Warastra terus berkelit. Pada awal kemunculannya, ia beralasan hilangnya rembulan menjadi penyebab kekuatannya melemah. Tak lama kemudian alasannya berubah, ia tak bisa menggunakan kekuatan suci bulan karena sang candra melarangnya. Lalu sekarang ia berkata bahwa sesembahannya itu menginginkan dunia kami hancur dan ia tak bisa melawan kehendak itu. Kupikir usianya yang tampak sudah tua membuatnya menjadi bijak dan bisa memprediksi masa depan. Tapi sepertinya aku salah. Warastra terlihat seperti orang linglung yang sedang meraba-raba kenyataan. Aku curiga jangan-jangan apa yang selama ini ia sebut sebagai kehendak sang candra sebenarnya adalah asumsi dirinya sendiri. “Warastra, tolong katakan sejujurnya. Apa kau pernah berkomunikasi langsung dengan sang candra selama ini?” tanyaku pada

