiri paling belakang diantara kerumunan penonton, tapi dalam satu kedipan mata tiba-tiba mereka menghilang. Kuputuskan untuk menunggu sambil minum kopi di cafe langganan kami dalam mall itu. -Kalian dimana woy? Kok ilang tiba-tiba.- kukirim pesan pada Layung. -Depan panggung persis.- balas Layung. Luar biasa, bagaimana bisa mereka mencapai tempat itu? Kerumunan penonton ini tidak cuma berdiri diam, mereka juga berjoget bahkan sampai hampir rusuh. Apakah ini yang namanya kekuatan fans dangdut sejati? -Aku tunggu sambil ngopi di tempat biasa. Kalau sudah selesai kabari.- kukirim lagi pesan untuk Layung agar mereka bisa tenang menonton konser tanpa memikirkanku yang memang sudah mereka tinggalkan begitu saja. -Oke. Nanti pesankan es kopi juga buat aku sama Pijar. Tenggorokanku kering nyanyi teriak-teriak.- balas Layung. Aku bisa bayangkan bagaimana mereka sekarang. Bernyanyi sepenuh hati sambil berjoget penuh penghayatan di depan penyanyi idola mereka. Tentu saja haus setengah mati. -Nyanyi terus sampai tenggorokan putus.- kirim. Aku masih tak habis pikir, dari mana para pecinta dangdut itu tau ada hubungan perasaan antara aku, Wulan dan Samudra. Layung memang jago memancing orang untuk berkata jujur, tapi tak pernah sekalipun kami membicarakan Wulan. Apa Sam juga akan terkejut sepertiku jika kuberitahu tentang Layung dan Pijar? Rasanya tak bisa aku menunggu konser ini selesai dengan hanya berdiam diri. Aku harus segera bertemu Samudra. -Sam, masih di sana?- kuputuskan untuk mengirim pesan pada Sam. -Baru juga nyampe. Biduannya cakep gak?- balas Sam. -Boro-boro liat. Layung ama Pijar tuh nonton persis depan panggung. Udah dapet bukunya?- kirim. -Ikutan ke depan, lah! Nyari lokasi kios barunya aja susah bener. Ini masih muter tanya-tanya orang. Why?- balas Sam. -Ogah, takut kena tawuran penonton. Lah, kirain Wulan udah tau.- kirim -Wulan ternyata cuma dapet nemu itu selebaran brosur kios baru. Tanya ke orang malah orangnya pada tanya balik, emang ada kios baru ya? Mending ikut Pijar aja dah tadi, ke mall adem.- balas Sam. -Yaudah nyusul sini, buruan.- kirim. -Baginda ratu gak mau. Nitip aja beliin kopi yang biasa kalo kesini, dua. Mumpung lagi di sana.- balas Sam. -Semuanya aja nitip kopi, gak yang nonton konser gak yang cari buku.- kirim. Aku tentu tak bisa membicarakan masalah serius dalam pesan. Aku juga tak bisa telepon karena sekarang Sam sedang bersama Wulan. Tak ada cara lain selain bersabar menunggu saat yang tepat. Sekitar 20 menit menunggu, akhirnya Layung dan Pijar menyusulku ke kedai kopi. Kelihatan sekali tenaganya habis kecapekan, tapi wajahnya puas sumringah. “Wah Ta, salah kamu gak ikut kita ke depan panggung. Cantik buanget penyanyine.” kata Pijar sambil menyruput kopi yang sudah kupesankan. ”Lagunya enak banget dijogetin. Sampe keringetan lho aku, padahal dalem mall.” tambah Layung. ”Udahan, kan? Yuk cabut, mati gaya aku di sini.” ajak ku sambil berdiri dari kursi, ingin segera meninggalkan mall ini. ”Istirahat dulu, lah. Laper ini.” tahan Pijar sambil memegangi perutnya. ”Makan di penyetan deket stadion aja kaya biasa, sekalian bareng Sam sama Wulan.” kataku. ”Cie yang khawatir ninggal Sam sama Wulan berduaan.” goda Layung. ”Anjir! Yaudah. Ayo makan, sana pesen.” jawabku menggerutu sambil kembali duduk agar ejekan Layung tak semakin menjadi. Selama menunggu pesanan kami datang, aku terus berpikir apakah lebih baik bertanya pada mereka atau tidak mengenai lanjutan obrolan kami yang tadi. Rasa gengsi di pikiranku membuat mulutku asam untuk bertanya. Tapi aku benar-benar penasaran ingin tau dari mana sumber cerita mereka. Aku jadi cuma terus memandangi mereka dengan mulut diam terkunci. ”Kalau mau ngomong tuh ngomong aja, Ta. Ga usah dipendam-pendam, tar jadi entut (kentut) lho.” kata Layung sambil tersenyum memandangi ponselnya. Dia rupanya menangkap sinyal kekalutanku daritadi. Aku jadi makin segan untuk bertanya. ”Paling mau ngomongin yang tadi, Yung. Kasih tau gak ya..” Pijar ikut-ikutan menggodaku. Aku harus terus diam disaat seperti ini, jika tidak bisa semakin parah ejekan yang kuterima nantinya. ”Bisa kualat aku kalau gak ngasih tau mas Semesta. Wajahnya sekarang aja udah kaya mau kirim santet kok.” mereka berdua puas menertawakanku. ”Ampun mas Semesta. Jangan melotot gitu to. Jadi sampean (kamu) penasaran kita tau dari mana ya masalah kamu suka sama Wulan?” sambung Pijar. “Kalau aku sih udah tau dari pertama kali kamu bawa Wulan ke kontrakan, Ta. Kamu kan selama ini gak pernah deket sama cewek, dikenalin ke temennya Pijar aja cuma melengos tok (buang muka doang). Terus kok tiba-tiba bawa cewek ke kontrakan. Sorot matamu itu lho, gak bisa bohong. Ya gak, Jar?” jelas Layung. Aku tanpa sadar jadi tersenyum kecil. Sial, apa sekentara itu? Ini sih sudah terciduk dari awal namanya. ”Apalagi kalau pas merayakan purnama. Aura jatuh cintamu bikin silau, Ta. Udah kaya nonton telenovela di teve, bikin eneg.” tambah Pijar. ”Tapi untung ya, Jar. Sam gak ada hati ke Wulan. Bisa gonjang ganjing nanti dunia ini kalau Samudra rebutan rembulan sama Semesta. Air bah dimana-dimana.” canda Layung. ”Hush! Ngawur kamu kalau ngomong!” tiba-tiba nada Pijar naik. Aku dan Layung berhenti sejenak. ”Opo sih, Jar? Ngageti wae. (Apasih, Jar. Bikin kaget aja.)” sergah Layung. “Kita kan gak tau Sam bener gak ada hati sama Wulan atau cuma pura-pura gak ada rasa karena gak enak sama Semesta.” tambah Pijar dengan wajah panik entah kenapa. ”Nah, itu bener juga. Kita kan gak bisa baca dalamnya hati seseorang. Emang kalau bener Sam ada hati sama Wulan kamu mau gimana, Ta?” tanya Layung. ”Ya gak gimana-gimana, lah! Kan yang bisa milih c*m…” belum selesai kalimatku, ada telepon masuk di ponselku. Ternyata dari Samudra, panjang umur anak ini. ”Gimana Sam?” tanyaku saat kuangkat telepon. ”Gak usah nyusul ke sini, Ta. Kita udahan cari bukunya. Masih lama gak di mall? Kalau masih lama kita aja yang nyusul ke situ.” kata Sam di sambungan telepon. ”Kok tumben cepet? Ini lagi pesen makan sih, yaudah kesini aja.” jawabku. ”Oke, meluncur.” kata Sam sambil menutup telepon. ”Sam sama Wulan mau nyusul ke sini.” kataku pada Layung dan Pijar. ”Loh, kok cepet?” tanya Pijar, sama tidak percayanya denganku. ”Gak tau. Nanti aja tanyain.” jawabku singkat. ”Kupingnya pada panas kali, kerasa kalo lagi diomongin.” kata Layung. ”Pas banget ada film bagus nih, nonton aja ayo.” aku mencoba untuk mengganti topik pembahasan. Tak ingin lagi membicarakan itu pada Layung dan Pijar. Harusnya kuselesaikan langsung bersama Samudra. Karena perkataan Pijar ada benarnya. Samudra yang kutahu memang hanya memuja purnama. Tapi seiring waktu yang kita habiskan bersama, bukan tidak mungkin Sam merasakan perasaan yang lain pada Wulan. Jika memang begitu, sudah menjadi tugasku untuk mundur agar mereka bahagia. *** Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari ketika kami tiba di kontrakan. Karena sudah lelah kami langsung masuk ke kamar masing-masing. Seharian ini aku tak bisa menatap mata Wulan. Menghindari matanya lebih melelahkan daripada membohongi diri sendiri dengan kalimat aku tak mencintainya. Jelas, ini tak boleh dibiarkan berlarut-larut jika aku masih ingin perkumpulan ini utuh. Setidaknya harus kuluruskan perihal hubungan Sam dan Wulan. Tapi mulai darimana? ”Ta, tidur?” tiba-tiba kudengar Sam memanggilku ketika pikiranku sedang melayang-layang tak tau arah. ”Ngepel. Menurut lo?” jawabku tak bergeming dari posisi awal. Lampu kamar sudah mati, kami tidur saling memunggungi. ”Lo kenapa dah hari ini? Berantem ama Wulan?” tanya Sam. Tak kusangka dia sampai menyadari hal itu. Astaga, apa aku separah itu. ”Sam, lo tau ya gue ada rasa sama Wulan?” kuputuskan untuk langsung bertanya setelah beberapa saat hening. ”Tau, lah. Orang budeg juga tau, Ta.” jawab Sam seketika tanpa pikir panjang. Sialan, padahal aku butuh waktu lama untuk bertanya, dia malah jawab dengan enteng saja. ”Lo tau juga kan Wulan ada rasa sama lo?” aku spontan bertanya karena kesal. ”Tau. Tapi gue gak ada apa-apa ama Wulan. Gak usah khawatir.”dia lagi-lagi menjawab dengan enteng. ”Si anjing. Gue gak tanya.” aku jadi makin kesal. ”Lo tau hati ama pikiran gue cuma buat purnama. Elo, Pijar, Layung, Wulan semuanya gue anggep sodara gue yang berharga. Gak akan gue biarin perkumpulan kita retak untuk urusan cinta. Lo bisa pegang omongan gue.” ”Gue gak masalah anjing kalo lo mau sama Wulan. Wulan berhak bahagia dengan siapapun yang dia pilih. Asalkan kalian semua bahagia, gue ikut seneng. Gue cuma gak mau dijadiin alesan buat lo nolak Wulan. Gara-gara lo tau gue suka ama Wulan terus lo jadi ga enak ama gue buat suka ama Wulan.” Sialan omonganku jadi berputar-putar makin tak jelas. ”Iye iye gue paham. Udah, lo gak perlu overthinking. Lo gak kasian apa ama Wulan? Dia bingung udah bikin salah apa sampe lo cuekin seharian.” jawab Sam masih dengan memunggungiku. ”Menurut lo Wulan tau gak ya?” tanyaku ragu sambil membayangkan wajahnya yang kebingungan serba salah. ”Tergantung.” jawab Sam. ”Tergantung gimana?” tanyaku lagi, tak bisa menebak apa maksud Samudra. ”Tergantung maksudnya tau apaan. Kalo maksud lo tau kenapa dicuekin seharian sih ya jelas gak tau.” jawab Sam lagi dengan santai. ”Sam, lo sekali lagi candain gue, besok gue pastiin lo telat bangun. Biar tau rasa lo gak ikut UTS.” rasa kesal di kepalaku sudah mencapai ubun-ubun. Harus keluar ancaman untuk membuat Sam benar-benar serius. ”Ampun bos. Jadi gimana tadi? Maksud lo tau apa?” sekarang baru pembicaraan bisa dimulai. ”Tau kalo gue ada rasa sama dia, lah!.” jawabku terus terang. ”Wulan gak b**o, Ta. Gue rasa dia juga udah tau kalo gue gak ada rasa ama dia. Kita cuma memainkan peran yang kita inginkan, tanpa minta balasan. Lo juga sama, kan?” Sam selalu sepeka ini. Sungguh konyol diriku sempat mencemaskan dirinya. ”Dalamnya hati orang gak pernah bisa diukur bro. Digoda harapan siapa tak terlenakan?” jawabku. ”Ada hal lain yang mestinya lo khawatirin, Ta. Hal yang lebih penting yang malah lo lupain.” Samudra mendadak menjawab dengan nada dalam. Seperti mengetahui sesuatu penting yang sungguh kulupa. Reflek badanku berbalik untuk memandang sumber suara. ”Apa?” tanyaku. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN