Bab 5 - Hangover (1)

1765 Kata
 File untuk presentasi sudah rampung, seragam juga sudah rapi, rambut sudah dipotong pendek, sepatu hitam pantovel sudah disemir mengkilat, semuanya sudah siap untuk sidang skripsiku pagi ini. Aku berangkat ke kampus dengan diarak oleh kawan-kawan satu jurusan. Itu karena dari seluruh mahasiswa tahun angkatanku, aku adalah mahasiswa pertama yang akan melangsungkan sidang skripsi semester ini. Aku pun tak menyangka bisa menyalip Wulan yang lebih dulu mengajukan skripsi. Ini semua berkat dosen pembimbingku yang dengan disiplin memaksaku untuk bimbingan, disaat mahasiswa lain sedang putus asa mengejar dosen pembimbing untuk bersedia memberikan coretan revisi pada skripsinya. Dalam waktu satu semester skripsi selesai dan sidang tepat pada minggu berikutnya. Bila segalanya lancar, aku bahkan bisa mengejar ikut wisuda tiga bulan lagi. Segalanya terasa terlalu mudah dan instan sampai aku bahkan tidak sempat untuk berpikir macam-macam.    Sidang skripsi yang harusnya dimulai pukul 10 malah diajukan jadi pukul 9, untung saja aku sudah stand by dari satu jam sebelumnya. Dosen penguji yang agung memasuki ruangan dengan penuh senyum bahkan sempat bertukar candaan denganku, benar-benar tidak ada kesan sadis seperti yang kabar burung katakan. Karena skripsi ini aku susun sendiri maka tidak ada kesulitan apapun pada saat mempresentasikannya. Pertanyaan dari penguji terjawab secara lancar, tidak satu pun mengancam senyumku. Dalam satu jam sidang selesai dengan keputusan lulus tanpa revisi, seperti yang sudah aku duga. Kelulusanku disambut meriah oleh semua yang datang menyaksikan. Sekali lagi aku diarak keliling gedung fakultas dipamerkan pada semua orang, inilah mahasiswa pertama yang lulus semester ini. Astaga, tak ada hentinya aku dibuat tertawa sampai semua otot diwajahku pegal. Sebuah selebrasi yang sungguh berkesan.    Ada satu lagi selebrasi yang kunanti-nanti dari mereka yang menungguku di kontrakan. Segera setelah semua ritual di kampus selesai, aku bergegas pulang. Aku penasaran acara apa yang telah disiapkan oleh Wulan dan kawan-kawan sebab malam ini adalah malam bulan purnama. Perayaan purnama kami biasanya diadakan di gunung atau di pantai. Karena sudah hampir empat tahun kami melakukannya, sudah tak banyak lokasi baru tersisa untuk dikunjungi. Kadang kami datangi lagi lokasi-lokasi yang menjadi favorit kami. Kali ini cukup spesial, aku ingin tahu lokasi mana yang mereka pilih sampai harus merahasiakannya dariku. Ketika kubuka pintu kontrakan, PPRREEETTT!! suara letusan confetti dan terompet menyambutku bersama dengan timpukan telur dan tepung. ”Selamattt!!! Calon wisudawan.” teriak mereka berempat serempak. ”Woy, apaan nih? Bau!” aku kaget telur mentah meleleh dikepalaku. ”Wohooooo, angkat woy angkat.” teriak Sam kegirangan, badanku dibopong bertiga dibawanya ke halaman belakang. Di sana ada kursi dan seember besar air bunga sudah disiapkan. ”Duduk diem di situ. Waktu dan tempat dipersilakan.” tambah Sam sambil mempersilakan Wulan yang kemudian maju ke hadapanku. Pijar, Layung dan Sam mengelilingi kami sambil terkekeh-kekeh. ”Saya sebagai ratu di tempat ini, dengan ini menobatkan saudara Semesta sebagai kesatria lulusan tercepat tanpa revisi. Selamat menjalankan kewajiban anda pada dunia, ingatlah hari ini sebagai hari pertama terbasuhnya tubuhmu sah menjadi bagian dari masyarakat. Saran ya, jangan menambah tingkat pengangguran negeri ini. Selamat selamat selamat!” Wulan membaca dialog itu sambil meletakkan gayung dipundakku seperti seorang ratu sungguhan. Dan diakhir dialog dia mengguyurku dengan air bunga disambung dengan Sam, Layung, dan Pijar menyemprotkan air dengan watergun kearahku. Langsung kuraih selang air yang ada di ember dan kusemprotkan pada mereka semua. Kami basah kuyup saling semprot, berlarian kesana kemari sambil tertawa riang persis anak kecil. ”Udah ah, capek.” kata Pijar sambil terlentang ngos-ngosan kehabisan nafas. ”Aku mandi duluan deh kalo gitu.” kata Wulan lalu pergi masuk ke kamar mandi. ”Abis ini mau kemana?” tanyaku. ”Pokoke enak.” jawab mereka bertiga kompak. Aku diam, terlalu lelah untuk menjawab. Sambil tiduran diatas rumput, memandangi langit yang sebentar lagi memerah rekah. Muncul kilas balik ingatan dari semasa awal kuliah hingga hari ini aku dinyatakan lulus. Banyak hal sudah terjadi, tidak bisa dibilang semuanya menyenangkan, tapi semuanya berharga. Terutama semua kenangan bersama mereka. Perkumpulan kami, perayaan purnama, dan hari ini. Akan sangat disayangkan jika semuanya berakhir secepat ini.    Setelah selesai membersihkan diri, kami bersiap-siap untuk pergi merayakan purnama. Mataku ditutup kain sejak kami masuk ke dalam mobil. Perjalanan terasa cukup lama. aku curiga kami tidak hendak pergi berkemah, karena jalan yang dilalui tidak berbatu seperti jalanan gunung. Mungkin kali ini ke pantai, aku lihat mereka membawa banyak makanan mentah tadi. Membakar daging di pinggir pantai pasti syahdu sekali. Boleh juga rencana mereka, tapi kenapa pula mataku mesti ditutup, aku pun tak mungkin kemana-mana, kan? ”Dah sampai.” kata Pijar membuyarkan lamunanku. ”Ayo turun, Ta. Jangan dibuka dulu matanya.” pinta Wulan sambil menuntunku berjalan. Tanahnya solid, jelas bukan pasir pantai seperti bayanganku. Udaranya pun terasa sangat sejuk menyegarkan. Sepertinya tebakanku salah. ”Sekarang buka matanya di hitungan ketiga ya.” kata Wulan. “Satu.. dua.. tiga! Surprise!” mereka berempat menghitung bersamaan. Saat kubuka mata, yang kulihat pertama kali adalah pemandangan lampu kota yang berkelap kelip dengan indahnya di kejauhan. Lalu sebuah rumah besar dengan halaman yang luas dan taman yang indah. Kami berada di suatu bukit dengan pemandangan kota yang indah berkilauan. ”Wow.” kataku terkesima. ”Ini vila keluarganya Pijar.” kata Wulan. ”Jar, kamu punya vila bagus begini kok baru sekarang bilangnya sih?” kata Layung ikut terpukau. ”Ini punya budheku, Yung. Pinjem sehari doang spesial buat Semesta.” jawab Pijar. ”Jar, di sini bulannya kelihatan jelas, kaya deket banget tanpa tedeng aling-aling.” kata Sam sambil mendongak ke atas. Diikuti oleh kami semua ikut mendongak memandang langit yang cerah tanpa awan, hanya bintang dan bulan yang bundar sempurna bersinar keemasan dengan lembut. ”Ayo masuk dulu, aku sudah siapin yang spesial buat hari ini.” ajak Pijar.    Bangunan vila ini mewah sekali, tidak seperti vila di film yang kelihatan angker tak berpenghuni. Furniturnya gaya minimalis modern. Ada kolam renang kecil begitu memasuki halaman belakang rumah, taman yang terawat indah dibagian kirinya, dan yang paling berkesan adalah halaman rumput luas dengan pemandangan city view yang memanjakan mata. Ini benar-benar pengalaman baru bagi kami untuk merayakan purnama di tempat senyaman dan seindah ini. Tidak rugi sama sekali mendapati pemandangan megah yang indah ini setelah mataku diikat kain selama satu jam lebih. Di halaman yang luas itu sudah disiapkan alat pemanggang untuk barbeque. Ada lima beanbag disusun setengah lingkaran menghadap ke pemandangan, ditengahnya terdapat meja memanjang penuh dengan peralatan makan, snack, dan botol minuman. Minuman beralkohol mahal yang biasanya ada di diskotik, bukan minuman yang terjangkau oleh mahasiswa pas-pasan sepertiku. Bermacam merek, jenis, dan warna-warni. Keberadaan botol minuman ini membuatku terkejut lebih dari apapun. Selama ini kami hampir tak pernah menyentuh alkohol, apalagi sejak adanya Wulan diantara kami. Bukan sok suci, tapi memang tak pernah terpikir sampai kesana saja. ”Woah, edan! Serius ini, Jar? Boleh diminum nih?” tanya Layung sambil melihat-lihat botol minuman itu dengan mata bersinar dan sudut bibir tertarik lancip. ”Ya boleh, lah! Sak puasmu (Sepuasmu)! Dikasih pakdheku lho ini, katanya hadiah sebelum menghadapi dunia yang sebenarnya. Dia punya banyak yang kaya gini, wong dia punya diskotik di Jogja.” jawab Pijar bangga. ”Heh, kan ada Wulan.” kataku. ”Emang kenapa kalau ada aku? Aku juga pernah minum kok. Aku udah tau kali ada ginian, Pijar kemaren tanya dulu sama aku. Tenang aja, aku ngicip doang. Kalian minum aja, kalau pada mabuk tak cemplungin kolam renang.” kata Wulan ceria, sepertinya dia juga tak sabar ingin ikut “ngicip”. ”Serius nih boleh?” tanya Sam yang wajahnya juga ragu-ragu sepertiku. ”Sam gampang mabuk yaaa, kalau gak kuat jangan banyak-banyak ya Sam, nanti kamu bikin onar kan repot.” goda Layung. ”Wah, nantangin nih?” Sam masih saja mudah terpancing oleh Layung. ”Heh, gimana sih kok malah adu minum. Gak boleh. Minum masing-masing segelas aja.” cegah Wulan. ”Jar, emang gak apa-apa? Kok perasaanku gak enak ya.” aku berbisik pada Pijar. Aku merasa seperti ada hal buruk akan terjadi bila kita semua minum di sini. ”Gak apa-apa. Tenang aja, di sini sepi. Gak bakal ada yang protes walaupun Sam teriak-teriak baca puisi tengah malem. Di dalem juga banyak kamar, Wulan nanti suruh masuk aja kalau udah mulai rusuh, biar nonton dari balkon atas kalau mau. Lagian emang bakal terjadi apa? Cuma kita-kita ini, Ta.” Jawaban Pijar bagaimanapun tidak akan bisa membuatku tenang. Memang benar hanya kita-kita saja, tapi pengaruh alkohol kerap mengubah orang menjadi pribadi yang sama sekali lain. ”Lan, seriusan deh, gak usah ikut minum. Aku juga gak minum. Kita jagain mereka aja.” aku beralih membisiki Wulan, orang yang paling aku khawatirkan saat ini. ”Ya ampun, kan kamu tokoh utama hari ini, masa iya malah gak minum. Udah deh, tenang aja, Ta. Aku bisa jaga diri. Aku percaya kalian juga gak akan macem-macem. Emang mau pada ngapain sih? Saling bunuh pakai garpu plastik?” Wulan menjawab sambil menyiapkan bahan-bahan makanan.     Memang betul tak mungkin kami saling bunuh atau saling pukul. Kupikir lagi juga tak mungkin mereka berani menyentuh Wulan ketika pikirannya tak waras. Justru yang paling mengkhawatirkan sebenarnya adalah diriku sendiri. Aku takut mulutku meracau menyatakan cinta pada Wulan. Aku takut kehilangan kendali di hadapan Wulan. Bagaimana kalau aku melakukan hal yang tidak-tidak ketika mabuk dan yang lainnya juga terlalu mabuk untuk mencegahku. Aku pasti tak bisa mencegah diriku sendiri meledak saat berada dalam pengaruh alkohol. Jika itu terjadi aku juga tak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Lebih baik aku tidak minum malam ini. Meskipun mereka memaksa, aku tetap tak boleh meminumnya. ”Tenang aja, Ta. Aku gak minum, wes kalian aja. Biar aku yang tetep sadar.” Pijar membisikkan kalimat itu seakan-akan bisa membaca pikiranku. ”Gak lah, Jar. Aku juga gak minum.” jawabku. Karna meskipun Pijar dalam keadaan sadar, tidak ada jaminan dia bisa menghentikanku dari bertingkah t***l di depan Wulan. ”Kalau kamu gak minum ya malah aneh. Ini kan perayaan sidangmu. Kamu takut ngoceh to pas mabuk? Tenang wae aman. Nanti aku yang atur.” kata Pijar lagi-lagi membaca pikiranku. ”Kamu atur gimana?” tanyaku penasaran. ”Ya tinggal jangan mabuk to. Kamu minum secukupnya aja, nanti aku yang ngatur gelasnya.” jawab Pijar cukup meyakinkan. Benar, aku tak perlu minum sampai mabuk. Aku juga cukup percaya diri dengan kemampuan minumku. Kalau ada yang mengatur gelas akan jauh lebih baik lagi. ”Bener ya? Aku percayain ke kamu kalau gitu, Jar. Tolong ya bapak hakim yang mulia.” lega rasanya ketika ada orang yang bisa dipercaya. Seperti biasa, Pijar selalu menjadi penyelamat kita semua. Aku jadi tetap bisa minum untuk menghormati perayaan ini dan Wulan, Layung, serta Sam bisa menikmati merayakan purnama sepuas mereka. Dengan begini perayaan purnama malam ini bisa dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN