Udara cukup dingin karena tempat ini ada di perbukitan. Langit masih cerah tanpa awan, mempersilakan bintang dan bulan purnama berduet dengan pemandangan lampu kota dibawah sana. Angin berhembus cukup kencang meniup rambut Wulan membuatnya menari-nari dengan indah. Kami sedang di halaman belakang, memanggang daging yang kami bawa dari kontrakan.
”Ini terakhir, kan? Abis ini makan ya berarti?” tanya Layung sambil menyusun daging di atas grill.
”Iyaa. Laper banget ya, Yung?” tanya Wulan.
”Baunya itu lho, Lan. Menyayat-nyayat lambung.” jawab Layung.
”Ini kebanyakan gak sih bakarnya? Di meja udah 3 piring daging semua lho.” tanya Samudra.
”Kan yang makan juga banyak, Sam. Udah mateng nih. Yuk makan. Keburu yang di meja jadi dingin juga.” Ajak Wulan.
”Akhirnya!” teriak Pijar dan Aku. Kami lalu duduk melingkari meja panjang yang sudah penuh dengan daging, nasi, dan menu pelengkap lainnya.
”Makan dulu yang kenyang biar gak jackpot guys.” kata Layung sambil menyuap daging dengan lahap. Sepertinya yang paling tidak sabar untuk membuka botol minuman adalah Layung. Aku memang beberapa kali menemukan Layung pulang dengan bau ciu yang menyengat, tapi tidak dalam keadaan mabuk. Kalau kutanya sebabnya, dia akan menjawab habis diajak seniornya minum. Memang tidak sering, tapi sepertinya Layung jadi terbiasa dengan alkohol.
”Emang siapa yang mau kasih kamu minum, Yung? Ini kan buat Semesta.” kata Sam.
”Oh bener ya.. Kamu juga gak boleh minum to Sam.” balas Layung.
”Kalian gak boleh, ini semuaaa aku punya!” kata Wulan sambil menirukan suara tokoh kartun melayu sikembar botak. Kami pun tertawa melihatnya.
”Tenang-tenang. Hari ini aku yang jadi bartendernya. Buat temen makan daging kita minum ini dulu, biar kaya orang Eropa.” Pijar mengeluarkan botol red wine dari cooler box.
”Jar, itu red wine? Yang kaya di film-film itu?” tanya Layung antusias seperti baru pertama lihat. Meski aku pun juga baru pertama kali ini melihatnya.
”Yoi. Pasti belum pernah coba to? Siapin gelasnya, aku yang tuangin.” kata Pijar sambil membuka tutup botol wine dengan elegan.
”Gelasnya gelas plastik banget nih? Masa minum wine gelasnya gini?” kata Sam sambil menertawakan gelas kami diatas meja. Semua peralatan makan yang kami gunakan adalah peralatan makan sekali pakai dari bahan plastik.
”Ini namanya darurat Sam. Kita kan bukan lagi fine dinning.” jawabku sambil tertawa juga. Pijar selesai menuangkan wine pada gelas kami. Masing-masing hanya diisi seperempat gelas.
”Nah, silakan diicip. Yang ini namanya…” belum selesai Pijar menjelaskan, kalimatnya dipotong oleh Wulan.
”Pinot noir. Iya, kan?” Wulan menebak dengan bangga. Membuat kami yang lain geli karna wajah congkaknya.
”Iya betul. Kamu tau to, Lan?” tanya Pijar masih dengan tertawa.
”Emang Layung taunya cuma ciu sama congyang doang.” lagi-lagi Wulan membuat tawa kami meledak.
”Ngece (ngeledek) ya! Kamu mesti baca tulisan di botolnya to.” jawab Layung membela diri.
”Rasa red wine kaya gini ya? Hmm, asem asem wangi. Pantes ya terkenal.” kataku memutus candaan Wulan dengan Layung.
”Eh lupa belum bersulang kaya yang di film-film. Ayo ulangi, diisi lagi, Jar.” pinta Layung. Sambil kami semua mengisi ulang gelas kami yang telah kosong karena habis dalam satu tegukan.
”Mari bersulang dalam rangka suksesnya sidang kawan kita Semesta dan untuk merayakan hadirnya purnama yang indah ditengah-tengah kita malam ini. Semesta mau nambahin gak?” Samudra memberikan pembukaan sambil mengangkat gelas diikuti oleh kami semua.
”Bersulang untuk perkumpulan kita yang selalu hangat, persahabatan yang tidak akan putus oleh apapun. Bersulang!” tambahku sambil mengacungkan gelas lalu menenggak isinya sampai habis.
”Woahhh, keren banget kaya di film. Tambah lagi boleh gak, Jar?” Layung mengatakannya dengan wajah sumringah malu-malu. Disambut dengan sorakan “Woooo” dan tawa kembali pecah.
”Sini tak kebeki (kupenuhi) gelasmu, Yung. Tapi jangan tumbang lho ya, masih banyak lainnya yang belum diicip.” kata Pijar sambil mengisi ulang gelas Layung.
Malam ini sungguh indah. Berada di sini diantara Wulan, Samudra, Layung dan Pijar, orang-orang yang berjasa mewarnai hari-hariku selama ini, terasa nyaman dan menyenangkan. Hidangan lezat dihadapan kami, juga berbagai minuman yang kami tenggak sedikit demi sedikit melengkapi canda tawa kami dibawah hujan cahaya bulan purnama yang terasa lebih kuat malam ini.
”Tadi kayanya aku lihat gitar.” kata Sam.
”Ambil Sam. Sikat!” Pijar paham dengan kode dari Sam. Tak menunggu lama Sam masuk ke dalam rumah mengambil gitar.
”Yok kita mulai, tebak lagu!” ajak Sam sekembalinya dia pada kami.
”Yang salah minum ya!” tantang Layung.
”Itu sih maunya kamu, Yung. Yang tebakannya bener aja boleh pilih mau minum apa.” balas Sam.
”Atau boleh nyuruh siapa untuk minum apa. Deal?” tawar Layung.
”Deal!” jawab kami serempak.
”Lagu pertama… I know you’re somewhere out there… Somewhere far away… I want you back… I want you back…” Sam memetik gitar sambil menyanyikan lagu.
”Aku tau. Talking to the moon. Bruno mars.” jawab Wulan buru-buru.
“Betul. Cepet amat dah. Mau minum apa?” tanya Sam.
”Kudu banget ada moonnya ya, Sam. Kamu yang minum Sam. Jar, pilihin yang paling gak enak ya, yang pahit.” kata Wulan lalu tertawa puas.
”Untung bukan aku. Kita pren ya, Lan. Sekilas info aku pengen yang brendi lagi, Lan.” Layung tau wawasan musik Wulan lebih luas daripada dirinya.
”Awas ya, Lan. Siap-siap minum air kolam renang kalo aku menang. Nih, Ta. Lo yang main, biar gue bisa ikut nebak.” Samudra memberikan gitarnya padaku setelah menyelesaikan satu lagu. Aku memutar otak lagu apa yang tidak akan bisa mereka tebak.
”Broken bottles in the hotel lobby… Seems to me like I'm just scared of never feeling it again… I know it's crazy to believe in silly things… But it's not that easy…”
”Aku. Coldplay ya?” Jawab Layung memotong.
”Ngarang! I remember it now.. it takes me back to when it all first started...” Jawabku sambil melanjutkan bernyanyi.
”Aku tau. Kodaline kan yang nyanyi. Tapi lupa judulnya.” tebak Wulan.
”Ohh aku tau. High hope, Kodaline.” jawab Pijar.
”Persis! Pilih Jar minum apaan.” jawabku sambil menyelesaikan lagu.
”Nih, Yung. Brendi to?” Pijar menuangkan minuman ke gelas Layung.
Lagu demi lagu dimainkan. Bergantian Sam, aku, Layung, dan Pijar melemparkan tebakan. Tidak terasa sudah semua minuman dibuka bahkan beberapa botol sudah kosong. Layung dan Samudra menjadi orang yang paling banyak minum. Wulan juga diam-diam kuat minum. Beberapa kali dia minta gelasnya diisi dengan red wine atau gin. Malam makin larut, udara dingin makin kuat berhembus tapi anehnya badanku terasa panas. Mungkin efek dari beberapa gelas vodka dan wiski yang tadi terpaksa ku minum, aku merasa senang dan bersemangat. Begitu juga Layung. Dia terlihat sangat gembira, memainkan gitarnya sambil menari-nari kesana kemari.
”Sam, panas gak sih?” tanya Layung.
”Itu kamu udah mulai mabuk, Yung. Kita ini lagi di gunung lho. Mana mungkin jam segini panas.” jawab Sam.
”Mabuk apaan, orang masih seger gini. Panas kan, Ta?” tanya Layung padaku.
”Iya lho. Gerah ya, Yung.” jawabku sambil mengibas-kibaskan tanganku.
”Nah, iya, kan? Abis ini renang yuk.” ajak Layung.
”Hush, besok masuk angin baru tau rasa.” jawab Wulan.
”Jar, Semesta sumuk (gerah) katanya. Enaknya diapain nih, Sam?” Layung melirik Pijar dan Samudra. Aku mulai curiga. Segera setelah itu aku berlari menjauh. Samudra dan Pijar menangkapku.
”Ayo ngadem dulu, Ta.” Mereka bertiga tertawa puas sambil menggotongku ke kolam renang. Aku meronta sebisanya, tapi ikut tertawa saja bersama mereka.
”Itungan ketiga ya guys. Satu.. dua.. tiga!” Wulan ikut-ikutan menghitung dan bersorak saat aku dilempar ke kolam renang. Tidak mau basah sendiri, aku menarik tangan Layung dan Samudra ikut masuk ke dalam kolam. Kami bertiga berenang tengah malam.
”Wahai Purnama! Semesta membuatku berenang tengah malam. Berikan padanya kutukan supaya ingusan tak sembuh-sembuh.” teriak Samudra pada rembulan.
”Wahai Purnama yang anggun! Samudra duluan yang melemparku ke kolam. Biarkan dia yang ingusan tujuh turunan!” teriakku menjawab Samudra.
”Wahai Purnama! Dua orang itu sudah gila. Jangan dengarkan mereka, dengarkan aku saja! Aku mau kaya raya seperti Pijar, Purnama! Pengen ganteng kaya Samudra, pengen pinter kaya Semesta, sama dicintai kaya Wulan. Bisa ya?” teriak Layung sepenuh hati. Dan kami semua menyambutnya dengan gelak tawa.
”Wah mabok nih anak orang. Ayo pada naik woy. Nanti masuk angin.” Pijar mendekat ke kolam renang sambil mengulurkan tangan, disusul oleh Wulan yang membawa handuk. Aku, Samudra, dan Layung berenang ke pinggir. Lalu kami menarik mereka berdua masuk ke kolam renang. Byuuurrr! Pijar dan Wulan ikut nyemplung ke kolam renang. Kami berlima tertawa di tengah dinginnya air kolam renang malam itu.
Sekitar sepuluh menit kami bermain air di kolam renang. Lalu kami mulai menggigil dan lelah tertawa. Saat naik dari kolam renang barulah kami sadar bahwa handuk kami saat ini sedang melantai di dasar kolam renang.
”Masuk dulu deh. Mandi air anget. Tak coba cariin handuk.” kata Pijar saat kami saling pandang geli melihat handuk di dasar kolam. Di dalam rumah ada tiga kamar mandi. Satu di kamar utama, satu dibawah tangga, satu lagi di lantai atas. Wulan menggunakan kamar mandi di lantai atas. Lalu kami berempat membagi diri masing-masing dua orang dalam satu kamar mandi.
”Yang penting angetin badan dulu. Ntar kalau udah gak terlalu menggigil cari handuk di lemari kamar.” kata Pijar sambil buru-buru masuk ke kamar mandi. Aku ikut Pijar ke kamar mandi kamar utama yang luas, biar Sam dan Layung berhimpitan di kamar mandi pembantu yang sempit itu.
”Ta, coba di lemari situ ada handuk gak?” tanya Pijar setelah kami cukup menghangatkan badan dibawah shower.
”Di sini isinya selimut, Jar. Di situ ada?” tanyaku pada Pijar yang membuka lemari lebih besar.
”Kosong. Yaudah pakai selimut aja ya. Ada banyak, kan?” jawab Pijar.
”Banyak sih. Cukup kayanya. Di kamar lain ada selimut lagi, kan?” tanyaku.
”Mungkin. Sini ah, dingin lagi nih. Ganti baju terus bikin kopi yuk.” Pijar merebut selimut yang kupakai lalu kembali lagi ke kamar mandi.
”Ta, dapet handuk?” tanya Sam padaku dari depan pintu kamar.
”Gak ada. Nih pakai selimut aja buat ngeringin badan.” kulempar selimut lain pada Sam lalu segera menyusul Pijar ke kamar mandi.
”Jar, di kamar Wulan ada selimut, kan?” tanyaku sekali lagi untuk memastikan.
”Gak tau, Ta. Aku kalau ke sini gak pernah tidur di atas. Abis ini coba ke atas sekalian bawain selimut to.” suruh Pijar. Aku khawatir Wulan pingsan kedinginan di atas karena dari tadi tak terdengar suara sama sekali dari sana. Jadi aku segera ganti baju dan naik ke kamar Wulan.