Bab 12 - Inner Conflict (2)

1510 Kata
III. Pijar               Keluargaku memiliki bisnis tempat hiburan. Keluarga besar dari ayahku menggeluti bidang hiburan malam, sedang keluarga besar ibuku menjalankan bisnis ekspedisi laut dan ekspor impor berbagai makanan dan minuman ke luar dan ke dalam negeri. Tempat hiburan malam yang dikelola ayahku dan saudara-saudaranya adalah yang paling populer di kalangan anak muda. Tidak hanya di satu kota, hampir di semua cabang di seluruh kota besar di nusantara dan beberapa di negara tetangga menjadi tujuan utama para pecinta gemerlap malam menghamburkan uangnya. Berjayanya keluarga kami tidak terjadi dalam satu malam, ada kerja keras ayahku dan saudara-saudaranya mengembangkan bisnis sampai sebesar hari ini. Tapi yang dilihat oleh orang-orang hanya bagian terburuknya. Karena kakek buyutku penganut paham dinamisme, orang-orang yang iri pada keluarga kami menuduh keluarga kami melakukan praktik pesugihan. Mereka mengucilkan keluarga kami dan menyebarkan berbagai cerita bohong untuk mengusik kehidupan kami. Aku dan adik-adikku yang masih belum paham apa-apa yang menjadi korban. Kami sulit mendapat teman, diejek dan dimusuhi. Aku bahkan menjadi bulan-bulanan teman sekelasku. Puncaknya di suatu hari saat aku masih sekolah menengah pertama, teman sekelasku melempariku dengan buku, kotak pensil, dan apapun yang ada di atas meja sambil meneriakan “Anak Dukun! Pergi sana!” kepadaku yang baru saja memasuki ruang kelas. Aku langsung putar balik pulang sambil menangis dan tak mau lagi berangkat sekolah. Akhirnya keluargaku pindah ke daerah yang lebih tenang, jauh dari orang-orang yang membenci kami, jauh dari orang-orang yang hendak memanfaatkan kami. Meski sedikit di pelosok desa, tapi akhirnya ibu dan adik-adikku bisa menjalani hidupnya dengan normal. Tapi tidak untukku yang adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga kami.               Kepercayaan kakek buyutku sedikit berbeda. Tidak seperti orang-orang kebanyakan yang menyembah batu atau pohon besar, kakek buyutku menganggap purnama adalah dewa. Kepercayaannya diturunkan generasi ke generasi sampai saat ini. Entah ini kebetulan atau bukan, tapi bisnis keluarga kami memang beroperasi ketika bulan muncul. Jadi mau tak mau ayahku pun ikut menjalankan ritual-ritual kepercayaan itu. Tidak yang seperti orang-orang percaya bahwa keluarga kami melakukan pesugihan, ritual yang diajarkan kakek padaku dan ayah hanya untuk menyerap energi dari purnama. Kami tidak melakukan perjanjian dengan iblis maupun memberikan tumbal. Tidak sama sekali. Kami hanya bertapa di bawah sinar purnama, duduk diam membiarkan energi dari sinar purnama masuk ke sukma kami. Kata kakek, energi yang kami dapat dari purnama berguna untuk melindungi kami dari orang-orang jahat yang hendak mencelakai keluarga kami. Karna bisnis kami yang penuh dengan persaingan kotor, kurasa masuk akal bila kakek dan ayahku mengupayakan segala hal untuk keselamatan keluarga dan bisnis kami. Ritual itu masih berjalan hingga sekarang. Dan hanya dilakukan oleh para lelaki di keluarga kami. Itulah kenapa pundakku terasa berat. Aku sudah merasakan sendiri bagaimana kejamnya pandangan orang pada keluarga kami karena kepercayaan itu. Aku tak mau keluarga kecilku nanti juga merasakan hal yang sama. Dan di jaman yang serba canggih ini, siapa pula yang masih percaya pada paham jadul dari jaman purba begitu. Jika tujuannya untuk melindungi keluarga dan bisnis, aku akan melakukannya dengan jalur yang benar. Itulah kenapa aku memilih jurusan hukum dan kuliah di luar kota. Aku ingin menjauh dan menjalani hidup sebagaimana orang lain seusiaku. Aku berusaha menyembunyikan bisnis keluargaku agar kejadian dulu tak terulang kembali. Hidup sederhana agar tak dimanfaatkan orang lain dan berteman dengan orang-orang yang bisa kupercaya saja. Tapi sekarang malah jadi seperti ini. Benar-benar mala petaka. Penjelasan Samudra tentang isi buku itu membuatku merinding. Walaupun ceritanya tak sama persis dengan paham kakek buyutku, tapi badanku terasa seperti tersambar petir saat Samudra mengatakan purnama setara dewa. Cepat atau lambat Semesta dan Layung pasti juga akan mencurigaiku karena beberapa kali aku menceritakan masalah kepercayaan keluargaku pada mereka. Belum lagi saat Semesta menyebutkan kata tumbal, jantungku terasa berhenti. Aku takut mereka mengaitkannya padaku dan keluargaku semudah yang dulu orang-orang itu lakukan. Aku belum siap untuk mendengar tuduhan dari mereka. Meski dari lubuk hatiku yang terdalam yakin mereka takkan menuduhku tanpa bukti, tapi traumaku semasa kecil terlalu membekas. Tanpa alasan yang jelas aku merasa Sam, Semesta, dan Layung menatapku dengan curiga. Aku tak bisa memikirkan apapun. Aku tak tau harus bagaimana untuk menghindari tuduhan. Semesta adalah orang yang cerdas, dia selalu bisa menyelesaikan masalah dengan solusi terbaik. Dia juga bukan tipe yang suka menghakimi sembarangan. Tapi sejak kejadian di pulau itu aku merasa dia selalu menghindariku. Samudra juga begitu. Aku berulang kali mengajaknya bicara tapi dia hanya diam tak menganggapku sama sekali. Padahal Samudra tak pernah mengacuhkanku seperti ini. Dia selalu supportif padaku, aku bahkan sudah menganggapnya seperti adik laki-lakiku sendiri. Tapi kenapa jadi seperti ini? Apa mereka berdua sudah mencurigaiku? Apa Layung juga sama? Layung yang paling tahu tentang aku, kami sangat dekat. Tak mungkin Layung sampai menaruh curiga padaku. Dia adalah orang yang paling realistis di antara kami. Dia pasti lebih bisa objektif, tak seperti Semesta yang menggila karena kehilangan Wulan atau Samudra yang menyebabkan bulan yang dicintainya juga lenyap. Aku harus mendekati Layung. Aku tak mau sampai tersingkir dari perkumpulan ini.   IV. Samudra               Aku sudah membaca buku itu berulang-ulang. Aku merasa ada yang unik dari buku itu sejak pertama kali aku menemukannya. Saat pertama membacanya, aku tak mengerti apa maksud dari buku itu. Jika buku itu ditulis sebagai novel, kenapa tak ada konflik yang dimunculkan dalam cerita. Bila buku itu adalah buku non fiksi, kenapa sangat imajinatif seperti sebuah dongeng. Aku lalu membaca ulang buku itu sampai hapal kata demi kata. Mencari arti dan menebak-nebak apakah ada maksud tersembunyi di balik kalimat-kalimatnya. Halaman demi halaman tertulis dengan apik, bahasanya bukan bahasa sehari-hari namun malah membuatku semakin tertantang untuk bisa memahami maksudnya. Pada akhirnya buku ini malah berhasil membuatku terpesona oleh cerita tentang bulan yang belum pernah k****a sebelumnya. Meski pun terasa sangat tak masuk akal tapi aku ingin mencoba untuk mempercayainya. Terutama karena iming-iming kekuatan di dalamnya. Aku yakin aku dan purnama memiliki ikatan khusus. Setelah aku mengetahui tentang seseorang yang dipilih rembulan secara langsung, aku merasa bisa jadi itu adalah aku. Kekuatan suci yang diberikan bulan bisa membuat seseorang menjadikan purnama muncul setiap hari di negrinya. Bila benar begitu aku tak perlu menunggu sebulan sekali untuk merayakan purnama. Aku bisa melihat purnama setiap hari, setiap hari!               Kuakui aku menjadi serakah. Awalnya aku sama sekali tak mempercayai buku itu, tapi semakin dalam aku memahami buku itu semakin aku yakin buku itu adalah benar, aku harap kekuatan itu menjadi nyata, aku menginginkan kekuatan itu menjadi milikku. Aku mulai gelisah, mencari cara untuk bisa mendapatkan kekuatan itu tapi di buku tak dijelaskan apapun selain akan dipilih langsung oleh sang rembulan. Meski aku yakin aku memiliki ikatan khusus dengan purnama tapi aku tak merasa memiliki kekuatan apapun tersimpan dalam tubuhku. Di halaman terakhir buku itu, ada sejumlah coretan tulisan tangan. Tanpa Judul tanpa penjelasan. Aku menebak itu adalah tulisan tangan pemilik buku sebelum aku. Tulisan seseorang yang juga mempercayai buku ini dan pasti menginginkan kekuatan yang sama. Bahasa yang digunakan berbeda dengan yang ada di dalam buku, aku tak mengerti mengapa. Hanya bisa mengira-ngira maksudnya, menyambung-nyambungkan dengan isi buku. Terbesit pikiran bisa saja tulisan tangan itu adalah mantra untuk mendapatkan kekuatan bulan. Gagasan itu terus menghantuiku, membuat penasaran. Bagaimana bila benar berhasil mendapatkan kekuatan bulan dengan membacanya langsung saat purnama? Bukankah purnama pertama akan mengabulkan harapan-harapan manusia? Dengan bisikan-bisikan yang makin lama makin lantang, aku merasa mendapat dorongan kuat untuk membacakan tulisan tangan itu. Apalagi ketika aku yakin gerhana langka malam itu adalah kemunculan purnama kedua, purnama yang lebih kuat seperti yang tertera di buku.               Sesaat setelah aku memutuskan untuk membaca coretan itu, badanku terasa bergerak dengan sendirinya. Gestur yang kulakukan, nada yang kugunakan, terjadi begitu saja bukan atas kehendakku sendiri. Sesuatu membuatku melakukannya seperti itu. Aku memang biasa melakukan hal-hal impulsif tanpa pikir panjang. Tapi yang kulakukan hari itu tak pernah terbesit sedikitpun di pikiranku. Aku melihatnya seperti mimpi, tiba-tiba aku sudah selesai membacakan mantra itu. Lalu angin ribut datang, petir menyambar-nyambar, dan rembulan dengan sangat mengerikan terlumat habis oleh kegelapan. Badanku kaku dan tak bisa kugerakkan, suaraku tertahan tak mau keluar. Aku kehilangan kendali atas tubuhku, sama sekali tak punya kuasa untuk menggerakkan seujung kuku. Bahkan ketika Wulan tersedot pusaran angin, aku tak bisa pasang badan menahan tangannya. Aku pun tak bisa melindungi diriku sendiri dari amuk Semesta. Kepalaku sibuk mencari penyebab kenapa ini terjadi, kesalahan apa yang telah kuperbuat.               Aku merasa malu dan sangat t***l. Aku tak percaya telah membuang akal sehatku untuk sebuah buku yang tak jelas siapa penulisnya. Tergiur sebuah kekuatan untuk memiliki purnama dalam genggaman. Terperdaya sebuah buku yang kini hilang entah kemana. Tanpa sadar aku telah mempercayai mentah-mentah semua yang tertulis dalam buku. Aku sangat malu mengakui itu pada Semesta, Pijar dan Layung. Mereka ikut merasakan imbas dari kecerobohanku. Mungkin juga seluruh dunia. Saat Semesta menceritakan peringatan dari Pak Risman. Saat itu aku menyadari, badanku telah tersihir sesuatu. Mantra yang k****a adalah sebuah jebakan. Bukan, buku itu adalah sebuah jebakan. Aku telah dibodohi dengan sangat licik. Seseorang memanfaatkanku untuk menyembunyikan bulan. Seseorang yang tahu aku sangat menggilai purnama. Seseorang yang tahu aku akan tergoda oleh kekuatan dalam buku. Besar kemungkinan orang itu adalah orang yang sama yang telah menculik Wulan. Kejahatan sempurna, menyembunyikan bulan dan menculik seorang gadis. Siapa? Seseorang di antara kami malam itu?  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN